
“Tahu tidak? Bangunan kosong yang ada di Garuntang? Yang dulu bekas Rumah Sakit?“ tanya Fitri kepadaku dan Jayadi.
Kami bertiga sedang berada di kamarku.
“Iya tahu,“ jawab Jayadi. Wajahnya nampak sangat antusias menatap Fitri. Entah antusias karena cerita Fitri, atau karena Fitri-nya?
“Di lorong rumah sakit itu kalo malam. Sering terdengar langkah cepat kaki orang, Bang. Terus di ruangan bekas laboratoriumnya, katanya sering terdengar suara orang nangis dan teriak-teriak kesakitan,“ lanjut Fitri.
Fit, mohon hentikan, Fit.
“Beh! Ngeri. Terus-terus?“ tanya Jayadi, dengan wajah penasaran.
Jayadi, Kau tak usah tanya-tanya. Hentikan! Hentikan!
“Bang Jay pernah lihat tidak? Ambulan di tempat parkir rumah sakit itu?” tanya Fitri.
“Iya, yang di depan ruangan IGD,“ balas Jayadi.
“Katanya ... dari belakang kursi kemudi. Sering ada penampakan pria yang kepalanya berlumur darah,“ ucap Fitri, wajahnya begitu serius.
“Fit! Fit!“ Panggil ibuku dari lantai bawah.
“Iya, Bu .... “ jawab Fitri.
“Ini kopinya abangmu sama Jayadi sudah jadi, ambil,“ perintah Ibuku, dan Fitri bergegas bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju lantai bawah.
Setelah Fitri meninggalkan kamar,
__ADS_1
“Bang Ben?“ bisik Jayadi.
“Napa?“ jawabku, dan aku harus berusaha menahan tawa, karena melihat wajah Jayadi yang pucat.
“Saya minep di sini, ya? Mau pulang ngeri, abis denger ceritanya Fitri,“ katanya.
Sontak aku tertawa geli mendengar permintaan Jayadi. Aku tahu betul dia itu takut sama cerita mistis. Makanya tadi Aku berharap Fitri menyudahi ceritanya. ”Lalu, kenapa tadi kau ngeladenin si Fitri?“ tanyaku.
“Yaelah, Bang. Masa Bang Ben gak paham sih? Kan biar bisa ngobrol sama si Fitri, Bang. Abang kan tau sendiri, kalo saya ini sudah kesengsem banget sama si Fitri,“ katanya.
“Ya, terserah kamu saja, Jay,“ jawabku.
Itulah yang dilakukan pria yang sedang jatuh cinta, seperti Jayadi ini. Dia tahu kalau dirinya takut sama hantu dan cerita mistis. Tapi tetap dia ngeladenin si Fitri dengan cerita-cerita horornya. Alasannya? kalian dengar sendiri tadi, "biar bisa ngobrol," Hah! Jayadi ... Jayadi.
“Bang, kata Fitri kemaren malem Bang Ben nganterin Lela belanja?“ tanya Jayadi.
“Kemaren malam kan, saya kesini, Bang. Tapi karena Bang Ben pergi, ya saya pulang lagi.“
Oh, iya juga. Aku lupa pesan ke orang rumah, biar jangan bilang siapa-siapa kalau aku pergi sama Lela. Kulihat Jayadi menunggu jawabanku, dengan wajah yang sangat penasaran. “Iya Jay. Pak Selamet yang minta. Biasalah, kau tahu kan? Lela itu kan masih bingung dengan aturan berpakaian di perusahaan kita. Jadi, Pak Selamet meminta aku untuk memani dia belanja. Agar aku bisa memberi saran, mana yang pantas atau tidak, saat digunakan nanti ketika Lela kerja,“ jawabku pada Jayadi.
Jayadi mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar jawabanku.
“Tadinya saya pikir, Bang Ben ada main gitu sama si Lela.“
“Ah! main gimana maksudmu?“
“Ya, saling suka gitu Bang maksudnya,“ jawab Jayadi.
__ADS_1
“ Hahaha, tidak lah, Jay.“
“Ya ... tadinya saya pikir gitu. Saya kan, pernah lihat Lela satu dua kali, waktu nganterin Erwin, ada urusan di toko Sumber Kue. Kalo saya lihat, anaknya cantik kok, baik juga. Cocok lah, sama Bang Ben.“
Cerdas ucapanmu Jayadi! Cerdas.
“Bang Ben kan, orangnya yang saya kenal baik dan berfikir positif. Jadi, pantas lah menurut saya,“ kata Jayadi.
“Ah! Bisa saja kau, Jay!" Tentu saja hatiku bergetar mendengar pendapat Jayadi.
“Cieeee ... lagi PDKT,“ ucap Fitri tiba-tiba dari balik pintu.
“Siapa yang jau maksud?“ tanyaku.
“Itu Bang Ben sama Mba Lela?“
“Ah, kau ini kalau mendengar perbincangan orang itu jangan setengah-setengah. Jadinya kau salah tangkap!“
“Memang gitu, Bang Jay?“ tanya Fitri pada Jayadi, sambil meletakkan dua gelas kopi hitam yang masih mengebul asapnya di hadapan aku dan Jayadi.
“Iya, ternyata abangmu ini kemarin nganterin Lela karena disuruh Bapaknya,“ jawab Jayadi.
“Yah ... sangkain lagi PDKT,“ balas Fitri.
“Heh! Kalian berdua ini, jangan-jangan habis gosipin Abang ya?“ tanyaku kepada mereka berdua.
“Ya, bukannya gitu loh, Bang. Kan Bang Ben gak pernah bawa perempuan main. Jadi, wajar lah, kalo kita kira Bang Ben lagi PDKT sama Mba Lela,“ jawab Fitri.
__ADS_1
Aku pikir benar juga ucapan Fitri. Aku memang belum pernah pergi dengan perempuan lain selain Ibuku atau Fitri. Yah, bisa di bilang aku ini jomblo 26 tahun. Mengenaskan!