KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
PENJELASAN FARHAN


__ADS_3

“Kita Bisakan memulai semuanya dari awal Ra” Yah, laki-laki ini kembali datang setelah kedatangan pertamanya yang membawa huru hara. Dengan tidak tahu malunya dia duduk di depan meja kerjaku, setelah seseorang memberitahu kalau ada yang ingin bertemu. Dengan tatapan memohon dia berbicara dihadapanku. Tidak tahukah laki-laki ini bahwa semua yang dilakukannya sekarang sudah sia-sia.


“Saya tidak bisa kembali, dan tidak akan pernah kembali. Kalaupun takdir mengatakan aku harus menjalin lagi hubungan dengan laki-laki, semoga Tuhan berbaik hati memberikan laki-laki selain kamu” aku tahu kalimatku akan menyakitinya, aku tidak peduli. Sudah cukup aku menjaga perasaannya. Kalau sekarang datang lagi tidak akan ada Laura yang ramah seperti biasanya.


“Aku bisa menjelaskan alasanku kenapa aku melakukan itu semua padamu, dulu” Terjeda, aku sudah tidak ingin mendengar apapun ceritaku di masa lalu. Tapi sekali ini aku akan memberikan waktu dia bicara bukan kesempatan untuk membuka hati. Karena hatiku sudah terlalu rapat untuk memberinya kesempatan lagi. Aku diam, lantai ruang kerjaku jauh lebih menarik dari wajah mantanku ini. “Aku tidak membelamu karena aku yang tahu Ibu, dia tidak akan berhenti menyakitimu, apalagi jika aku membelamu dihadapannya”


“Dan kamu menyakiti istrimu demi membela ibumu” sanggahku, mengapa setiap aku mendengar cerita Mas Farhan dia selalu merasa benar dengan apa yang dilakukannya di masa lalu. Tatapan tajam ku arahkan sekarang, ganti laki-laki ini yang menunduk dalam.


“Yah, aku memang bodoh. Tapi semua itu demi kamu Ra. Percayalah” kembali menatapku dengan mengiba. “Kalau aku membelamu Ibu akan menyakitimu secara fisik. Dia bisa saja mencelakaimu dengan memukulmu atau melemparmu dengan barang apapun yang dia pegang. Mungkin ini belum kamu tahu tentang ibu. Dia tidak akan segan menyakiti siapapun yang tidak sejalan dengan pikirannya. Aku menyadari kesalahanku dengan terlalu menuruti kemauan Ibu” Ini fakta yang tidak aku tahu, tapi untuk apa. Lidah mertuaku sudah lebih tajam dari pisau, cukup untuk membuat luka yang tidak akan pernah hilang.


“Aku tahu kamu hamil sebelum kamu diusir malam itu, tespack yang ada meja riasmu mengatakan semuanya. Aku takut, Ra. Aku bahagia tapi aku takut Ibu mengambil anak itu dengan paksa. Aku tahu ibu akan menyuruhmu menggugurkannya. Dan ketakutanku itu terbukti. Aku juga yang memintamu melakukan itu dengan sadar”


“Memintaku untuk menghilangkan bayi itu bukan tanda cinta. Tidak akan ada yang setuju bahwa cara mencintai anak dalam kandungan adalah dengan cara menyuruh menggugurkan. Fakta yang baru aku tahu bahwa menunjukkan cinta dikeluargamu memang beda. Kalau sudah puas dengan ceritamu silahkan keluar. Ruanganku bukan tempat untuk mendengarkan bualan sampahmu” Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mantan suamiku. Bisa-bisanya bercerita dengan percaya diri hal yang tidak patut dibanggakan. “Dan aku pergi karena aku mencintainya. Inilah cinta yang seseungguhnya, melindungi walau nyawa dan harga diri sebagai taruhannya” Aku ingatkan bajingan ini bagaimana cara mencintai yang seharusnya.


“Maafkan aku, tapi percayalah aku melakukan semua karena aku ingin melindungi kalian. Aku menyuruhmu menggugurkan agar ibu tidak selalu mencari cara untuk menyakitimu. Kita bisa memulainya dari awal setelah aku bisa keluar dari Ibu.Kita bisa memulai hidup baru. Aku sudah punya rumah untuk kalian. Meskipun kecil yang penting tidak tinggal dengan Ibu” Nadanya rendah, tapi percaya dirinya tinggi. Disimpan dimana rasa malunya. Apakah dititipkan ditempat sampah, karena aku tidak melihatnya dari tadi.

__ADS_1


“Aku tidak memberikan semua gajiku buat Ibu, aku sengaja melakukannya karena pengen beli rumah buat kamu Ra. Aku sudah wujudkan kemauan kamu buat tinggal dirumah sendiri. Aku juga sudah punya usaha, patungan sama temanku. Beri aku satu kesempatan aku akan memperbaiki semuanya. Masalah aku nggak ngubungi kamu. Hpku disita Ibu, aku diancam tidak akan dianggap anak kalau aku nemuin kamu. aku tersiksa Ra, kita sama-sama sakit. Demi kalian aku rela melakukan ini. Aku berkorban karena aku cinta sama kamu” Apa ada yang pelu dibanggakan dari laki-laki yang katanya berkorban ini.


