KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
DUA ACARA SEKALIGUS


__ADS_3

Usai acara pamitku pada Ibu, dengan alasan secepatnya aku pulang terus langsung berangkat pulang ke kampung halamanku mengahdiri pernikahan saudara. Membayangkan tidak ada waktu saja rasanya capek banget. Demi senyum Ibu dan Mas Azka badanku nanti saja aku pikirkan.


Siang ini aku berdiri mengawasi mereka yang menyiapkan hidangan dan menata di tempat yang sudah di sediakan. Satu persatu undangan mulai masuk ke ruang tempat perhelatan. Aku yang berdiri sesekali melihat pekerjaan pelayan. Mas Ozil dan Mbak desy yang terlihat paling sibuk berjalan kesana kemari. Sesekali aku turun tangan.


Sudah banyak yang masuk, barisan para pengusaha, pejabat daerah serta orang-orang penting dari Ibukota. Penampilan mereka memang luar biasa. Apalagi wanitanya, segala tas dan baju branded serta perhiasan yang menempel di badan mereka tidak bisa aku hitung nominalnya. Demi prestige mereka rela merogoh kocek yang tidak sedikit. Tapi apalah artinya nominal bagi kaum berduit, terlihat sempurna adalah tujuan mereka.


“Laura, katanya cuti” Suara itu mengagetkanku


“Mas Arga” Kataku terkejut. Bagaimana dia ada di depanku sekarang. dan yang harus kalian tahu Mas Arga terliat lebih tampan dengan tuxedo hitamnya. “Ada tugas dadakan, habis ini langsung pulang ko” Rasanya canggung bertemu Mas Arga bertemu di momen seperti sekarang. karena tidak ada seorangpun undangan yang menyapaku dari tadi. Dan Mas Arga melakukannya dengan penampilan yang begitu elegan. Menghampiri seorang pelayan di perhelatan mewah bukan opsi yang baik untuk menjaga gengsi.


“Dokter Hardi yang tunangan Ra, laki-laki labil itu kemarin sudah sempat membatalkan. Kirain nggak jadi” Mas Arga menjelaskan tepat berdiri disampingku tanpa risih.


“Dokter yang nangani Mama kemarin ya. Beruntung banget dia. Laura belum tahu calonnya sih. Tapi kalau lihat bapa ibunya kayaknya cantik” jujurku pada Mas Arga


“Betul, hampir ketunda karena ceweknya mau lanjut kuliah lagi. Tapi karena didesak tunangan dulu sebelum berangkat ke jerman” Ceritany berdiri disampingku. Entah mengapa aku merasa risih berdiri dengan laki-laki disebelahku. Melihat pandangan orang rasanya tidak enak. Penampilanku dengan penampilannya sangat kontras untuk saat ini. dileherku tergantung kartu pengenal sebagai panitia. Sedangkan dia datang sebagai undangan. Dan semua orang tahu siapa yang bisa menjadi undangan, bukan kalangan biasa.


“Oh, Mas Arga kedepan saja tidak enak dilihat yang lain”


“Emang kenapa sih”


“Penampilanku gini Mas Arga gitu” Sebenarnya aku setengah mengusir tidak enak sama yang lain. Mereka sibuk aku malah ngobrol.


“Biasa aja kali Ra” Dia malah santai, entah siapa yang dia tunggu pandangannya lurus ke depan.


“Sudah Mas” Suara lembut dari arah belakang


“Nggak ada yang ketinggalan” Jawab Mas Arga pada wanta cantik yang terlihat baru keluar dari toilet.

__ADS_1


“Nggak ada kayaknya” Jawabnya sambil mengecek tas warna hitamnya.


Pantas saja Mas Arga berdiri disitu ternyata ada yang ditunggu.


“Oiya Sil, kenalin ini Laura temannya Chintya” Mas Arga memperkenalkan aku pada wanita itu


“Sisil, Kamu yang tinggal di rumah Mas Arga ya. Mas Arga sempat cerita kedekatan kamu sama chintya. Baru sekarang kita bisa bertemu. Senang berkenalan denganmu Laura” Mengulurkan tangan kehadapanku. Ramah, itulah kesan pertama yang aku tangkap.


“Laura” Jawabku pendek, memang apalagi. Aku rasa aku tidak perlu memperkenalkna diri lebih jauh. Sepertinya Sisil sudah tahu banyak tentangku. Ada rasa bangga wanita berkelas seperti mereka mau bersalaman dengan pelayan di sebuah acara besar.


“Mas tinggal dulu Ra” Pamit Mas Arga. Aku hanya mengangguk. Pasangan yang serasi. Sisil berjalan mengapit lengan Mas Arga sangat romantis menurutku. Aku yakin dia wanita yang spesial buat Mas Arga.


Aku bergegas pulang setelah berpamitan pada Mas Azka. Menepati janji pada Ibu. masih jam empat sore. Perjalanan dua jam cukup buat aku nyetir habis itu Istirahat ketika sampai dirumah nanti.


Aku lupa cerita, aku sudah bisa membawa mobil dan punya mobil bekas masih bagus keluaran tahun 2010. Model SUV warna hitam. Uang hasil tabunganku dan tabungan uangnya Shaka dari ayahnya. Aku sudah minta ijin untuk itu. Bahkan Mas Farhan sempat menawarkan aku membeli mobil yang lebih bagus keluaran terbaru, tapi aku tolak. Tidak enak rasanya merepotkan dia, karena Mas Farhan juga sudah punya keluarga. Sempat ngotot dengan alasan kenyamanan Shaka, tapi aku tolak dengan halus takut menyinggung perasaan. Khawatir hubunganku memburuk lagi dengan Ayahnya Shaka.


