
Hatiku sedih dan bahagia di saat bersamaan. Tapi lega banget rasanya setelah bertemu mantan Ibu mertuaku. Melihat kondisinya aku benar-benar prihatin. Dan Papa yang mengurusnya pun sangat sabar. Aku melihat wajah Papa lebih kurus hingga terlihat lebih tua. Begitupun dengan Mamanya Mas Farhan, kulit kencang karena rutin perawatan itu sudah hilang berganti keriput dan kerutan di beberapa bagian wajahnya.
Hidup manusia tidak ada yang tahu, dugaanku akan mendapatkan perlakuan tidak enak seperti dulu sirna seketika. Berganti iba melihat keadaan mereka sekarang.
STerkadang cobaan itu datang untuk menegur kesombongan umatnya. Bentuk kasih sayang Tuhan terhadap kita karena dianggap melangkah terlalu jauh dari jalan yang di kehendakiNya. Cukuplah menjadi pribadi yang sederhana, agar ketika terjatuh tidak terlalu sakit.
Siang ini aku hanya istirahat di rumah, karena jadwal berkunjung kerumah saudara akan di lakukan sore hari. Aku baru selesai menyuapi Shaka ketika gawaiku berdering cukup nyaring. Belum sempat aku angkat karena panggilan itu sudah berahir pas aku akan mengangkatnya.
Dari nomor baru, tapi berkirim pesan lewat chat di aplikasi warna hijau. “Saya Miranda, saya ingin bertemu, saya harap kamu bisa meluangkan waktu. Ada yang harus saya sampaikan ini sangat penting” Mendadak perasaanku tidak enak. Aku memang tidak pernah menyimpan nomor HP istrinya Mas Farhan. Karena aku rasa memang tidak perlu. Apa kira-kira yang akan di bicarakan. Aku yakin ini terkait dengan kedekatan aku dan mantan suamiku. Atau jangan-jangan dia marah karena aku bertemu dengan suaminya tanpa melibatkan Miranda.
Disinilah aku, sebuah rumah makan lalapan terkenal di kota ini. penataan yang sangat apaik dengan ornammen dari lampion terlihat sangat cantik. Karena ini masih siang, lampion itu belum menyala aku hanya melihat jejerannya tanpa nyala lampu, tapi itu sudah cukup enak dilihat.
Aku tiba terlebih dahulu demi profesionalitas. Karena aku tidak ingin datang terlambat hingga Miranda menyangka aku mengulur waktu. Ini menyangkut perasaan ku dan Miranda. Aku sudah menghubunginya dua puluh menit yang lalu, sudah di baca tapi belum mendapat balasan. Mengabarkan kalau aku sudah datang sekalian memberitahu posisi duduk agar ketika dia datang nanti tidak bingung.
Miranda berdiri di pintu, tatapannya berkeliling mencariku. Aku berdiri melambaikan tangan. Memilih tempat di pojokan ruangan yang jauh dari keramaian. Menghindari hal buruk, mana tahu Istrinya Mas Farhan mengajakku berdebat sengit, hingga jambak-jambakan mungkin. Mengingat karakter Miranda yang tidak bisa menahan emosi.
Di beberapa pertemuanku dengannya pun selalu di warnai dengan kejadian tidak mengenakkan. Membentak dan menuduhku yang tidak-tidak ketika bertemu di parkiran Bank. Dan pertemuan terahir di rumah sakit, sudah cukup memberikan gambaran betapa wanita ini memang tidak menginginkanku berada di sekitar suaminya, apapun alasannya.
“Apa kabar Laura” Membuka pembicaraan dengan wajah penuh ketegangan. Aku tidak melihat raut benci, hanya serius itu saja.
“Baik, aku tidak menyangka akan mendapat undangan seperti ini” Ujarku basa-basi.
__ADS_1
“Oh, kebetulan sekarang jam makan siang mau pesan apa?” Tanyanya, tatapannya pada buku menu yang dia bolak balik dengan serius.
