KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
KEMBALI TERTIKAM MASA LALU


__ADS_3

Aku memanggil Nina untuk membawakan teh hangat keruanganku selepas kepergian Mas Farhan. Datang dengan nampan dan segelas es teh keruanganku. Nina panik melihatku duduk dibawah sofa berpangku pada lutut yang di tekuk. Tanganku sibuk mengusap perut dan pinggangku.


“Mbak Laura, kenapa. Ya Allah. Saya panggil Mas Pak Azka Mbak” aku masih bisa menangkap suara panik Nina. Wanita berhijab itu bergegas keluar. Sebentar saja dia sudah kembali ke ruanganku. “Minum dulu tehnya Mbak” Menyodorkan teh hangat di gelas ke mulut.


“Mbak, bicaralah, katakan sesuatu. Saya takut Mbak” Suara wanita berhijab itu gemetar dia membimbingku duduk di atas sofa. Tangannya dingin saat menyentuh pangkal lengan.


“Aku tidak apa-apa Nin, hanya kecapean kayaknya. Tiduran sebentar pasti hilang sakitnya” aku tidak ingin mengundang kepanikan siapapun bahkan Nina sekalipun.


Wanita itu memijit kakiku, rasanya enak sekali. Setelah badanku rebah, perlahan rasa sakit itu berkurang. Aku atur nafas, agar tekanan didadaku berkurang.


“Mbak Laura kakinya dingin” Dia memijit kakiku juga, setelah melepas sepatu flatku kelantai. “Duh, Pak Azka lama banget” Gerutunya pelan. Rasa nyaman di kaki karena pijatan Nina benar-benar menghilangkan rasa sakitku. Tangan Nina ajaib. Sungguh aku tidak berbohong


“Koq bisa Ra, bagaimana sekarang masih sakit?” Mama dengan suara paniknya tiba-tiba masuk keruanganku, disusul Mas Azka dan Mas Arga. Bagaimana Mama bisa tahu kalau aku sakit. Ah, iya Mas Azka pasti.


“Laura sudah nggak apa-apa Ma, hanya kecapean. Ini sudah mendingan. Tangan Nina ajaib, cobain deh” Aku duduk, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan mereka. Tidak ingin melihat wajah panik Mama, aku terlalu banyak menyusahkannya. Sungguh aku merasa bersalah.


“Ambil cuti Ra, jangan gerak dulu. Mama sudah menghubungi dokter, sebentar lagi datang” Mama duduk di sofa ujung, menggantikan tempat Nina. Wajah kedua laki-laki yang mengikuti Mama sama paniknya.


“Maafkan saya Mas, sudah membuat kalian panik” itu aku tujukan untuk keduanya, karena nama panggilannya sama.


“Mulai besok kamu bisa cuti, aku akan kasih suratnya” Suara Mas Azka, aku tahu dia merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku sekarang. Sebenarnya sudah lama dia menawarkan cuti, aku tidak menerimanya karena aku ingin cuti nanti ketika aku lahir, agar waktu bersama anakku lebih lama.


“Nggak usah Mas, nanti kalau kurang satu minggu saja, Laura bosan di rumah” alasan yang selalu aku katakan ketika pemilik restoran ini menawarkan cuti.

__ADS_1


“Jangan keras kepala Ra, Perutmu itu semakin besar, Mas lihat kamu jalan saja kesulitan” Mas Arga menatapku tajam. Dia mungkin tidak suka keras kepalaku sekarang. Tapi memang benar, apa yang akan aku lakukan kalau dirumah. Pasti bosan.


“Permisi” suara dokter Fitrah, masuk karena memang pintunya tidak di tutup. “Bagaimana Laura, kayaknya sudah nggak sakit lagi” Senyum mengembang di wajah pemilik lesung pipi itu. Sayangnya sudah menikah, rasanya dokter cantik itu cocok dengan Mas Arga.


“Mama berlebihan dok, ini hanya sakit pinggang biasa. Sudah enakan koq” aku melihat tatapan dokter Fitrah, seolah mencari kebenaran dari mataku. “Beneran dok, ini sudah bisa jalan, berlari pun sangat bisa” aku duduk, mencoba meyakinkan dokter Fitrah.


“Oke, saya percaya. Jangan kejadian lagi ya. Kontraksi karena stress dan tertekan itu bahaya, kamu bisa melahirkan lebih maju dari HPL. Dan itu tidak baik untuk Ibu dan janin” aku lega dokter kandungan ini percaya. Semoga Mama dan Mas Arga juga percaya. “ Karena sudah tidak ada yang di khawatirkan lagi saya permisi dulu” tanpa melakukan pemeriksaan apapun dokter fitrah pergi lagi. Mungkin dia sedang sibuk ketika Mama menghubungi untuk datang tadi.


“Makasih, dok. Maafin Mama ya, dia suka panik soalnya” aku hanya mengantar dengan senyuman Mas Arga mengantar sampai ke pintu.


“Gimana Mama nggak panik, Arga ngomongnya sampek ngos-ngosan gitu. Padahal Mama Meeting lho, sama klien” Dugaanku benar, ini pasti awal mulanya dari Mas azka.


“Mas Azka, berlebihan” ucapku memasang wajah cemberut.


“Mama balik lagi saja, kasihan kliennya kalau ditinggal. Aku beneran sudah baikan” Aku berusaha meyakinkan Mama juga semua yang ada diruanganku. Tidak enak rasanya sudah membuat kepanikan karena laki-laki paling aku benci saat ini.


“Kamu nggak apa-apa Mama tinggal” Masih belum rela meninggalkan aku sendirian.


