
Bolehkan laki-laki menangis, untuk sekali ini saja. Karena aku tidak kuat melihat tiga wanita diruang pemulihan ini menangis. Ku pandangi wajah ketiganya. Meskipun air mata deras bercucuran. Aku tahu mereka bahagia. Aku tidak menyangka Laura bisa memeluk putranya secepat ini. Aku tidak menyangka Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memeluk bayi mungil itu.
Ketika aku mendengar suara di telepon, aku tahu wanita itu sedang menahan sakit yang luar biasa. Lirih dan bergeta. Seberapa hebat rasa sakit yang Laura rasakan aku tidak tahu. Yang aku tahu, bahwa dia sedang butuh bantuan secepatnya. Kutinggalkan pekerjaanku didalam laptop yang masih menyala. Restoran Azka adalah tujuanku.
Benar saja, setelah pintu terbuka, aku melihatnya sedang terbujur dengan wajah pucat di lantai ruang kerjanya. Aku panik, aku tidak tahu apa yang terjadi, aku panggil namanya dengan menepuk pipi Laura. Tidak ada reaksi, aku semakin panik. Keringat membasahi tubuhnya. Aku berteriak minta tolong pada siapapun yang ada diluar ruangan. Badannya dingin, rok panjangnya basah dibagian bawah.
Dua orang waiters masuk, aku meminta tolong pada mereka karena aku bingung tidak tahu harus bagaimana.
“Langsung bawa saja Pak, sepertinya Mbak Laura butuh penanganan segera takut terlambat, ketubannya pecah” Nina memberitahuku. Aku tidak ingin membuang waktu. Kuangkat tubuh lemah itu ke dalam mobil. Aku menidurkannya di jok belakang.
Turun kembali, membuka pintu depan mobil, sampai seorang satpam menepuk pundakku.
“Bapak tetap dibelakang temani Bu Laura, biar saya yang bawa mobilnya. Terlalu berbahaya karena bapak panik” Benar juga, ahirnya aku kembali duduk dijok belakang. Memangku kepala Laura. Sesekali aku panggil namanya, kutepuk pipinya berulang. Wanita ini tetap diam, wajah pucat badannya dingin belum ada perubahan semenjak aku menemukannya tadi.
“Ra, bangun dong. Laura” Tetap tidak ada jawaban bahkan bergerakpun tidak.
“Bapak tenang, asal dibawanya cepat. Kondisi Ibu akan baik-baik saja” sopir itu menenangkanku, setidaknya aku lebih santai mendengarnya. Tapi tetap saja rasa takut itu menghantui. Sopir sudah membawa kecepatan mobil dengan maksimal, tapi bagiku jalannya masih pelan. Aku tidak sabar untuk segera sampai. Kalau terjadi apa-apa dengan Laura dan bayinya. Mama dan Chintya tidak akan memaafkanku
Perawat datang dengan brankar dengan tergesa, setelah sopirku tadi turun dan memberitahu terlebih dahulu. Membuka pintu mobil, aku membantu memindahkan Laura ke brankar. Kedua perawat itu mendorong dengan cepat. Ku pegang tangannya mencoba memberi kekuatan. Sebesar apa rasa sakit yang ditanggung wanita ini sampai harus kehilangan kesadaran.
Tanganku dingin, lututku lemas tak bertenaga, tanganku gemetar hebat. Langkah kaki ku percepat mengikuti kecepatan brankar.
“Langsung bawa ke ruang operasi, ini butuh penanganan segera” seorang dokter UGD berkata pada perawat. “Bapak tunggu disini urus pendaftaran sama kelengkapan berkasnya. Kalau boleh tahu, apa bapak membawa catatan riwayat pemeriksaan kehamilan istrinya. Kita butuh untuk membuat analisanya. Apakah selama kehamilan istri bapak mengalami kelainan atau tidak” Aku, melongo. Riwayat pemerikasaan apa, bahkan dia mengira aku suami Laura. Apa yang harus aku lakukan aku tidak tahu apa-apa. Ah, ya Mama. Dia pasti tahu sesuatu.
“Saya telpon Mama saya dokter, dia yang selalu mengantar Laura periksa” Aku ambil gawai dalam saku. Mama yang tahu tentang kehamilan Laura. Tatapan dokter yang berbicara padaku, tiba-tiba berubah sinis. Aku mengerutkan alis. Wajah ramahnya hilang berganti amarah.
__ADS_1
“Dasar suami tidak bertanggug jawab, istri dalam keadaan hamil. Bahkan kondisinya parah begitu tidak tahu, kalau tidak siap jadi ayah jangan menikah Pak” Hah, apa-apaan dia menuduhku suami tidak bertanggung jawab. Kalau tidak ingat kondisi Laura aku layani berdebat dengannya.
“Kamu kenapa baru ngubungi Mama, sampai pingsan begitu. Kamu gimana sih” belum selesai di maki dokter. Mama juga tidak kalah kencangnya memarahiku. Apa yang aku lakukan di mata mereka masih salah. Kalau bukan Laura, sudah aku biarkan dia tadi.
“Bawa buku periksanya Laura Ma, diminta sama dokternya.” Ku tahan Amarah, didepan wanita yang memakiku ini. Duh, aku belum menikah saja begini ruwetnya. Bagaimana nanti kalau istriku yang akan melahirkan habis aku dijambak Mama.
“Ada di tas kerjanya Laura Ga, dia selalu bawa. Kamu gimana masak itu ajah nggak tahu”
“Tapi ma, a...”
