KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
CERAI


__ADS_3

Tiga bulan sudah aku kembali kerumah, tidak sekalipun suamiku mencari tahu keberadaanku. Bahkan menghubungi lewat telpon pun hanya sekedar bertanya keadaanku tidak dia lakukan. Secepat itu suamiku melupakan aku. Betapa dia tidak pernah mengaggapku ada selama ini. Bagaimana aku bisa menikah dengan laki-laki seperti itu.


Duduk melamun termenung adalah pekerjaan menyenangkan ahir-ahir ini. Hilang selera makanku, berkurang waktu tidurku. Ternyata sakit hati itu imbasnya luar biasa. Aku merasa bobotku berkurang. Itu pula yang ibu dan teman kantorku katakan. Badanku lebih kurus katanya.


Mungkin keinginanku terlalu besar terhadap suamiku. Aku berharap dia menghubungiku sekedar bertanya tentan kabarku, rupanya itupun sulit dilakukannya. Aku sekarang benar-benar sadar bahwa hati Mas Farhan memang tidak pernah ada buatku. Kata manis dan janjinya selama ini hanya bualan saja, dan bodohnya aku percaya itu.


Ahirnya surat panggilan persidangan dari pengadilan sampai juga ditanganku, aku yakin Mas Farhan pun sudah mendapatkannya. Lagi-lagi aku kecewa karena dia tidak menghubngiku sekedar bertanya tentang surat panggilan cerai itu. Menyedihkan memang, aku hanya istri untuk melengkapi statusnya sebagai suami. Tidak untuk benar-benar diperlakukan sebagai wanita pelengkap hidupnya. Miris bukan, sipapun yang mendengar kisahku mungkin akan berpendapat yang sama, aku istri yang naif.


Setelah melalui semua pertimbangan, aku ahirnya mendaftarkan gugatan cerai. Ini bukan langkah gegabah yang aku ambil. Sudah tiga bukan Mas Fahri melalaikan tugasnya sebagai suami, memberiku nafkah lahir dan bathin. Bahkan laki-laki itu seolah enggan untuk bertemu dengan ku. Tidak ada yang bisa kami pertahankan lagi, karena suamiku memang benar-benar menginginkanku keluar dari kehidupannya.


Aku yang masih terlalu berharap sedangkan suamiku tidak punya itikad baik untuk memperbaiki semuanya. Maka harapan apalagi yang harus aku tunggu. Semuanya selesai.


Ketika pertemuanku diruang mediasi, laki-laki yang pernah menjadi kebangganku itu hanya diam dan menunduk. Tidak sekalipun dia menyangkal semua yang dikatakan pihak mediator. Bahkan ketika ditanya keinginan untuk mempertahankan kehidupan rumah tangga kami. Dia masih enggan menjawab dengan pasti. Dan selama itu pula dia tidak pernah menatap wajahku. Melihat dia melakukan itu. Aku yang semula masih berharap semua masih bisa diperbaiki, sekarang sudah mantap bahwa berpisah dengannya adalah jalan terbaik bagiku. Tidak ada untungnya mempertahankan suami tidak berguna.

__ADS_1


Sampai di putusan ahir pengadilan yang mengesahkan status kami, seketika itu aku lega. Aku tak lagi menjadi istrinya. Kehidupanku sudah merdeka sekarang. Semua berjalan dengan mulus tanpa drama. Dia yang selalu didampingi Ibunya.


Bertemu dipernikahan berpisah karena ego, kembali kami dipertemukan dalam ruang persidangan. Dipersatukan karena cinta dipisahkna oleh benci. Terlalu singkat usia pernikahanku, aku tak menyesalinya. Daripada aku berlama-lama dalam kubangan derita.


Tidak ada seorangpun yang tahu janin dalam perutku. Mas Farhan sekalipun. Karena aku membohongi mereka ketika pertanyaan tentang kehamilanku di ajukan. Aku tidak ingin janin ini menjadi penghalang kebebasanku. Dan lebih parahnya aku tidak ingin anakku punya keluarga pengecut seperti ayahnya. Aku yang akan bertanggung jawab atas apapun. Aku akan menjadi Ayah dan Ibu yang hebat untuk anakku.


“Sabar ya Ra, aku yakin kamu kuat. Ada aku, kamu boleh minta bantuan apa saja. Aku selalu ada buat kamu.” Satu-satunya orang yang selalu mendampingiku. Chintya, bahkan rela bolos dari tempat kerjanya demi menemaniku dan menguatkan aku menjalani putusan sidang. Mahluk cerewet yang tidak akan diam sebelum memastikan aku tenang. Perempuan yang selalu mengelus perutku ketika aku menangis. Dan hari ini dia hadir di persidanganku.


