
Obrolanku hanya menguatkan Mama. Chintya sidah tidak menangis lagi. Aku melihat Mas Arga melambai di luar kaca. Mungkin waktunya dia juga ingin berbicara dengan Mama. Aku keluar bersama Chintya. Biar Mas Arga bisa gantian.
Aku mencari tempat makan terdekat, Rumah makan di depan rumah sakit menjadi pilihan. Waktunya makan siang. Sambil nunggu Mas Arga selesai bicara dengan Mama. Sekalian aku juga mau menghubungi Mas Azka memberi kabar kalau sedikit ada keterlambatan.
“Lega juga setelah tahu keadaan Mama, kalau sudah gini baru kerasa lapar” Chintya bersuara.
“Cuma Vertigo sama tekanan darahnya yang naik, untung cepet di bawa” aku pun merasakan kelegaan yang sama. Kami mengobrol banyak hal sambil menunggu pesanan datang.
Dari jauh aku melihat seorang laki-laki berperawakan seperti Mas Farhan, tapi buat apa di disini. Bukan waktu libur, kan. Dan benar, ternyata dia. Setelah mendekat aku melihat wajahnya lebih jelas.
“Mas Farhan?” aku sengaja menyapanya karena dia kebetulan lewat di sebelah mejaku. “Ngapain disini?” Tanyaku lagi. Kami saling bertatapan bingung. Dia pun sama kagetnya melihat aku.
“Siapa yang sakit. Shaka baik-baik saja kan Ra” aku tidak heran dengan pertanyaan Mas Farhan. Karena sebagian besar pelanggan disini adalah mereka yang keluar dari pintu rumah sakit.
“Baik, dia di rumah sama kakek neneknya, Mas Arga sendiri ngapain disini” Ah, satu hal yang baru aku sadari. Kondisi Mas Farhan yang terlihat kurus dan sedikit berantakan. Wajahnya terlihat lelah. Mas Farhan tidak melanjutkan pertanyannya ketika tahu bukan Shaka yang sakit.
“Miranda sakit” Ucapnya lemah, dia seperti tidak punya semangat hidup. “Dia keguguran” lanjutnya lagi. Aku terkejut, Setahuku kalau hanya keguguran biasa rumah sakit didaerahku bisa mengatasi pasien. Tapi kalau sampai harus dilarikan ke Rumah sakit lebih besar, artinya ada yang serius dengan keadaan Miranda.
“Aku ikut prihatin” Ucapku dengan sungguh-sungguh walaupun aku tidak tahu kondisi Miranda yang sesungguhya.
“Mas boleh duduk disini?” Tanyanya meminta ijin, mungkin dia merasa tidak enak selain status mantan diantara kami, ada Chintya yang dari tadi hanya menyimak pembicaraanku.
“Tidak usah sedih, nanti juga Miranda pasti bisa hamil lagi, tidak ada masalah diantara kalian, kan” Ucapku menyemangati Mas Farhan.
“Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi” Aku terkejut mendengar penuturannya. Dia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya dariku. Kondisi Mas Farhan benar-benar terlihat kacau, tidak segar seperti sebelumnya. Memang sih, aku bertemu dia terahir ketika ulang tahun Shaka yang pertama dulu, setelahnya aku tidak pernah melihat wajahnya lagi, selain obrolan lewat aplikasi, sekedar berbagi kabar tentang Shaka. dan ketika memberitahuku tentang kiriman uang Shaka.
Aku pikir hidupnya sudah bahagia setelah menikah, aku bahkan tidak pernah bertanya tentang urusan pribadi, atau lebih tepatnya menghindari pembicaraan kearah sana. Menjaga privasi agar tidak saling mencampuri. Namun, tepat di umur ketiga Shaka justru cobaan sedang menimpa Mas Arga dan Miranda. Entah mengapa aku ikut sedih mendengarnya.
__ADS_1
“Rahim Miranda harus diangkat” Seketika aku terkejut, bulu kudukku meremang. Dugaanku benar kalau Miranda bukan ke guguran biasa.
“Kok bisa?” Suaraku dan Chintya hampir bersamaan. Aku tidak bisa membayangkan seorang wanita hidup tanpa rahim. Kebanggaan terahir sebagai sebuah penghargaan dari Tuhan yang membedakan kita dengan gender yang lain. Sekalipun mereka yang melakukan operasi perubahan bentuk alat vital, tapi untuk wujud yang satu itu tidak ada yang bisa membuat. Seolah itu adalah hak paten dari Tuhan.
“Jatuh dari tangga, Ayah yang menelponku ketika di kantor” Kalimat Mas Farhan tertahan, dia semakin menunduk. Aku tidak berani bertanya lebih. Aku bisa merasakan kesedihannya. Punah sudah harapan untuk memiliki anak.
