
“Kamu tiduran, kalau sudah sampai Mas bangunin” Mas Arga berucap sambil tatapannya fokus ke depan. Kami berangkat dengan Mas Arga yang membawa mobilku.
“Mas Arga nggak apa-apa?” Tanyaku penasaran. Aku duduk di sebelahnya. Bapak duduk di belakang memangku Shaka. bapak memang lebih suka duduk di belakang, katanya bisa lebih santai.
“Hanya dua jam kan?” Tanyanya. dua jam kalau duduk di rumah atau tidurna mungkin nggak akan terasa tapi kalau dalam perjalanan entah mengapa rasanya sangat lama.
Kalau boleh aku jujur perasaanku sama Mas Arga mulai sangat nyaman. Perlakuan kecilnya membuat dadaku sering berdetak tidak karuan. Tapi aku tidak ingin berharap lebih. Apalagi setelah tahu kalau Mas Arga sudah punya kekasih yang jauh lebih segalanya dari aku. Aku juga sadar statusku.
Aku pikir sikap baik Mas Arga kepadaku tidak lebih karena simpati, kebaikannya pada Shaka hanya karena kedekatanku dengan keluarga mereka yang sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Aku memang wanita lemah dalam menjaga perasaan.
Terkadang aku berharap lebih pada Kakaknya Chintya ini. perlakuannya dan kedekatan kami membuatku sering salah paham. Aku berusaha mengubur dalam-dalam perasaan yang mulai tumbuh tanpa terkendali. Mas Arga tidak pantas mendapatkan wanita sepertiku. Ada banyak wanita di luar sana yang pasti lebih memenuhi kriterianya menjadi calon istri laki-laki tinggi ini.
“Kalau masih capek kamu ijin dulu lah, aku yang bicara sama Azka” ujarnya memaksa kelaku menatap wajah tampannya.
“Nggak enak Mas, sudah di kasih cuti satu minggu malah mau nambah” Aku tidak enak kalau harus menambah cutiku. Seminggu kemarin sudah cukup bagiku, apalagi nanti pakerjaanku akan lebih menumpuk kalau di tinggal lagi.
“Istirahat satu hari lagi, baru besok lusa kamu mulai kerja. Azka itu orangnya enak ko” Tanpa mengalihkan pandangan dari jalannan.
Terkadang ini yang membuatku salah paham akan sikap baik Mas Arga. Walaupun yang dia ucapkan hanya sederhana tapi aku tidak berbohong kalau dadaku membuncah. Degupku lebih lincah.
Hening, tidak ada pembicaraan lagi diantara kami. Hingga kami sampai di depan rumah ketika Mas Arga membangunkanku dengan panggilan suaranya.
Aku mengikuti saran Mas Arga, istirahat satu hari lagi. Esok harinya aku baru memulai kerja. Dan benar dugaanku pekerjaan di mejaku sudah menumpuk. Entah berkas apa saja yang mereka letakkan disana. Pikiran setelah cuti itu beneran ada. Semnagatku menyalaingin menyelsaikan semuanya.
Hari ketiga aku tiba di Surabaya baru sempat berkunjung ke tempat Mama. Sengaja aku datang malam hari, menunggu waktu senggang. Aku hanya berdua dengan Shaka, kasihan kalau mengajak Ibu. aku membiarkan Bapak dan Ibu istirahat lebih awal.
“Shaka sayang, baru datang ke rumah eyang sekarang nggak tahu apa kalau eyang kangen banget” Sambutnya ketika membuka pintu. Wajahnya ceria seperti biasa.
“Chintya mana Ma?” Tanyaku, karena memang sengaja aku tidak mengabari kalau berkunujng hari ini.
“Ada di kamarnya, panggil sana biar Mama main sama Shaka dulu” Shaka sangat senang bertemu Mama, mungkin kangen dia karena seminggu lebih tidak ketemu.
“Ada sedikit oleh-oleh dari Ibu, beliau minta maaf tidak bisa ikut karena capek seharian jaga Shaka” Ucapku menyerahkan dua buah plastik besar.
“Banyak banget Ra, nggak usah repot gini. Kamu datang bawa Shaka aja Mama sudah senang banget” Tuh, kan Mama. Dia itu selalu tidak ingin membuat orang lain repot.
“Sedikit kok, oiya aku nyusul chintya ke kamar” Berlalu menuju lantai dua.