“Samakan saja, aku tidak tahu menu yang enak disini apa” Jawabku santai saja. Padahal aku tidak berbohong kalau dari tadi aku memasang ke waspadaan tinggi. Wanita dengan kemeja kotak dan celana coklat ini sulit di tebak.
“Ayam goreng kribo. Dan jus jeruk?” Tanyanya. tangannya sudah bersiap mencatat pada buku pesanan. Aku hanya mengangguk. Paling juga nanti tidak akan kemakan. Kalau perbincangan kami tidak enak tentu saja imbasnya pada selera makan bukan. Siapa yang bisa memasukkan makanan ke dalam mulut dalam keadaan tegang.
“Jadi ada apa?” Tembakku langsung. Aku tahu dia tidak mungin iseng mengajakku makan kalau tidak ingin membicarakan hal tentang aku dan suaminya.
“Jauhi suamiku” Ucapnya dengan menyenderkan badan di kursi dan tangan saling bertaut, jangan lupakan tatapan sinis khas seorang Miranda.
“Bukankah selama ini sudah aku lakukan” Tentu saja aku tidak mau kalah, apa maksudnya dengan menjauhi. Kami tidak tinggal satu kota.
“Sudah aku lakukan dari dulu, kalau tentang Shaka, dia tidak mungkin menjauhi Ayahnya. Atas permintaan Mas Farhan sendiri bahwa dia tidak ingin melewatkan tumbuh kembang Shaka. aku tidak bisa menolak. Bagaimanapun mereka terlibat hubungan biologis” Mengingatkan wanita berambut se bahu ini bahwa, permintaan menjauh antara aku dengan Mas Farhan karena Shaka, bukan karena aku masih menginginkan suaminya.
“Itulah yang aku inginkan. Menjauhlah dari kehidupan kami. Sekalipun itu atas nama anak” Wajahnya mulai memerah. “ Jangan menjadikan Shaka sebagai alasan untuk mendekati suami orang, kamu wanita pasti tahu bagaimana rasanya ketika suami masih berhubungan dengan mantan istrinya, itu sangat menyakitkan. Aku mohon dengan segala kerendahan hati, biarkan rumah tangga kami tenang. Kamu mengerti maksudku kan?” Suaranya memang merendah tapi tatapan Miranda menghujam sampai kejantung. Apalagi dia menuduhku mendekati suaminya.
“Kenapa kamu tidak bilang sendiri sama Mas Farhan, Karena atas keinginannya aku masih berkabar seputar keseharian Shaka, tidak lebih”
“Kalau aku bisa, aku tidak akan menemuimu disini. Dia hanya akan membentakku jika membahas tentang kalian. Aku tidak bisa melawan Ra, dengan kondisiku yang sekarang, Mas Farhan bisa meninggalkan aku kapan saja” Suaranya mulai sendu. Matanya tak lagi tajam menatapku. Dia menunduk menyembunyikan matanya yang mulai berembun.
“Aku tidak bisa, Mir. Maaf, Bagaimanapun Mas Farhan itu Ayah kandung Shaka” Karena memang aku tidak punya cara, bagaimana mengabulkan keinginan Miranda. “Tapi tenang saja. Diantara aku dan Mas Farhan, hubungan kami hanya tentang Shaka tidak lebih. Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa” Mencoba menenangkan Miranda. Karena memang begitu kenyataannya.
__ADS_1
“Aku akan mengambil alih hak asuh Shaka kalau itu bisa membuatmu menjauh” Deretan kalimat Miranda bagaikan sayatan pisau tepat menghujam di jantungku. Ucapan itu lantang terdengar sampai ke telingaku menusuk bagian yang pernah terluka kini harus menganga kembali.
“Kamu tidak akan bisa melakukannya, dan Mas Farhan tidak akan menyetujui itu” Ini hanya kalimat penghiburan untukku saja. Wanita ini hanya mengancamku, kan.
