KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
NGIDAM SATU MACAM


__ADS_3

Setelah pertemuanku dengan Faris, entah mengapa aku merasa lebih bahagia. Apa mungkin sisi jahatku masih ada, ternyata tak semudah itu menjalankan apa yang Mama sarankan, nyatanya dendamku masih berkuasa. Rasa ingin melihat mereka labih menderita dari yang diceritakan Faris masih menggebu.


Hubunganku dengan Faris mengalir begitu saja, hanya sesekali dia menghubungiku setelah aku memberikannya nomor kontak. Kami akan mengobrol Kalau sedang tidak sibuk kuliah dan libur kerja seperti ceritanya. Hanya bertanya kabar anakku, selebihnya selalu menawarkan aku makanan kesukaan atau sedang ingin makan apa saja dia selalu bersedia mencarikan katanya. Ternyata anak ini manis juga. Sayang sekali aku telat mengenalnya. Aku pikir Faris dan Mas Fahri itu sama pengecutnya.


Tidak pernah sekalipun membahas tentang keluarganya dihadapanku, dan akupun tidak pernah bertanya. Dia akan mengirim pesan satu kali, setelah aku membalasnya barulah kami berkomunikasi dua arah. Berhenti ketika aku mengahirinya. Kadang sepulang kerja atau menjelang tidur. Dan disetiap ahir percakapan kami, Faris minta maaf, sudah puluhan bahkan ratusan kali dia mengulang kalimat yang sama, seolah mantra yang selalu menguatkan.


Aku lebih bahagia sekarang, makanku sudah mulai lahap. Mama benar, hatiku terasa ringan entah karena aku sudah mulai ikhlas dengan masa laluku atau kabar buruk tentang keluarga itu yang membuatku bahagia. Kenaikan berat badanku juga semakin baik, bahkan dokter yang menanganiku tak lagi cerewet menyuruhku makan dengan porsi banyak, karena berat badanku kurang sampai bulan ke lima.


Seperti sore ini, Mama sengaja menjemputku dari resto, hanya untuk mengantarku ke Klinik dokter Fitra, dokter kandungan terbaik disini katanya.


Sekarang aku hanya dapat senyuman tanpa kemarahan ketika aku pergi ke obgyn, dan Mama adalah orang yang paling berbahagia dengan ini semua. Perkembangan janinku juga cukup bagus.


“Mama seneng banget, ahirnya anakmu bisa sehat dan kuat sekarang. Mama khawatir waktu kamu nggak enak makan. Takut janinmu tidak berkembang Ra” wajah bahagia itu tidak mampu Mama sembunyikan, dia memelukku erat setelah kami di parkiran mobil, sebelum Mama menjalankannya. “Mama setiap hari tanya kamu ke Bi Sumi, kamu sudah pulang apa belum, sudah makan apa belum, makannya banyak atau sedikit, vitamin, susu hamil. Mama takut kamu bunuh diri Ra, untung sekarang semuanya sudah membaik, jangan stress. Yang lain kamu sudah dengar dari dokter tadi” senyum itu kembali mengembang. Mama menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir klinik.


“Ini semua berkat Mama yang ngajari Laura untuk ikhlas” Mama menatap wajahku tidak percaya


“Secepat itu?” justru Mama tidak percaya padaku sekarang.


“Sudah delapan bulan Ma, masak lama” Jawabku kemudian, aku tidak mengerti mengapa Mama bilang aku terlalu cepat. Padahal menurutku ini sudah terlalu lama.


“Nggak usah dipikirkan yang penting Mama seneng banget, makan dimana kita. Mumpung masih diluar. Nanti Bi Sumi di bungkusin aja biar nggak usah masak.

__ADS_1


“Rawon kayaknya enak Ma” terbayang kuah hitam dengan rasa gurih dan sedikit asam. Sambal terasi dan sedikit taburan kecambah mentah. Membuat liurku berproduksi lebih banyak.


“Baru sekarang lho, mama tahu kalau ada orang hamil ngidamnya cuma satu macam, nggak pengen nyoba yang lain?” Mama benar, sejak nafsu makanku meningkat hanya makanan ini yang ada dibenakku. Aroma rempah bercampur daun serai dan daun jeruk seolah menggoda diujung hidung dan lidahku.


“Besok saja, sekarang rawon setan yang di embong Malang, kemarin Laura beli pakai aplikasi ternyata enak banget” Beneran enak, baru sekarang aku beli sendiri. Sekalian jalan-jalan pengen tahu tempatnya juga.


“Nggak ada yang lain Ra, itu Rame banget lho. Antrinya nggak wajar, kayak orang antri sembako” Mama ternyata sudah tahu tempat itu, aku saja yang belum.


“Mama kok tahu?” seharusnya aku tidak usah bertanya Mama wanita yang mobilenya tinggi. Daerah surabaya dia sudah hapal setiap sudut, bodohnya aku bertanya gitu sama Mama.