Aku buka pintu setelah ketukan ketiga, dan suara chintya mempersilahkan aku masuk.
__ADS_1
“kok nggak ngabari kalau mau kesini” Protesnya, berjalan di menghampiriku.
“Tiba-tiba aja nggak ada rencana. Mumpung sempat, tiga hari aku lembur ngerjakan tugas seminggu. Capek tapi puas habis liburan”
“Kamu bawa Shaka, kangen banget aku”
“Ada di bawah sama Mama”
“Kamu mau disini? aku ke bawah dulu” Chintya bergegas keluar kamar meninggalkan aku sendirian. Dasar anak itu, sekarang perhatian mereka hanya pada Shaka. apalagi Chintya, bahkan dia minta di panggil ounty. Aku menyusul ke bawah.
Pemandangan itu masih sama, Chintya yang tidak berhenti mencium Shaka di seluruh wajahnya membuat anakku berontak. Tangisnya mulai terdengar, bahkan suara Mama menegurnya juga nggak di dengar.
“Shaka kangen ounty?” Tanyanya, sambil terus mencium pipi Shaka
“Nggak” Jawaban Shaka membuat mama terpingkal
“Kamu tuh, nyiumnya berlebihan chin, Shaka nggak nyaman” Melihat Shaka berusaha mendorong wajah Chintya yang memaksa hendak menciumnya aku sampai tidak bisa menahan tawa.
“Nanti nggak diajak ke play ground sama onty, cium bentar” Masih maksa Shaka. hairnya anakku menyerah setelah mendengar bujukan Chintya.
“Kamu bawa main Shaka ke kamar, Mama mau ngomong sama Laura” menyerahkan Shaka ke dalam gendongan Chintya. Tentu saja sahabatku itu menerima dengan senang hati,
“Main di kamar ounty, banyak robot” Wajah anakku berbinar setelah mendengar mainan kesukaannya.
“Mama masak, sop iga. Cobain yuk” Membawa kakiku ke meja makan. Benar saja, sop Iga dengan tampilan yang menggugah selera terhidang dengan kepulan asap yang mulai menipis. Sepertinya Mama baru selesai makan malam.
“Enak Ma, kuahnya seger. Acar sama perkedelnya juga enak. Kebetulan sudah makan sebelum kesini tadi, nggak pakai nasi boleh kan Ma” Tanyaku, aku memang benar-benar masih kenyang setalah makan malam dengan Ibu.
“Habisin, nggak enak kalau besok pagi di angetin” Ujarnya, mendorong mangkuk besar sop Iga ke hadapanku, padahal yang di piringku masih banyak.
“Kamu di jemput Arga?” Tanyanya, hatiku mulai tidak nyaman setelah melihat wajah Mama yang tiba-tiba serius.
“Iya, katanya Mama yang suruh. Harusnya nggak usah Ma. Laura masih kuat nyetir, kasihan Mas Arga ganggu waktu weekend nya”
“Mama nggak nyuruh, Mama Cuma bilang kalau kamu sakit padahal kamu mau balik” Aku menghentikan suapan yang sudah diambang bibir. Tatapanku mencari kebenaran di wajah Mama. “Dia bilang mau jemput karena kasihan Shaka takut ada apa-apa di jalan” Lanjutnya. Antara lega dengan bahagia berbaur menjadi rasa yang aneh. Begitu pedulinya Mas Arga sama anakku.
“Oh, kirain Mama yang maksa” kembali aku melanjutkan suapan sop Iga ke mulut.
“Ra, dari dulu Mama menyayangi kamu sama seperti Mama menyayangi chintya” Aku angkat wajah mulai menerka kemana arah pembicaraan Mama. “Mama punya satu permintaan sama kamu” Badanku menegang. Selama aku tinggal dengan Mama hingga Shaka lahir baru sekarang Mama punya permintaan.
__ADS_1
“Mama ngomongnya kok jadi serius gini, Laura jadi takut Ma” Aku tidak berbohong. Ini keadaan paling aneh yang aku rasakan selama aku mengenal Mama
“Mau nggak kamu nikah sama Arga” aku hampir menyemburkan air minum di tegukan pertama.
“uhukkk…uhukkk…” Dadaku panas, mataku sampai ber air. Aku yakin wajahku pun pasti merah. Air yang masih dipangkal lidah tiba-tiba memaksa masuk tanpa aku telan.