“Aku bisa menyewa pengacara untuk melakukannya. Mas Farhan pasti menyetujui ideku. Jangan khawatir dengan kehidupan Shaka aku jamin dia akan bahagia dengan kami” Enteng sekali bibir Miranda berucap dia pikir aku wanita bodoh yang bisa dia akali. Aku memang tidak mengerti hukum, aku yakin mereka tidak akan bisa melakukannya.
“Shaka tidak diinginkan suamimu ketika masih dalam kandungan. Dia menyuruhku mengugurkan. Mungkin kamu belum tahu faktanya. Dia dan ibunya punya pendapat yang sama. Itulah yang menjadi penyebab perceraian kami. Aku pergi dengan Shaka yang tidak mereka ketahui. Dan sekarang datang dengan seenaknya ingin mengambil Shaka. aku tidak akan tinggal diam” Dia yang menyulut amarahku. Mengingingatkanku tentang luka yang sudah aku lupakan.
Wanita di depanku ini terkejut, matanya membuka lebar. “Apakah kamu pikir aku mengarang cerita, tapi itulah kejadian yang sebenarnya” Aku lanjutkan lagi biar semakin membuat bola matanya melebar. Aku tidak peduli dengan apapun aku hanya ingin Shaka, dia adalah hartaku yang paling berharga.
“Bukankah kamu pergi dengan laki-laki lain, kamu berselingkuh dengan Arga?” Ya Tuhan, cerita apalagi ini. bagaimana wanita ini bisa membuat cerita menjijikkan “ Dan Mas Farhan merasa bertanggung jawab hanya karena dia masih menginginkanmu kembali padanya. Kamu merayu suamiku menggunakan Shaka sebagai alasan” Sepertinya Miranda memang sudah di cekoki cerita buruk tentangku. “Mertuaku yang menceritakannya” Benar dugaanku.
Kalau saja aku tidak bertemu dengannya mungkin aku akan membenci wanita itu, orang tua yang tidak ada habisnya menyemburkan fitnah demi menarik simpati Miranda.
“Dan kamu percaya, setelah apa yang kamu alami di rumah itu, sampai harus kehilangan anak dan rahimmu harus diangkat?” Aku akan membuka mata Miranda lebar-lebar. “Seharusnya kamu sadar mengapa Mas Farhan begitu sayang sama Shaka, aku tidak pernah menginginkan Mas Farhan setelah perceraian kami. Aku pergi karena tidak kuat harus melihat mereka, tinggal di kota yang sama hanya akan membuatku semakin sulit melupakan perlakuan buruk keluarga itu. dan Mas Arga tidak ada hubungannya dengan kami” Aku naikkan suaraku, walau masih sedikit ku tahan. Pengunjung restoran ini sudah mulai ramai. Aku tidak mau mengundang perhatian mereka, apalagi pembahasan kami tentang masalah rumah tangga. Lebih tepatnya rumah tangga Miranda.
“Jadi semua itu bohong, apa aku harus mempercayaimu Laura, sementara mertuaku memberikan bukti-bukti yang akurat” Dia masih bertahan dengan pendapatnya. Aku sekarang tahu, mengapa Miranda sangat membenciku.
“Kalau aku berselingkuh seharusnya Mas Farhan orang yang pertama membenciku. Bukannya datang ingin bertanggung jawab atas Shaka. Tidak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab terhadap seorang anak yang bukan darah dagingnya. Jangan bodoh Miranda” Ku tatap wanita di hadapanku dengan tajam. Bisa-bisanya dia menelan mentah-mentah cerita konyol yang di karang mantan mertuaku itu. Miranda terpaku, aku pikir dia mulai paham sekarang. mungkin hatinya mulai terbuka. Entahlah aku tidak peduli.
“Kalau tidak ada yang di bahas lagi, aku permisi” Mengambil tas di atas meja. Percuma berdebat dengan Miranda. Pikirannya sudah di rasuki hal-hal buruk tentangku.
__ADS_1