KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
PERSIAPAN PINDAH


__ADS_3

“Terjerat dalam cinta sesaat benar-benar menyakitkan, aku yang mendamba dia yang tak berdaya. Aku terlalu mengharap kesempurnaan, yang bahkan tidak pernah aku melihat pengorbanan. Hatiku kecewa karena salah menggantungakan harapan. Seharusnya bukan pada ciptaannya. Tapi pada pencipta kesempurnaan hidup”


Ku renggangkan badan memberi relaksasi, pegal punggung menyerangku, pekerjaanku belum selesai mengemas barang yang akan aku bawa kerumah baruku. Walaupun hanya kontrak paling tidak aku bisa mandiri tanpa merepotkan siapapun.


“Kamu nggak pengen berubah pikiran gitu Ra, Mama rasanya berat mau pisah sama Shaka” Wanita yang mondar mandir di belakangku sambil menggendong Shaka yang tertidur.”Paling tidak tunda dulu sampai Shaka umur satu tahun” Lanjutnya lagi. Dia yang awalnya mendukung apapun yang aku lakukan pada ahirnya tidak rela melepasku.


“Nggak apa-apa, Laura janji ahir pekan nginap disini” Hiburku, aku tahu yang aku ucapkan tidak akan berdampak apapun. “Atau Mama yang datang ke tempat Laura” Tanpa menoleh aku berucap, tak akan aku perlihatkan wajah sedihku dihadapannya. Aku sama tidak inginnya berpisah dengan Mama, tapi rasa malu yang mulai menggunung terlalu nyaman dengan kebaikan orang tidak bisa aku anggap maklum. Ibu dan Bapak juga sudah siap untuk mengasuh Shaka.


“Nggak cukup Ra, Mama nanti jarang ketemu Shaka” Selalu ada kata sedih dalam perpisahan, apalagi dia wanita yang sangat baik. Tapi memanfaatkan kebaikan orang tidak akn membuat aku bisa berkembang. Aku harus lebih tangguh dan Mandiri demi Shaka. Masa depannya aku yang memikul. Tanggung jawab di pundakku sudah bertambah.


“Laura tidak bisa Ma, Ibu sama bapak mau tinggal sama Laura, nggak mungkin aku bawa mereka tinggal di rumah ini. Bisa nambah beban Mama” Ini alasan sebenarnya, bukan semua keinginanku keluar dari rumah Mama, ada andil kedua orang tuaku yang ingin menebus kesalahannya karena telah menyetujui pernikahanku dengan Mas Farhan.


“Bukan Mama yang merasa terbebani, orangtuamu yang tidak nyaman tinggal disini. Ingat janjimu Ra, Bawa Shaka kesini kalau Mama kangen. Atau Mama akan marah” Ucapnya serius, aku melihat Mama masih menggendong Shaka, di tatapnya lekat wajah anakku. Diciumnya kening Shaka berulang. Sesekali ciumannya pindah ke pipi.


“Taruh di kasur Ma, nanti capek”


“Mama mau puas-puasin gendong Shaka” Menggoyang badannya agar anakku semakin nyaman dalam buaiannya.


Selesai, ahirnya beberapa tas yang penuh dengan barangku dan baju-baju Shaka sudah tertata dengan rapi tinggal menunggu jemputan. Besok pagi aku mulai pindah. Berat memang, terbiasa dengan fasilitas nyaman di rumah ini. Aku tidak ingin menjadi beban mama lebih lama lagi.


Masih jam tujuh malam, aku meletakkan Shaka di tempat tidur setelah mengambil dari gendongan Mama, turun kebawah sekedar minum susu hangat pelancar ASI agar anakku tidak kekurangan asupan.


“Kamu jadi pindah besok Ra?” Tanya Mas Arga yang entah kapan dia datang. Tahu-tahu suda muncul di meja makan.

__ADS_1


“Iya Mas” Jawabku menatapnya sejenak.


“Nggak bisa ditunda dulu” Mas Arga sama Khawatirnya dengan Mama.


“Laura sudah memikirkannya dari lama” Ku aduk bubuk berwarna putih didalam gelas setelah menuangkan air panas, asap mengepul tipis. Setelahnya ku campur dengan air dingin. Kami bertiga duduk di meja makan, hening. Sibuk dengan pikiran sendiri.


Gelap mulai merangkak, harusnya lelap menjemputku. Entah mengapa mataku tak jua mampu terpejam. Ku bayangkan hari esok, masa depanku dan Shaka, mampukah aku menjadi orang tua tunggal untuknya. Memecah konsentarsiku memberikan kasih sayang, memberikan hak Shaka lahir dan bathin. Cinta dan materi dalam waktu bersamaan.


Aku yang akan menguatkan diriku ketika terpuruk nanti, ketika lelah tiba-tiba datang. Mampukah aku menjadi Ibu seperti Mama dan Ibuku. Menjadi sabar menghadapi kenakalan Shaka kelak. Aku balik badan menghadap Shaka. Dia lah satu-satunya alasan yang menjadikanku wanita kuat. Dan itu harus. Perjalanan kami masih panjang.