Aku ijin istirahat sebentar pada Ibu. kakiku benar-benar kebas rasanya. Aku tidur setelah mencium Shaka. anakku pun tidur dengan lelap di perjalanan.


“Istirahat dulu, mumpung Shaka masih bobo. Nanti ibu bangunin kalau kita mau berangkat” Ucapnya menyerahkan Shaka ke dalam gendonganku.


“Buatin kopi Bu” Suara Bapak lemah. Mungkin beliau sama capeknya dengan kami.


“Bangun nak, sudah jam tujuh” Suara ibu dan tepukan di pipi membangunkan aku.


“Kenapa baru bangunin Bu, kita sudah terlambat” Duduk meregangkan badan dengan mengusap mata berkali-kali.


“Cepetan siap-siap. Ibu sudah ijin budemu datang terlambat. Kasihan kamu kecapean” Lanjutnya lagi. Aku tidak melihat Shaka di sebelah “ Anakmu sudah siap, cepetan sana” Ibu bisa membaca pikiranku.

__ADS_1


Sepertinya acaranya sudah di mulai. Aku jadi tidak enak sama Ibu. pasti dia juga sungkan, padahal yang punya acara adiknya. “Maafin Laura Bu” menggandeng tangannya mendekat kearah pintu masuk gedung serbaguan ini. tidak terlihat lagi jejeran tuan rumah menyambut tamu undangan, mereka sudah ada di dalam pastinya. Tidak mungkinmereka menungguku sekalipun kami masih keluarga.


“Tidak apa-apa Budemu pasti ngerti kok” Ibu akan selalu seperti itu. dia tidak kan mempermasalahkan apapun tentangku. Yang dia katakan tidak apa-apa itu bukan keadaan sebenarnya.


Setelah berdesakan dengan undangan yang lain, ahirnya tiba giliranku untuk bersalaman dan foto bersama. Tidak lupa ku ucapkan selamat untuk mereka. Doa terbaik juga aku ucapkan agar hubungan mereka tidak sama denganku. Cukup aku saja yang mengalami kepahitna berumah tangga walaupun hanya seumur jagung.


Aku pernah bahagia yang teramat sangat di hari pernikahanku. Melihat senyum mempelai wanita ingatanku kembali, tentang bahagianya aku menerima ucapan selamat dari mereka. Lantunan doa terbaik aku aminkan dengan tulus ketika itu. Nyatanya, takdir tidak ada yang tahu. Bukan doa mereka tidak dikabulkan, hanya saja rencana Tuhan sedang berjalan ke arahku. Ketetapan sang pemilik hidup tidak ada yang bisa mengubahnya.


“Laura, aku pikir kamu tidak datang” Ayahnya Shaka menggandeng tangan istrinya ada tiba-tiba muncul dari arah belakang.


“Terlambat, karena ada pekerjaan dadakan” Ucapku tersenyum.


“Shaka mau gendong Ayah?” Tanyanya pada anakku yang aku gandeng. Aku tidak kuat menggendong Shaka terlalu lama. Di usia yang ketiga tahun. Hampir ke empat tahun badannya semakin berisi, pipinya menggembung menggemaskan.


“Endong?” Menyambut rentangan tangan Ayahnya. Kasihan anakku dia kecapean hanya di gandeng saja.


“Sudah besar anak Ayah, tambah ganteng lagi” Pujinya pada Shaka, aku melirik Miranda. Senyumnya hambar. Aku mengerti perasaannya sekarang. wanita mana yang tidak ingin mempunyai keturunan, tapi Tuhan sudah mentakdirkan Miranda begitu.


“Apa kabar Mir,?” Sapaku basa-basi. Melihat dia yang hanya tersenyum tanpa bicara.


“Baik, sepertinya kamu lebih bahagia ya sekarang” Miranda tetaplah miranda. Meskipun terkesan basa-basi tapi ucapannya tidak mampu aku tebak. Aku berusaha melupakan kejadian diruang perawatannya dulu. Karena aku tahu Miranda pasti tertekan.


“Iya, begitulah. Hidup harus dinikmati bukan” Senyumku secerah lampu penerangan di gedung ini. nyatanya wajah kecut Miranda masih aku tangkap.


“Tentu saja kamu menikmati hidup, karena Tuhan tidak membuatmu menjadi wanita yang punya kekurangan sepertiku. Apalagi dengar-dengar kamu habis beli mobil ya” Mobil sudah satu tahun lalu dia bilang baru. Apa mungkin Miranda baru dengar.


“Mobil bekas tahunnya juga lama, harganya murah. Aku tidak sanggup kalau beli yang mahal. Asal Shaka tidak kepanasan dan kehujanan saja” terpaksa aku cerita, takut wanita dengan gaun hijau botol ini salah paham. “Aku mau ambil makanan dulu” Menghindari pembicaraan yang mulai tidak enak arahnya. Sepertinya Miranda ingin menyampaikan sesuatu lagi. Aku takut lidahnya akan melukaiku.

__ADS_1


__ADS_2