“Ya sudah, Mama segera kesana, awas kalau terjadi apa-apa sama Laura” Pakai ngancam segala lagi. Ya mana aku tahu Laura naruh benda itu di tasnya. Bentuk dan warnanya saja aku tidak tahu. Hah, sudahlah, diam itu jauh lebih baik sekarang.
“Pak, tasnya ibu ambilkan di ruangan kerja bu Laura ya. Bawa kesini” Aku putus asa, takut terjadi apa-apa sama Laura dan bayinya. Duduk di depan ruang UGD dengan baitan doa dalam hati. Sambil menunggu sopir datang mengambil tas Laura di meja kerjanya.
“Laura dimana sekarang” Mama tahu-tahu muncul dengan dokter Fitrah. Bagaimana ceritanya mereka bisa bareng.
Dokter Fitrah bergegas masuk disusul Mama dibelakang. Aku hanya melihat punggung mama, selebihnya aku menunduk dalam. Semoga Tuhan melindungi mereka berdua, dan semoga Tuhan mempertemukan Laura dan bayinya dalam keadaan sehat. Melihat wajah panik dokter kandungan itu, aku tahu keadaan Laura tidak bisa dianggap ringan.
“Ini pak” tahu-tahu sopir itu sudah ada didepanku menyodorkan tas kerja laura berwarna hitam.
“Terima kasih, duduklah temani saya” aku meminta dia duduk di kursi sebelahku. Setidaknya aku mencari teman untuk mengobrol. Siapa tahu aku bisa sedikit tenang.
“Waktu istri Bapak lahiran apa semua orang menyalahkan Bapak?” Dia tercengang, apa ada yang aneh dengan pertanyaanku. Aku baru saja mengalaminya. Pasti laki-laki ini juga mengalaminya bukan.
“Tidak Pak, hanya dicakar”
__ADS_1
“Hah, wah ternyata wanita kalau marah memang luar biasa, untung saya cuma dimarahi” ternyata dia lebih parah. Setidaknya aku lebih beruntung.
“Maksud saya, istri saya yang mencakar waktu diruang persalinan Pak, tidak kuat sakit katanya. Kalau Bu Laura kan pingsan mana bisa nyakar. Paling nanti sadar sudah ketemu sama bayinya” lho, jadi yang nyakar istrinya bukan dokter atau ibunya.
“Ga, ngapain kamu disitu ikut Mama ke ruang Operasi sekarang, Laura sudah disana” Aku berdiri segera sebelum menerima kemarahan Mama lagi.
“Ini tas Laura Ma”
“Buat apa?”
“Katanya ada catatan pemeriksaaan”
“Tidak perlu, Dokter Fitrah sudah disana. Kamu lambat, hampir saja” Mama tidak melanjutkan kata-katanya. Dia segera berlalu, aku mengikutinya dari belakang.
Berhenti disebuah ruangan, aku duduk. Mama terlihat gelisah, dia bahkan tidak duduk sama sekali. Mondar mandir sambil menggenggam kedua tangannya sesekali menggosok dan mndekatkan ke mulut.
“Ma, tenang dong. Bentar lagi juga keluar” Aku yang lebih takut karena membawa Laura dengan kondisi yang memperihatinkan mencoba menenangkan Mama, aku sama takutnya. Gugupku lebih besar. Terbayang wajah pucatnya ketika tadi aku memangku kepalanya.
“Tenang bagaimana, seandainya tahu keadaan Laura, kamu pasti lebih takut dari mama. Wanita itu sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya Ga, Laura sedang kritis didalam” mendengar kata kritis dari Mama membuat kau lebih takut dari sebelumnya. Kakiku lemas seperti jelly. Apakah aku laki-laki lemah, apa semua laki-laki seperti aku. Mengapa seolah aku begitu ketakutan dengan kemungkinan terburuk bagi mereka.
Ruang opersi terbuka, dokter Fitrah muncul, wajahnya sedang tidak baik-baik saja.
“Untung kamu segera membawanya, operasinya selamat. Laura belum melewati masa kritisnya. Dia tidak sadarkan diri karena drop, apa yang terjadi Ga?” kalau aku jawab tidak tahu apakah masuk akal. Dari tadi mama menyalahkan aku.
“Saya tidak tahu dok, dia nelpon suaranya bergetar kesakitan. Saya langung datang. Dia sudah tak sadarkan diri tiduran di lantai ruang kerjanya” menceritakan apa yang aku lihat mungkin bisa membantu dokter Fitrah,
__ADS_1
“Terima kasih, kamu sudah melakukan yang terbaik, saya yakin sebentar lagi Laura melewati masa kritisnya, kita berdoa saja tidak ada komplikasi biar bisa langsung di bawa ke ruang pemulihan. Sekali lagi terima kasih Arga, kamu sudah membantu saya” Baru dokter Fitrah yang memuji kinerjaku. “Laura eklamsia, tekanan darahnya diatas normal untuk orang hamil. Saya tidak tahu apa yang terjadi sebelum itu. saya yakin ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Dia tertekan Ga, pikirannya sedang kacau. Makanya dia pingsan” Semua istilah yang disebutkan dokter Fitrah aku tidak paham, yang jelas Laura masih berjuang untuk hidup. Ku tatap Mama, wajah cemas itu belum beranjak, berkali-kali bibir Mama berucap kalimat Lirih.