KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 33


__ADS_3

Apa yang dilakukan Jayadi? Menjadi trending topik di dalam pikiranku. Ketika aku sedang makan, apa yang dilakukan Jayadi? Ketika aku sedang mandi, apa yang dilakukan Jayadi? Sebelum aku tidur, apa yang dilakukan Jayadi? Bahkan di dalam mimpi pun, aku bertemu Jayadi sedang duduk berdua dengan Fitri di bangku sebuah taman, dikelilingi bunga-bunga bermekaran yang sungguh indah warnanya. Sangat romantis. Hal yang membuat aku terbangun jam tiga dini hari ,dengan tubuh yang gemetar hebat.


Yang membuat aku semakin penasaran dengan cara apa yang dilakukan Jayadi, hingga dia berhasil mendekati wanita mistis dan misterius seperti Fitri adalah, Fitri itu orangnya sulit percaya kepada siapapun. Bahkan, dia tidak akan sembarangan memberikan nomor handphone-nya kepada sembarang orang. Aku pernah iseng membuka handphone-nya, dan melihat kontak yang dia simpan; hanya ada lima orang saja! Aku, ibuku, ayahku, wali kelasnya, dan Maryam, teman sekolahnya ketika SMP yang sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Aku pernah bertanya kepada Fitri, kenapa dia masih menyimpan kontak orang yang sudah meninggal? Fitri tidak berkata apapun, hanya sebuah senyuman yang dia berikan untuk menanggapiku. Senyuman dingin yang bisa membuat siapapun yang melihatnya, bergidik.


Fitri itu sama sepertiku, jomblo dari lahir. Anggaplah ini semacam kekompakan antara kakak dan adik. Tapi biarpun sama, ada perbedaan antara kami berdua yang meyebabkan kejombloan ini. Kalau aku kan karena kurang percaya diri. Nah, kalau Fitri, karena rasa ketidakpercayaannya kepada orang lain. Makanya diaa tidak tertarik untuk menjalin hubungan asmara pada siapapun. Tapi jangan salah, banyak pria yang mendekati Fitri. Jayadi itu hanya salah satunya saja. Ya, adikku itu memang cantik dan pintar, walaupun sedikit mematikan.


Aku sebelumya sempat memprediksi kalau Jayadi  tidak akan pernah bisa berhubungan dekat dengan Fitri. Jangankan menjalin hubungan asmara, bisa makan malam berdua saja, aku ragu. Tapi ternyata prediksiku salah. Fitri meminta Jayadi untuk menjeputnya pulang sekolah, lalu mereka pergi menonton pertandingan basket. Sialan!


Sesungguhnya, ketika semalam Jayadi mengantar pulang Fitri setelah mereka menonton pertandingan basket. Aku ingin meminta Jayadi untuk menginap di rumaku, ingin aku introgasi dia. Tapi sayang, katanya dia harus ke rumah sakit, karena kakak iparnya baru saja melahirkan. Yasudahlah, lolos kau malam ini Jay!


👁👁👁


Keesokan paginya, setelah sarapan, aku diminta Fitri untuk mengantarnya berangkat sekolah. Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga aku tidak mengantar Fitri pergi sekolah. Mungkin terakhir kali saat dia masih SMP, sekitar tiga tahun yang lalu.


Di perjalanan, aku sempat bertanya kepadanya, "Fit, kemarin kata Jayadi kau ngajak dia nonton pertandingan basket?"

__ADS_1


"Iya, biar ada temen aja, Bang. Bang Jay kan pengangguran, sama kaya Bang Bento. Hidup gak jelas di usia yang sudah tidak muda lagi," jawab Fitri.


Karena jawaban yang dia berikan membuatku sakit hati, jadi aku tidak melanjutkan pertanyaanku lagi. Kejam.