“Tapi aku tidak melihat pengorbananmu, juga tidak merasakannya. Kalau tujuanmu hanya untuk bercerita masa lalu aku sudah tidak tertarik. Bagiku masalaluku dan masa lalu mu tidak patut untuk dikenang. Terlalu menyakitkan. Keluar dari raunganku. Masih banyak yang harus aku kerjakan” lagi-lagi karena amarahku perutku mulai berulah. Anak ini tidak bisa diam.


Aku benar-benar tidak kuat. Tuhan, jangan sampai Mas Farhan tahu kalau aku sedang kesakitan, sumpah demi apapun aku tidak ingin laki-laki ini tahu tentang anaknya. Aku yakin untuk kali ini sakitnya lebih luar biasa dari yang kemarin.


“Ra, aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf, kamu boleh membenciku tapi beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Tolonglah Ra” aku tidak ingin mendengar apapun. Rasa sakit ini harus aku sembunyikan.


“Aku memaafkanmu, keluarlah. Tidak ada yang perlu di bahas lagi kan?” aku ingin berteriak mengusir Laki-laki ini. Tidak adakah satu orangpun yang bisa membantuku. Tuhan tolonglah, biarkan Mas Farhan keluar sekarang juga


“Tolonglah keluar sekarang juga. Pergi dari hadapaanku. Kalau tidak aku akan menghubungi keamanan biar kamu diseret dari sini” Berusaha tenang di tengah, gelombang rasa sakit rasanya sangat sulit. Aku hampir saja berteriak pada Mas Farhan ketika pinggangku rasanya remuk seketika.


“Baiklah, aku keluar. Hubungi aku kalau kamu mau lahiran. Dengan senang hati aku akan menemanimu. Aku tidak sabar ingin bertemu anak kita” menyodorkan kartu nama. Sekarang keringat dingin mulai terasa didahiku. Semoga Mas Farhan tidak tahu. Aku mengangguk, sungguh aku tidak kuat lagi.


Perutku rasanya seperti diremas dan pinggulku seperti patah. Aku mendial nomor Mas Arga. Satu-satunya orang yang mau aku repotkan untuk saat ini. Aku butuh dia sekarang. Aku tidak kuat. Ahirnya badanku luruh ke lantai. Sambil memegang pinggul, tangan satunya memegang gawai.

__ADS_1


Badanku tiba-tiba lemas, mataku rasanya berat. Gelap, hingga aku tidak melihat apapun.


“Laura...” Tapi telingaku masih menangkap suara Mas Arga, panik dia memanggil namaku. Aku ingin berbicara tapi aku tidak punya tenaga. “Kenapa bisa begini, tolooong. Siapapun disana tolong aku” Mas Arga berteriak panik. Nafasku berat. Aku tidak kuat untuk melakukan apapun. Tenagaku benar-benar habis. Sampai ahirnya aku tidak mengingat apapun.


“Ra, bangun Nak” Aku mendengar suara Ibu, suara itu benar-benar nyata di telingaku. Apa aku terlalu merindukannya. Kelopak mataku berat, aku ingin bangun sekarang.


“Kenapa ibu ada disini?” Wanita yang melahirkanku duduk di kursi di sebelah brankar tempat aku berbaring. Tangannya mengelus punggung tanganku.


“Kamu sudah sadar nak, Alhamdulillah...” aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku ikut bahagia melihat wajah bahagia Ibu. Rasany duniaku sempurna hanya dengan melihat senyuman itu.


“Kamu tidak ingin melihat anakmu, dia lucu. Dia tampan, sama sepertimu versi laki-laki” Anak, aku punya anak. Aku raba perutku. Dia tidak ada disana. Perutku tidak sebesar kemarin, apakah dia sudah keluar tapi bagaimana, aku tidak merasakan apa-apa. Rasa sakit yang merek ceritakan ketika melahirkan.


“Dimana dia?” Kutatap Ibu dengan penuh harap, apakah Tuhan memberinya nyawa, apakah dia terlahir sempurna. Kembali aku melihat senyuman Ibu. aku menarik nafas lega. Jawabannya sudah aku temukan lewat Ibu. binar bahagia benar-benar tergambar jelas, dan aku yakin anakku baik-baik saja.


“Sabar dulu, sebentar lagi perawat akan membawanya kesini” Ibu membelai rambutku. Senyumnya belum pudar, bahkan semakin merekah. Aku melihat menyuman dengan mata ibu yang mulai berembun. Begitu bahagiakah wanita ini sampai harus menangis.

__ADS_1


__ADS_2