“Mama akan belajar menjadi orang tua yang terbaik buat Shaka. Mama akan belajar lebih sabar demi Shaka. Kuatkan Mama ketika rapuh. Mama yakin kamu bisa menjadi anak yang baik. Mama sayang banget sama Shaka” ku cium tangan mungil dalam genggamanku. Dia adalah hidupku, bayi kecil ini mengalihkan semua atensiku. Menjadi tegar itu harus, air mataku tak boleh menetes dihadapannya. Sebisa mungkin aku akan tersenyum sekalipun ribuan belati menghujam jantungku. Walau kerikil tajam melukai langkahku.


***


“Pagi Ra” Sapaan dari belakang ketika menunggu air panas sambil menyesap tah hangat . Mas Arga, bukankah seharusnya dia pulang. Ah salah, harusnya di kembali ke apartemen.


“Mas Arga nggak balik?” Sopan nggak sih, aku tanya gitu sementara yang tanya sekarang tuan rumahnya.


“Sabtu, kebetulan juga free. Pekerjaanku sampai hari jumat” jelasnya, seharusnya aku tidak bertanya hal yang sudah aku tahu. Kelihatan banget kalau aku memang orangnya kaku.


“Biasanya jalan-jalan sama yang lain?” Apa sih sebenarnya tujuanku bertanya hal-hal nggak penting gini. Aku memiliki kesulitan memulai pembicaraan dengan seorang laki-laki. Aku lebih baik diam, menjawab ketika ditanya. Nggak ditanya ya diam. Bukan keahlianku mencari topik lebih dahulu. Apalagi dengan Mas Arga, yang sampai sekarang rasa sungkanku masih tinggi. Walaupun jarak diantara kami mulai terkikis sejak ke hadiran Shaka.


“Bantuin kamu pindahan” jawabnya singkat. Kuangkat wajah mencari kebohongan di matanya. Aku tidak menemukan keraguan. Mas Arga berlebihan

__ADS_1


“Sudah ada orang buat bantuin, aku bayar mahal lho Mas”


“Bagian gendong Shaka siapa. Kamu mau ikut naik mobil pickup mereka?” Aku lupa, aku kan hanya punya sepeda motor. Ah, tapi ada mobil Mama kan.


“Ada Mama, Mas Arga nggak usah khawatir” Aku hanya tidak enak kalau ternyata kepindahanku mengganggu acara Mas Arga dengan teman-temannya.


“Harus ada laki-laki yaang mengawasi Laura, kamu kenapa sih, nggak mau aku bantu?” Tanyanya, wajahnya gusar. Mungkin di kecewa sama jawabanku.


“Laura nggak mau ganggu waktu Mas Arga” Sungguh, aku tidak akan merasa enak kalau sampai Mas Arga menggagalkan rencananya karena aku.


“Nggak sama sekali” Potongnya cepat, ku hembuskan nafas, tapi belum benar-benar puas dengan jawaban Mas Arga. Ku sesap teh terahir di gelas. Melangkah ke wastafel mencuci bekas teh ku, mengeringkan tangan dengan lap yang tergantung di dinding setelahnya.


“Shaka nangis dari tadi” Kepalaku cepat memutar, pandanganku tertuju ke atas tangga. Mama berjalan menggendong Shaka. Kuhampiri hendak mengambil anakku. Tapi mama mencegahnya, kelima jarinya membuka mencegahku mendekat. “Untuk kali ini biarkan Mama yang mandiin” Ucapnya dengan tersenyum.


“Biar laura aja Ma, nanti baju Mama basah semua” Lagi-lagi aku merasa tidak enak. Urusan memandikan Shaka itu tugasku. Aku lihat baju mama sudah rapi.


“Nggak apa-apa, bentar lagi Shaka tidak disini lagi, Mama sedih banget Ra. Rumah ini nanti akan sepi, tidak ada tangisan Shaka lagi” Aku terenyuh mendengar ucapan Mama. Aku pikir, selama ini tangisan Shaka menggaggu, nyatanya tidak sama sekali.


“Kenapa sih Kamu ngotot banget pengen pindah” Itu suara Mas Arga, aku sudah katakan berulang, kalau aku tidak ingin menjadi benalu di kehidupan mereka. aku dan anakku hanya beban buat Mama.


“Hidup mandiri Mas, sudah waktunya aku tidak bergantung pada siapapun” Ucapku lirih, sebenarnya aku sama sedihnya dengan mereka. Terlalu lama tinggal disini juga tidak baik buatku, pikiranku tidak akan berkembang karena tergantung sama mereka.


“Mama sudah mencegah Laura berkali-kali, tapi tidak bisa. Biarkan Laura menjalani hidupnya sendiri. Ingat Ra, kalau ada apa-apa kabari kita. Mentang-mentang sudah pisah rumah nanti kamu lupa sama Mama”

__ADS_1


“Tidak akan Ma, kalian orang pertama yang akan Laura kasih tahu kalau ada apa-apa, janji” menunjukkan jari kelingking ke arah Mama, dengan senyum. Biarlah untuk hari ini aku biarkan mereka melakukan apapun dengan Shaka. aku ingin melihat wajah bahagia Mama ketika aku keluar dari rumah mereka.


__ADS_2