Aku menurunkan Fitri tepat di depan gerbang sekolahnya. Setelah turun dari motor, dan memberikan helmnya kepadaku, dia berjalan memasuki area sekolahan tanpa berucap terima kasih, atau basi-basi sejenisnya. Gak sopan! Adikku itu memang seperti itu. Mau dinasehati sampai wajahku biru, juga, sulit merubahnya. Jadi, biarkan saja Tuhan yang akan memberi dia pelajaran. Karena Tuhan yang paling tahu cara bagaimana memberi teguran kepada manusia-manusia.


Aku memacu sepeda motorku setelahnya, melewati jalan Jendral Sudirman yang ramai, menuju rumah. Sesuatu mengejutkanku ketika aku melewati jalan Pangeran Antasari. Dari dalam sebuah kedai yang menjual menu khusus sarapan, keluar Lela dan Erwin, berjalan pelan sambil berbincang-bincang menuju mobil milik Erwin yang


—kulihat—terparkir di depan kedai.


🌹🌹🌹


Melihat Erwin dan Lela berduaan tadi pagi, tentu saja membuat aku tidak baik-baik saja. Cemburu? Itu pasti! Patah hati? jelas sekali! Jika ada satu kata yang paling tepat untuk menjelaskan apa yang aku rasakan saat ini, mungkin kata itu adalah, melelahkan.


Bayangkan ketika kita mencintai seseorang, menjaga perasaan itu sepenuh hati, membisiki namanya setiap malam, merindukannya, dan menjadikannya alasan paling logis untuk membuat kita bahagia. Lalu, sekonyong-konyong ada orang lain datang mendekati seseorang yang kita cintai tersebut, dan merebutnya. Dan, yang paling buruk dari rentetan pristiwa itu adalah, ketika kita bahkan belum sempat mengutarakan perasaan kita. Mungkin ini versi lebih buruk dari: ketika kita menggemburkan tanah, lalu memberi pupuk, menanam bibit, menyiramnya setiap hari, lalu ketika tunas itu tumbuh, seekor ayam merusaknya. Sakit hati ....

__ADS_1


Aku merasa seperti sudah berada di ambang batas kemampuanku. Semua ini terasa sangat melelahkan. Satu-satunya alasan kenapa aku masih bertahan adalah, perasaan cinta itu masih ada di dalam hatiku, bahkan tidak berkurang sedikitpun.


Cintaku ini teramat besar kepada Lela. Seperti cinta tanaman kepada matahari, yang membuat cemburu bintang-bintang.


Aku akui kesalahan terbesarku adalah, aku sulit mengungkapkan perasaanku. Namun setidaknya, ijinkan aku membuktikan.


🦜🦜🦜


Jayadi datang kerumahku malam ini. Tentu saja perasaanya berbanding kebalik dengan perasaanku. Aku yang hancur, dan Jayadi yang sedang berbunga-bunga, karena Fitri semakin dekat dengannya.


Aku sengaja tidak menceritakan kejadian tadi pagi kepadanya. Yah, tidak enak lah, aku. Itu akan merusak suasana hatinya yang sedang berbahagia.


Kedatangan Jayadi kerumahku malam ini (selain untuk melihat Fitri dan berbasa-basi dengannya) dia ingin membicarakan tentang rencana bisnis kami kedepannya. Aku sudah memilih, akan lebih mudah jika aku dan dia mengambangkan bisnis kue kering ibuku saja.


Jadi, ibuku yang memproduksi, aku dan Jayadi yang memasarkannya. Menurutku, itu adalah sebuah kolaborasi yang epic. Kualitas kue kering yang dibuat ibuku itu tidak kalah dengan kue kering yang dijual di mall, atau di toko-toko kue. Lalu kemampuan dan pengalaman aku dan Jayadi di dunia marketing, tentu saja akan sangat berguna dalam mengembangkan bisnis ini.

__ADS_1


Aku sudah bicara dengan ibuku tentang ini, dan dia sangat antusias ketika mendengar rencananku. Begitu juga dengan Jayadi, tidak perlu waktu lama sampai ia berkata, "ok, Bang! Jadi kita mulai dari mana?" ucapnya berapi-api.


__ADS_2