“Sabar Mas, Tuhan sedang memberikan cobaan. Pasti nanti ada hikmahnya. Yang kuat ya” Chintya pun merasakan hal yang sama. Kalimat ungkapan rasa simpatinya mendapat anggukan dari Mas Farhan.
Mengangkat wajah menatapku dengan sendu “Tuhan sedang menghukum perbuatanku dulu sama kamu Ra” Matanya berembun, aku tahu Mas Farhan sangat terpukul dengan musibah yang menimpanya.
Aku tidak tahu bagian mana yang dianggap hukuman. Mungkin dia sedang kalut, kalimat yang keluarpun tidak terkontrol.
“Jaga Shaka baik-baik Ra, hanya dia yang aku punya sekarang. sekalipun aku tidak bertemu dengannya. Paling tidak aku sudah bahagia melihat foto yang kamu kirim” Aku mengirimkan setiap moment lucu Shaka pada Ayahnya. Baik foto maupun Video. Aku menganggap Mas Farhan tidak lebih sebagai teman. Karena ini semua demi Shaka.
“Jangan bicara begitu, Mas hanya sedang diuji. Nanti juga pasti akan mendapat kebahagiaan lain. Ikhlas saja menjalaninya” Nasehatku, itu pula yang aku rasakan ketika seolah Tuhan sedang mencabut kebahagiaanku ketika itu. sebenarnya bukan nasehat, tapi berbagi pengalaman meskipun kasusku dan dan Mas Farhan berbeda.
Aku hanya menghela nafas panjang, tidak tahu harus menjawab apa lagi. Memberikan nasehat pada orang yang terpukul itu percuma, tidak akan meringankan apapun. Semakin dalam kesedihan Mas Farhan.
“Boleh aku menjenguk Miranda?” Kalimat itu meluncur begitu saja. Aku ingin menguatkannya. Aku yakin miranda sama hancurnya dengan Mas Farhan. Bagaimanapun miranda pasti juga menginginkan anak.
“Mas Ambil pesanan dulu, nanti kita kesana bareng. Atau kalau kamu mau makan dulu tidak apa-apa. Mas tunggu diruang perawatan” Mas Arga pergi setelah memberi tahu tempat ruangan Miranda di rawat.
“Mau ngapain jenguk medusa, iya kali dia mau nerima kamu. wanita kayak Miranda itu pikirannya negatif kalau tentang kamu. nggak usah sok peduli, batalkan” entah apa yang membuat Chintya tidak menyukai Miranda.
“Dia kan lagi dapat musibah, tidak ada salahnya ngasih semangat kan” sanggahku. Siapapun pasti senang kalau dikunjungi. ketika terpuruk seseorang hanya butuh nasehat dan ungkapan postif untuk membangkitkan semangat nya lagi
“Jangan bayangkan Miranda itu seperti kamu Ra, tidak sama sekali. Kalau kamu masih ngotot, berangkat sendiri aku nggak ikutan” Ya ampun. Chintya ini kenapa sih. Kayak benci banget sama Miranda.
__ADS_1
“Temani sebentar yah, pliis Chintya yang manisnya nggak habis-habis” tanganku menelungkup di dada. Memohon dengan wajah yang dibuat memelas.
“Oke, aku antar. Tapi kalau ada apa-apa aku tidak bertanggung jawab” jawabnya ketus.
Kami makan sambil membicarakan keadaan Mama dan Miranda yang sakit di saat yang bersamaan. Entah apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup Mas Farhan.
mengetuk pintu dua kali, setelah selesai makan. Inilah ruangan tempat Miranda dirawat sesuai petunjuk yang diberikan Mas Farhan.
pintu itu terbuka setelah ketukan yang kemudian tiga. Mas Farhan menyembulkan kepala di baik pintu menyambut kedatangan kami dengan ramah.
.
" Silahkan masuk, Miranda sudah bangun" Tangannya membentang, mempersilahkan kami masuk.
"Maaf berantakan", ujarnya memasukkan beberapa baju dan plastik yang berserakan.
" Ada Laura, sama Chintya. mereka mau jenguk kamu" Berbicara pada Miranda setengah berbisik. tidak ada jawaban.
Entah hanya perasaanku atau tidak, aku melihat tatapan Miranda tajam, seakan menguliti tubuhku.
Mas Farhan menghilang piring berisi menu makan siang,. menyuapkan ke mulut miranda perlahan. Aku melihat begitu sayangnya Mas Farhan pada Miranda.
"Sambil nyuapin, nggak apa-apa kan Ra? " tanyanya. Mungkin Mas Farhan merasa tidak enak, karena tidak melayani ku sebagai tamu.
" Santai saja Mas"jawabku, aku mengerti keadaannya karena aku bertamu ke rumah sakit.
***
__ADS_1
Apakah Miranda berdamai atau bahkan membenci Laura. tebak- tebakan yuk.