Aku peluk erat Chintya, aku tidak bisa berkata. Bahunya basah karena air mataku. Dan wanita bodoh ini ikut menangis, bahunya berguncang lebih keras dariku. Tidak ada keluargaku yang menemani, tidak tega katanya. Mereka memang selalu tidak pernah tega melihat air mataku. Mas Farhan tidak mempersulit, tentu saja karena dia pun menginginkannya. Seolah keluarga suamiku tidak ingin berlama-lama menunggu hasil ahirnya.


“Kalau saja kamu bertahan sebentar saja, kita tidak akan begini Ra. Aku sedang berusaha untuk menjadi suami yang baik. Aku juga sedang berusaha untuk memenuhi semua keinginanmu untuk hidup mandiri. Tapi kamu tidak memberikan aku kesempatan itu. Aku tidak selingkuh, aku bukan pemabuk, pemakai bahkan aku juga tidak pernah berkata kasar padamu” dengan nada penuh percaya diri.


“Dan kamu juga tidak pernah melindungiku, tidak pernah membelaku didepan Ibumu. Bahkan kamu juga tidak berusaha memperbaiki semuanya. Tidak bertanya kabarku. Waktu tiga bulan aku kira cukup untuk bisa membuktikan bahwa kehadiranku tidak diinginkan. Aku hanya berusaha menjadi lebih baik, inilah jalannya” Semua pendapat tentang suami sempurna dimata Mas Farhan aku patahkan. Kalau tidak sanggup menjadi suami tidak harus memaksakan diri. Tapi aku sudah tidak ingin mendengar apapun. Persepsi yang dibangun tentang tanggung jawab dan kewajiban suami di mata Mas Farhan hanya sebatas pengabdian kepada ibunya. Selebihnya tidak ada.

__ADS_1


Diam, seperti biasanya. Aku menunggu pembelaannya lagi. Aku menunggu kata-kata penyesalannya untukku. Tapi tidak ada. Satu menit, dua menit hingga berlalu sepuluh menit kami saling berhadapan. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya, selain menyalahkan aku seperti yang dilakukannya tadi. Lagi-lagi harapanku pupus, hanya demi mendengar kata maaf dari Mas Farhan.


Kulangkahkan kaki menjauhi laki-laki yang masih setia memandang ujung sepatunya, karena dari kejauhan aku melihat mantan ibu mertuaku mendekati kami. Tidak ingin berdebat, lelah ingin tidur hanya itu yang terbayang dalam benakku.


Aku ingin pergi ke suatu tempat, sendirian. Ingin berteriak sekencang-kencangnya. Menumpahkan gumpalan rasa sakit dan kecewa yang menghimpitku. Aku butuh menumpahkan air mata lebih banyak lagi. Hingga aku tidak akan menumpahkan lagi setelahnya.


Aku tidak tahu apa rencana Tuhan dengan takdirku sekarang, yang jelas aku belum bisa ikhlas atas semuanya. Rasa sakit masih menguasai hatiku. Kebencian dan dendam ini masih menari dibenakku. Aku ingin mereka merasakan apa itu rasa sakit seperti yang aku rasakan sekarang. Atau mungkin lebih sakit dari ini. Aku benci mereka yang membuatku merasa tersanjung dan terhina dalam waktu bersamaan. Diamnya Mas Farhan bisa aku artikan bahwa dia memang tidak pernah ingin memperbaiki semuanya.


Aku bersimpuh dipangkuan ibuku, sekali lagi air mataku tumpah ruah. Sesak di dada, hingga ku kesulitan bernafas. Setelah Chintya mengantarku sampai didepan pagar dan meninggalkanku karena harus kembali bekerja. Aku berlari menghambur pada wanita yang melahirkanku setelah pintu terbuka. Ini keadaan paling damai sejak kesakitan itu. Berada di pangkuannya seperti melahirkanku kembali sebagai anak. Kami menangis, ibu mengusap bahuku pelan. Bapak mengusap rambutku berulang ulang. Tangis kami pecah, inilah puncak dari masalah hidup yang aku alami. Pada ahirnya mereka juga yang menangis pilu.


“Ibu menyerahkanmu dengan penuh keyakinan, bahwa Farhan mampu membuatmu bahagia. Bisa menggantikan tugas bapak untuk membimbingmu kejalan yang lebih baik. Menyayangimu seperti kami. Nyatanya kami salah besar. Maafkan bapak sudah gagal menjadi orang tua” Bahu bapak berguncang, laki-laki kebanggaanku itu sedang menyesali perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Seharusnya dia yang datang menyesali semuanya. Bertambah perihlah hatiku melihat air mata Bapak.


“Sudah takdirku memang harus begini Pak, Laura ikhlas. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan hadiah manis buat kita” Bahkan aku sendiri tidak yakin dengan kata-kataku. Demi menguatkan bapak bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan meyakinkan hatiku bahwa ini hanya sementara.

__ADS_1


aku nikmati luka ini, suatu saat aku akan mengenangnya, bahwa aku pernah menangisi laki-laki bodoh seperti Mas Farhan. Aku yakin itu.


__ADS_2