
Rasa khawatir masih merambati hati, bahkan bayi yang dilahirkan Laura masih dalam ruangan PICU, perawatan intensive karena kondisinya belum siap dilahirkan. Seharusnya tiga minggu lagi. Entah apa yang terjadi padanya. Kalau kemarin aku tidak peduli, tapi hari ini aku ingin tahu apa yang menyebabkan Laura harus kehilangan kesadaran. Penyebab dia tertekan seperti yang dikatakan Dokter Fitrah.
Bolehkah aku lancang mencari tahu semuanya. Aku tidak bisa berbohong, bahwa Keberadaan Laura sudah mempengaruhi pikiranku. Aku ingin memasti kan bahwa wanita itu baik-baik saja. Sejak kedatangannya kerumahku dengan janin yang belum terlihat, mengingatkan aku tentang wajah sedihnya.
Mama banyak cerita tentang keadaan Laura, penyebab wanita itu tinggal di rumahku. Iba, itulah perasaanku pada awalnya. Seharusnya dia menyambutnya dengan suka cita. Bayi laki-laki itu hadir dengan cinta. Bukan dengan terpaksa, hingga keadaannya tidak diinginkan.
Laura sadar, bayinya juga mengalami perkembangan yang baik. Dokter mengijinkan mereka pulang dua hari lagi kalau tidak ada apa-apa. Mama yang menemani Laura begitu terlihat bahagia. Aku ingin melihat wajah mungil itu setiap saat. Tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapa diantara mereka. keberadaanku disini hanya karena aku peduli. Sekedar mencari tahu bukan untuk mencampuri tidak salah bukan.
Hari ini aku berkunjung ke tempat Azka, ingin menanyakan pada waitress dan satpam yang berjaga. Seorang waitress tidak bisa memberikan informasi apa-apa, karena ketika kejadian dia tidak ada di tempat. Tapi sudah memberikan aku beberapa petunjuk hingga rekaman CCTV yang ada disana. Mungkin aku bisa memberikan kesimpulan dari data-data yang aku kumpulkan tadi.
Azka sudah memberiku ijin untuk melakukan wawancara singkat pada karyawannya. Salah satunya Nina, orang yang paling dekat dengan Laura. Mungkin dia tahu sesuatu.
“Orang yang waktu itu masuk keruangan Mbak Laura, laki-laki Pak, perawakannya tinggi, rambutnya modelan kayak Pak Arga. Setelah bapak itu keluar, Mbak Laura manggil saya sambil jongkok di lantai. Minta dibuatkan teh hangat” keterangan Nina membuat ku sedikit berpikir apakah orang itu adalah orang yang sama yang di datang sebelum kejadian itu. “ Yang kemarin saya tidak tahu pak, soalnya saya sift pagi, kejadiannya sore. Tapi katanya teman saya ada Orang yang keluar ruangan Mbak Laura, setelah itu Pak Arga datang buru-buru masuk. Mereka panik setelah tahu Mbak Laura pingsan” kuat dugaanku kalau laki-laki itu adalah orang yang sama.
Rekaman CCTV adalah berikutnya, aku sudah meminta orang untuk mengecek kejadian sore itu. benar saja, aku tahu laki-laki yang berjalan santai menunju ruangan Laura. Dia mantan suaminya, aku mengenal wajahnya ketika aku mengantar Mama ke acara pernikahan Laura dulu.
__ADS_1
Tapi mengapa sampai membuat Laura tertekan, apakah wanita itu trauma, atau jangan-jangan dia melakukan kekerasan secara fisik dan verbal. Aku tarik nafas, asalkan aku sudah tahu apa yang menjadi penyebabnya. Setelah ini aku tidak ingin dia datang mendekati Laura lagi, kecuali Laura sendiri yang menginginkannya.
Mengapa seolah takdir tidak berpihak pada wanita malang itu, bahkan sejauh ini mantan suaminya masih saja mengganggu. Kalaulah aku punya kuasa, aku ingin bertanya apa yang laki-laki itu lakukan sampai harus tertekan. Selama dia tinggal dirumahku, keselamatan mereka adalah tanggung jawabku. aku tidak ingin terjadi hal yang buruk.