“Sungguh Ma, Laura baik-baik saja. Bentar lagi jam istirahat. Laura bisa tiduran” aku tidak ingin Mama meninggalkan kliennya. Pasti sangat penting artinya meeting hari ini buat Mama.


“Oke, Mama tinggal. Jangan lupa isirahat terus makannya juga di jaga” Mama pergi meninggalkan aku, dan semua yang ada di ruangan ini. Aku meluruskan kaki di sofa. Seharusnya aku tidak mengajaknya masuk tadi, hingga tidak perlu membuat emosiku naik. Ku tatap plafon ruangan yang berwarna biru langit. Sejuk, dan damai tapi tidak dengan hatiku. Sakit dan nyeri karena tikaman masa lalu masih terasa jelas


***

__ADS_1


Malam itu aku bergegas ke kamar mandi, setelah selesai makan malam. Aku muntahkan semua menu yang sudah masuk ke lambung. Tak bersisa sedikitpun. Rasanya perutku seperti di aduk. Kepalaku pusing. Belum pernah aku merasakan badanku selemas ini. Hingga berkali-kali aku memuntahkan semuanya di closet kamar mandi.


Berkali-kali Mas Fahri mengetuk pintu dari luar, memanggil namaku. Setelah ku rasa keadaannya sudah lebih baik, aku keluar. Wajah cemas Mas Fahri menyambutku, dia membimbingku ke ranjang.


“Kamu baik-baik saja kan Ra, gimana rasanya sekarang?” pertanyaan Mas Fahri tidak mampu aku jawab. Nafasku masih belum teratur.


“kelapaku masih pusing, Mas” Aku tidak berbohong, selain pusing, kepalaku juga bak di tindih benda berat.


“Mas pijat ya, pakai aroma terapi biar enakan” berjalan ke nakas mengambil aroma terapi. Kembali lagi duduk di tepi ranjang.


“Kamu kenapa, kok tiba-tiba muntah. Salah makan, atau mungkin kecapekan?” Mas Farhan memijat tengkuk ku pelan. Rasanya lumayan. Mual tak lagi menyerangku, aroma terapi dan pijitan Mas Fahri adalah perpaduan sempurna menurutku. Badanku jadi lebih enak, rasa kantuk tiba-tiba menyerangku. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan suamiku.


Pintu di buka dengan paksa ketika mataku hampir terpejam. Ibu mertuaku, siapa lagi yang masuk kekamarku tanpa sopan santun. Aku duduk, mas Fahri berdiri, dia menunduk dalam seperti biasanya. Aku melihat suamiku wajahnya ketakutan. Pandanganku beralih pada Ibu. wajah penuh amarah seperti biasa ketika berhadapaan denganku ahir-ahir ini. Tidak sekalipun aku melihat wajah ramahnya setelah aku sah menjadi menantu di rumah ini.


“Kamu kenapa muntah-muntah. Kalau bisa jangan hamil dulu, gaji Farhan belum cukup untuk membiayai seorang anak. Untuk kebutuhan rumah saja sering kekurangan. Masih harus di tambah anak, dimana kamu taruh pikiranmu itu.” Dari sekian banyak hal yang tidak di sukai mertua dariku, hal inilah yang membuatku terkejut. Dia seperti tidak percaya bahwa Tuhan sudah memberi rejeki sendiri bagi setiap kelahiran anak.


Mataku lurus menatap Ibu Mas Farhan, yang aku tahu bahwa di otak wanita tua ini hanya ada uang dan kesenangan. Sangat tidak masuk akal. Sekarang aku tahu mengapa setelah Bapak mertuaku di pesangon mereka tidak punya simpanan. Setahuku, dengan jabatan dan tempat kerjanya pesangon yang diterima bisa menghidupi mereka hanya dari bunga depositonya saja. Itu kalau Ibu bisa mengelola uang dengan baik. Sayangnya keinginan lebih besar dari kebutuhan.


“Kenapa menatap ibu begitu, atau jangan-jangan kamu beneran hamil. Farhan, bilang sama istrimu untuk menggugurkan kandungannya, Ibu tidak mau ada bayi di rumah ini” Ibu berlalu dengan wajah angkuh, dia tidak tahu bahwa yang dikatakannya barusan telah melukai aku. Kesekian kalinya dia menginjak harga diriku.


“Kamu nurut ya Ra, demi masa depan kita. Biar Ibu tidak marah lagi. Kalau memang beneran kamu hamil gugurkan dulu tidak apa-apa. Nanti kan kita bisa buat lagi. Nunggu keadaannya membaik” dengan wajah tanpa dosa Mas Fahri berucap, tumpah sudah air mataku. Kesekian kalinya laki-laki ini melukai aku tanpa harus menyentuh. Cukup lidah tajamnya yang menghujam jantungku.


“Apa salahku Mas, apa salah anak ini. Kalau memang aku beneran hamil. Kita menikah resmi disaksikan semua orang. Dia bukan anak haram. Bagaimana bisa kamu berkata begitu. Kamu boleh menuruti semua perkataan ibumu, tapi jangan sampai Tuhan menghukum kalian karena menghilangkan janin, itu sama saja membunuh. Seandainya pun aku hamil, aku tidak ingin menuruti keinginan gila kalian” tumpah sudah amarahku. Badanku tiba-tiba bertenaga setelah mendengar Tajam lidah suamiku.

__ADS_1


“Maafkan Mas Ra, bukan maksudku begitu. Paling tidak tunda dulu sampai ibu menginginkannya” lagi-lagi kata itu terucap tanpa perasaan. Kenapa selalu Ibu yang menjadi prioritas suamiku. Bahkan untuk kali ini saja aku ingin dia memelukku menenangkan setelah perbuatan Ibu. Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi laki-laki ini. Aku marah, muak tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2