“Mama kalau pulang pergi butik kan lewat situ” Benarkan. Seharusnya aku sudah bisa menduga.


“Gimana dong Ma, cari yang lain saja asalkan rawon” ngotot banget bumil satu ini, seharusnya aku tahu diri, lagian Mama yang nyetir aku malah mintanya macam-macam.


“Eh, bentar Mama angkat telpon dulu” Mama menepikan mobilnya, meraih gawai yang ada di dalam tasnya. Bunyinya cukup nyaring. “Halo, Ga. Ada apa?” Ternyata Mas Arga yang telpon.”Iya, ini sama Laura di jalan, oh, iya. Mama pulang sekarang” setelah mama menutup pembicaraan dengan Mas Arga, aku jadi penasaran apa yang di obrolin “Kita pulang sekarang, Arga ada di rumah bawa rawon. Kebetulan banget Ra, kita tidak perlu capek antri”. Mama kelihatan bahagia, semakin menambah rasa bersalahku.


“Kebetulan banget ya, Ma.” Mungkin Tuhan sedang berbaik hati sama Mama melalui Mas Arga. Tidak perlu capek antri yang melelahkan gumamku dalam hati.


“Sebentar, bagaimana kalau itu bukan rawon yang kamu mau, jangan-jangan Arga beli di tempat lain lagi” Mama menghentikan mobilnya yang hampir melaju.


“Nggak apa-apa Ma, yang penting rawon” senyumku terbit. Dia mengangguk sambil menjalankan mobilnya

__ADS_1


Mobil memasuki halaman rumah, kemudian memasukkannya di garasi. Mobil Mas Arga sudah terparkir di luar. Tidak di masukkan ke garasi artinya Mas Arga hanya mampir tidak menginap. Kami bergegas masuk.


“Kayaknya kamu mulai kesulitan jalan Ra” Mas Arga ternyata memperhatikan jalanku. Aku sebenarnya santai, orang yang melihat perut besarku yang mulai jalan dengan membusungkan dada dan perut kedepan terlihat aku kesulitan ditambah lagi kakiku bengkak mulai melebar ke samping.


“Nggak juga mas, ini hanya kelihatannya. Aku santai ko” jawabku sambil duduk. Ternyata semua bungkusan makanan sudah tertata rapi di meja makan. Mas Arga tidak hanya membawa rawon. Ada seblak, lontong sayur, es buah. dan entah apalagi


“Ini jus alpukat sama rawonnya Ra” Mas Arga menggulir semangkok Rawon dan gelas berisi jus apukat. Jus alpukat itu tidak pernah aku minta Mas Arga selalu membawanya karena saran temannya, dia bercerita manfaat jus alpukat untuk janin. Jadilah minuman itu selalu ada list kalau Mas Arga bawa oleh-oleh kerumah.


“Makasih Mas” aku mengambil semua yang di sodorkan Mas Arga


“Oiya, gimana kata dokter tadi” Aku lupa, hubunganku sama Mas Arga tidak se kaku dulu, kami mulai berkomunikasi dua arah. Sejak kakak chintya itu sering berkunjung, mengikis rasa sungkanku secara perlahan.


“Baik, semua berkembang dengan sempurna tidak ada yang perlu di khawatirkan” Itu Mama yang jawab. Aku terlalu sibuk sama rawon di depanku. Ini terlalu nikmat untuk dilewatkan. Aku sepertinya mulai kecanduan sama menu satu ini, nikmatnya tidak ada lawan.


“Kelaminnya belum berubah kan” Mas Arga seneng tahu anakku laki-laki. Biar bisa melindungi mamanya katanya. Mereka sekeluarga memang benar-benar baik.


“Ya, belumlah Mas” aku menangkap ketakutan Mas Arga soal hasil USG dokter tentang jenis kelamin anakku. Mama terawa.


Sekarang Mama, aku dan juga Bi Sumi sudah tidak heran lagi dengan makanan yang di bawa Mas Arga dalam jumlah banyak. Kadang aku tengah malam kalau lapar tinggal ambil di kulkas.


Tentang rawon, Mas Arga sudah sering membawakanku makanan satu ini. Setelah Mama bercerita kalau menu daging berkuah hitam itu makanan favoritku. Sepulang kerja atau bahkan di ahir pekan Mas Arga selalu membawakannya. Dan aku selalu menghabiskanya.

__ADS_1


Setelah semua perlakuan baik keluarga chintya kepadaku rasanya malu kalau harus mengeluhkan keadaanku pada Tuhan, terlalu banyak kebaikan yang aku terima melalui mereka. jujur, aku sekarang tidak pernah sesakit dulu, bayangan kelam tentang kisahku mulai buram tertutup ikhlas yang Mama ajarkan.


__ADS_2