***
Hari ini mereka di perbolehkan pulang setelah dua hari masa kritis dan empat hari masa pemulihan. Aku orang yang paling bahagia. Dan satu lagi mahluk sekutu Mama paling cerewet datang. Menjemput kepulangan Laura setelah tiga hari yang lalu datang, sengaja mengambil cuti tahunan.
“Kamu jalan sama Mama, aku yang gendong Shaka” Siapa lagi wanita keras kepala, kalau bukan Chintya.
“Mas Arga bawain barangnya Laura” Bocah itu memerintah dengan seenaknya. Aku lebarkan mata menatapnya. Cukup untuk memberitahu kalau aku tidak suka perintahnya. Kalau bersuara bisa habis di marahi Mama. “Ma, Mas Arga tidak mau bawain barangnya, tuh matanya melotot” Pakai acara ngadu lagi. Kalau tidak ada Mama habis aku lakban mulutnya, menyebalkan.
“Biar Ibu sama bapak yang bawa ke Mobil” tiba-tiba Ibunya Laura hendak mengambil barang-barang yang sudah rapi diatas brankar. Aku mencegahnya, dimana harga diriku sebagai laki-laki kalau bawa barang segitu saja tidak mampu. Bisa dapat malu aku.
“Tidak apa-apa Bu, biar saya saja. Jangan percaya omongan Chintya. Dia suka berlebihan memang” ucapku sopan. Disambut senyuman ramah dari Ibu.
__ADS_1
Ibu sama bapak sudah seminggu disini. Datang hanya untuk menemani Laura. Dan benar saja kedatangan dua orang itu membuat binar bahagia di wajah Laura berseri. Seolah duka yang kemarin di rasakannya sudah hilang.
“Biar Bapak bantu” Tiba-tiba Bapak berada di depanku, mengambil beberapa tas yang tidak muat di tangan. Setidaknya aku sudah membawa yang berat. Hingga bapak kebagian yang ringan saja.
Kami tiba dirumah ketika hari sudah sore, setelah mampir di rumah makan sekedar mengisi perut karena mama melarang Bi Sumi masak. Biar semua orang bisa langsung istirahat, katanya. Untuk sementara Laura tidur dengan Bapak Ibu diatas. Sekalian biar bisa bantuin kalau bayinya rewel tengah malam. Untuk yang satu ini, itu permintaan Laura. Karena dia juga belum tahu caranya mengatasi bayi nangis.
Aku juga menginap disini, terlalu lelah kalau harus pulang ke apartemen. Ternyata mondar-mandir apartemen rumah sakit setelah seminggu baru terasa badanku pegal semua. Bukan atas perintah Mama aku melakukan semuanya, tapi atas kemauanku sendiri. Melihat wajah shaka seolah aku menemukan kedamaian dalam tidurnya. Melepaskan penatku seharian setelah berkutat dengan laporan dan meeting.
Aku tak menyumbang apapun atas kehadiran bayi shaka dalam bentuk biologis. Tapi bathinku ingin selalu berdekatan dengannya. Menciumnya setiap saat. Aroma tubuhnya membuat ku candu.
Sayangnya malam ini kami harus berpisah tidur. Aku yang biasanya menggenggam jari mungil itu ketika kami bertatapan sebelum ahirnya terlelap. Malu rasanya ketika aku tertidur bersandar pada box bayi shaka. aku akan menerima tatapan lucu dari Mama, Ibu dan tentu saja chintya ketika mataku terbuka. Apakah ada yang sama, ketika menatap bayi mungil itu mataku selalu ingin terpejam, tiba-tiba saja kantuk datang.
Aku akan berpamitan padanya besok sebelum berangkat ke kantor. Jagoan kecil itu pasti senang kalau aku menyapanya. Suatu saat nanti, jika Tuhan mentakdirkan aku untuk menikah dan punya anak semoga anakku laki-laki kuat dan lucu seperti Shaka.
Malam ini aku sulit terlelap. Mataku sudah terpejam dari tadi. Tapi pikiranku masih terbayang wajah bayi itu. Seandainya aku bisa menggenggam jarinya seperti kemarin tentu dari tadi aku sudah terbuai mimpi indah. Selamat malam jagoan kecil, besok kita bermain lagi.
__ADS_1