KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
LEMBUR DADAKAN


__ADS_3

“Minggu depan kita pulang Ra, anaknya budemu nikah. Nggak enak kalau tidak datang” Ibuku membuka percakapan pagi ini. di meja makan ketika aku menyuapi Shaka. Yang punya hajatan itu adiknya ibu.


“Aku ajukan cuti dulu bu, paling di setujui tiga hari. Nggak apa-apa kan?” Meskipun aku sangat jarang mengambil cuti setelah melahirkan, rasanya tidak enak kalau meminta ijin terlalu lama. Meskipun Mas Azka orang yang tidak pernah ribet dalam hal percutian karyawan. Asalkan alasannya jelas dia akan menyetujui dengan gampang.


“Seminggu Ra, Ibu kangen rumah. Masih belum keliling bertemu saudara. Ibu sama Bapak mau memperkenalkan Shaka ke mereka, kalau tiga hari mana cukup” Ah, Ibu benar. Aku seharusnya tahu kalau anakku belum mengenal banyak orang. Anakku lahir hingga menginjak usia tiga tahun masih belum pernah diajak pulang.


“Laura coba ya Bu. mudah-mudahan bisa” Harapanku juga, ingin nostalgia dengan kota kelahiranku. Tampat aku dibesarkan hingga masuk dunia kerja pertama kali. Tempat aku mengenal bahagia lewat cinta. Dan mengalami kesakitan yang luar biasa di waktu bersamaan. Kalau dulu mungkin aku tidak akan menginjakkan kakiku disana. Sekarang aku akan datang seringan langkahku, menatap mereka yang sempat mencibirku karena usia pernikahan yang hanya bertahan enam bulan. Dianggap wanita yang tidak bisa mengambil hati mertua hingga harus di usir. Bahkan tidak sedkit yang menganggap kalau aku hamil sebelum menikah dengan Mas farhan, kasarnya aku dianggap wanita murahan.


Aku kerjakan semua dengan cepat dan rapi sebelum aku mangambil cuti. Tiga hari aku melembur laporan bulanan demi bisa menikmati liburan dengan tenang tanpa di kejar dead line. Ijin cutiku seminggu sudah disetujui Mas Azka seperti dugaanku. Oleh sebab itu aku tidak ingin meninggalkan pekerjaan ketika waktu cuti itu datang. Sebagai bentuk terima kasihku pada pemilik restoran ini, karena sudah membrikanku cuti seminggu tanpa drama.


Jam di dinding menunjukkan angka lima lewat lima belas, aku renggangkan punggung setelah mengecek ulang laporan yang baru saja aku input. Berjalan ke jendela dengan gelas air minum di tangan. Menatap jalanan kota surabaya di sore hari. Aku bisa lebih jelas melihat kemacetan, karena restoran ini terletak di pusat kota. Kerlip berwarna merah dari lampu kendaraan menambah pemandangan yang menyenangkan bagiku, tapi tidak bagi mereka yang berada ditengah jalan menunggu keluar dari kemacetan. Rasa bosan tentu sudah menjadi sahabat sehari-hari. Siapapun tidak akan betah berlama-lama berada ditengah jalan dengan kemacetan panjang sekalipun berada di dalam mobil yang memiliki fitur dan fasilitas canggih.


Aku tarik nafas, menghembuskan perlahan, aku pernah terjebak dalam kemacetan hidup. Seolah duniaku berhenti ketika ketukan palu hakim mengesahkan statusku. Janda muda dengan seorang janin yang masih berada di dalam perut. Aku tidak tahu harus melangkah maju atau mundur, ataukah harus berhenti saat itu juga. Kalau bukan memikirkan kehidupan dalam perutku, sudah pasti aku akan mengahiri hidup. Rencana itu berulang kali berdengung di telinga. Bagai bisikan yang mencekam di setiap tidurku, hingga aku selalu terbangun dengan keringat yang membasahi tubuh.


“Ra, mas boleh masuk?” Suara Mas Azka membangunkanku dari ingatan masa lalu. Ku hampiri pintu memutar handle. Wajah panik dengan senyum yang di pakasakan se ikhlas mungkin. “Mas duduk ya” Berjalan ke sofa di ruang kerjaku.


“Wajah Mas Azka kenapa sih, bikin aku panik tahu nggak” Aku tidak berbohong, datang dengannafas memburu dan wajah panik, meskipun di hiasi senyuman, tidak serta merta membuatku bisa bernafas lega.


“Kamu cuti kapan?”


“Mulai besok, kok bisa lupa?” Apa hubungannya cutiku dengan kepanikannya coba.


“Sebentar lagi ada klien yang mau datang buat pakai catering di restoran kita, sekalian tester makanan. Itu artinya bicara harga juga. Kalau bisa cutimu dimundurkan ya, bantu aku bertemu mereka” Sekarang aku yang panik, jadwalku sudah ku atur dan semua barang persiapan sudah matang. Bahkan ibu sudah membeli banyak oleh-oleh buat saudara, bagaimana ceritanya isa ditunda.

__ADS_1


“Kok mendadak gini Mas, saya sudah janji sama ibu. acaranya besok malam” Memundurkan waktu sehari sama saja merombak semua rencana. Aku harus bilang apa sama ibu. dia pasti akan kecewa.


“ini yang punya acara anaknya Pengusaha surabaya Ra, sayang kalau kita tolak. Pertunangannya mewah di hotel berbintang. Satu jam lagi mereka datang untuk melihat menu disini” Mendapat tawaran seperti ini bukan suatu hal yang baru bagi Mas Azka, yang aneh itu waktunya yang kilat banget. Bagaimana bisa acara besok kateringnya baru di sediakan sekarang. apa acara pertunangannya dadakan, kalau yang ini kayaknya mustahil.