“Pelan Ra” Menepuk punggungku lembut. Bukan salah air, tapi omongan Mama yang membuatku tersedak.
“Mama bercanda kan?” Aku harap Mama bercanda kali ini. sungguh topik kali ini benar-benar tidak pernah ada dalam pikiranku.
“Mama tidak pernah bercanda soal pernikahan, Mama sungguh meminta sama kamu” Ucapnya dengan tatapan teduh seperti ketika Ibu menatapku.
“Hubungan kami tidak seperti yang Mama lihat, aku dan Mas Arga tidak punya perasaan apa-apa” Berusaha menjelaskan. Aku takut Mama menyangka kedekatanku dengan Mas Arga karena punya hubungan yang serius.
“Mama pikir kalian cocok, bahkan sangat cocok. Kalian juga punya banyak kemiripan” Wajah Mama antusias di tengah aku yang masih belum percaya dengan keadaan.
“Tapi Ma…”
“Jangan menolak hanya karena status kamu. kami tidak pernah mempermasalahkanya” Mama menyambar ucapanku sebelum aku melanjutkan.
Kami, dalam arti mereka semua, apa Mas Arga dan chintya tahu rencana Mama. Dadaku bergetar hebat, sampai tanganku tremor. Mungkin sekarang wajahku seperti orang bodoh. Atau bisa jadi ini hanyalah mimpi.
“Kami tidak punya kecocokan apapun Ma. Kasihan Mas Arga, dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik” Setelah aku bisa menguasai diri kalima itu meluncur.
Aku memang mengagumi semua yang ada dalam diri Mas Arga, tapi kalau sampai menikah itu tidak ada dalam bayanganku. Dia laki-laki yang baik, fisiknya juga cukup menawan . aku yakin tidak akan sulit bagi Mas Arga menemukan wanita yang tepat. Dan itu bukan aku.
“Mama tidak pernah meminta apapun dari kamu , untuk kali ini Mama meminta dengan kesungguhan hati sebagai seorang Ibu, menikahlah dengan Arga” Aku tidak melihat kalimat persetujuan tapi lebih kepada kalimat perintah.
“Boleh Laura tahu alasannya?” Yah, Mama tidak mungkin tiba-tiba datang memintakau begini tanpa perencanaan yang matang. Mama bukan tipe wanita yang punya pemikiran spontan. Dia seorang pengusaha tentu semua hal sudah diperhitungkan baik buruknya. Lengkap dengan kemungkinan yang akan terjadi di depan.
“Mama menyayangi kalian” Alasan Mama tidak bisa aku terima. Tanpa pernikahan pun Mama akan tetap menjadi wanita terbaik di mataku dan aku sangat menyayanginya seperti ibu kandungku.
“Itu bukan alasan Ma” Dengan penuh keberanian aku membantah Mama. Menganggap Mama sebagai Ibu dengan menganggapnya sebagai mertua itu akan sangat berbeda. Tentunya akau akan lebih canggung setelahnya tidak akan bisa dengan leluasa aku bersikap di depan Mama. Akan ada batasan yang mungkin tidak bisa aku jangkau.
“Mama hanya ingin kamu dan Arga jatuh pada orang yang tepat. Menemukan pasangan hidup yang Mama tahu latar belakangnya dengan baik. Mama selalu memikirkan kamu dan Shaka. mencari ayah sambung yang mau menerima Shaka itu tidak mudah” Ya Tuhan, sampai sejauh itu Mama memikirkanku.
Mas Arga sudah punya Sisil, apa jadinya kalau aku masuk kedalam hubungan mereka, merusak segalanya dan menjadi orang ketiga diantara mereka. bukankah itu hanya akan memperburuk citra seorang janda.
“Tapi Mas Arga sudah Punya,,,,”
__ADS_1
“Namanya Sisil. Mereka hanya teman Mama tahu semuanya. Jadi tidak ada yang perlu kamu takutkan” Oh, Mama tidak tahu kalau mereka lebih dari itu. Mas Arga memperkenalkan sebagai teman. Tapi yang aku lihat lebih dari itu.
Walaupun aku hanya bertemu sekali, tapi dari cara mereka berjalan. Bahasa tubuh keduanya bahkan cara sisil menggelayut di lengan Mas Arga sudah membuktikan kalau mereka bukan hanya sekedar teman. Hubungan mereka lebih serius bukan hanya sekedar teman biasa.