“Aneh banget, orang kaya acaranya dadakan masak nggak ada persiapan sebelumnya”


“Ceritanya, dia terlanjur mengcancel sama EO yang sebelumnya karena ada masalah sama calon lakinya. Tahu-tahu sudah clear mau dilanjutkan. Tapi EOnya sudah terlanjur ambil job di tempat lain waktunya barengan” Penjelasn Mas Azka tidak langsung membuatku percaya begitu saja. Tapi mau bagaimana lagi.


“ Tolak Mas,bilang tidak bisa gitu. Atau Mas Azka yang handle”


“Laura, Mas mohon. Kali ini saja, yang datang itu nanti pengusaha sama pejabat. Bagus buat porspek restoran kita” Lanjutnya dengan memohon.


“Apa saya punya pilihan”


Setelahnya terdengar ketukan di pintu, Rahmat seorang pegawai dari bagian dapur muncul di depan pintu.


“Maaf Pak Azka, ditunggu di ruang meeting sama klien. Katanya sudah buat janji dengan pak Azka” Ucapnya sopan.


“Kamu temui mereka saya segera kesana” Wajahnya benar-benar antusias seketika menoleh kepadaku. “ Orangnya sudah datang, kita kesana. Kamu bawa apa yang catatan kecil saja urusan menu yang dia pesan nanti biar bicara langsung sama chief kita.”lanjutnya lagi. Kemudian dia berjalan mendahuluiku. Mudah-mudahan klien yang ini tidak rewel biar meetingnya cepat selesai.


“Jadi ini menu andalan kita pak, sesuai dengan lidah orang indonesia. Kalau menurut pengalaman kami di beberapa event. Makanan ini yang banyak peminatnya” menunjuk beberapa sample makanan yang tersedia di meja.


Restoran ini memang menyediakan makanan lokal dengan cita rasa yang sangat luar biasa. Makanya banyak orang yang sering memesan di tempat kami. Soto, bakso, sate, zupa soup, nasi goreng, dan aneka seafood dengan pengolahan yang benar-benar indonesia banget. Ada es buah dan puding juga tersedia disana. Tentu saja eskrim yang menjadi makanan paling banyak di buru.

__ADS_1


Satu persatu mereka mencicipi dengan sendok yang disediakan Mbak Desi dan Mas Ozil selaku koki kami. Ketegangan meliputi wajah Mas Azka, aku tahu karena ini adalah klien kakapnya jadi kekhawatiran itu wajar.


Yang hadir di pertemuan ini hanya ada ibu dan ayah dari calon wanita, karena putrinya berhalangan hadir itulah yang diceritakan di awal perkenalan kami. Orang berkelas itu memang beda, terlihat dari caranya berbicara, duduk, bahkan caranya menyendok makanan pun memang terlihat berkelas. Wajah pasangan ini cantik dan tampan walaupun usia mereka tidak lagi muda. Aku yakin putrinya juga pasti sangat cantik.


“Kalau Mama cocok semua Pa, pilih saja dua belas menu. Mama yakin tamu undangan juga suka” Wanita yang memakai baju biru dengan rok selutut warna hitam itu bersuara.


“Kalau Papa terserah Mama saja, urusan yang beginian istri saya memang ahlinya Mas” merujuk Mas Azka. Dijawab dengan wajah bahagia dan anggukan kepala. Bagaimana tidak bahagia, kekapnya sudah tertangkap dengan sempurna.


“Baik Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan kalian” mereka berjabatan tangan setelah berbicara tentang jumlah undangan yang akan hadir. Dan menu apa saja yang akan di sajikan.


“Saya yakin, Mas Azka ini sangat profesional meskipun kami meminta dalam waktu yang sangat mepet. Teman saya yang merekomendasikan tempat ini ke saya” Wanita itu memuji Mas Azka. Baiklah Mas, pertahankan senyummu itu. Abaikan saja aku yang telanjur membuat janji pada Ayah dan Ibu. membayangkan wajah kecewa mereka sedang menari di benak. Kontras dengan senyum bahagia bosku di depan mataku sekarang.


“Tentu saja, Bapak tenang saja. Kami akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk pesta pertunangan anak Bapak” Kalimat penutup yang sempurna dari Mas Azka. Aku yang mendadak tidak enak hati. Bagaimana cara , menyampaikan penundaan kepulanganku sama Ibu.


“Yang tunangan itu temanku Ra, jadi aku nanti datang sebagai undangan. acaranya besok siang. Kalau tidak keberatan kamu gantikan aku mengawasi semuanya ya, bantu Desi sama mas Ozil” Titahnya dengan santai tanpa beban.


“Cutiku kapan?” Nah,kan. Ibarat kata habis dikasih hati malah minta Ampela. Untung dia baik. Kalau tidak, bodoh amat dengan perintahnya aku tinggal pulang saja.


“Sore sudah selesai kok, kamu langsung pulang. Biar anak-anak yang beresin”


Aku harus menyiapkan kata yang tepat untuk Ibu, agar wanita yang melahirkanku itu tidak tersinggung. Alasan yang kuat tidak akan cukup kalau menyangkut waktu.


Aku melangkah gontai menuju ruang kerja, mengambil tas dan pulang. Maafkan anakmu Bu, kadang waktu memang terlalu kejam memperlakukan kita. Alah lebay aku.

__ADS_1


__ADS_2