KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 15


__ADS_3

Setelah aku dan Lela keluar dari dalam toko Tuba. Kulihat wajah Lela tak henti-henti tersenyum. Bagiku itu adalah reaksi yang wajar bagi para marketing, yang baru saja mendapatkan orderan pertamanya. Apalagi Pak Ridwan sebagai pemilik toko, memberi orderan yang cukup banyak kepada Lela. Aku menganggapnya sebagai hadiah yang diberikan Pak Ridwan kepada Lela, atas pekerjaan barunya.


Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 11.48 Sebelum kami mengunjungi toko Sumber Kue yang menjadi toko terakhir yang harus kami kunjungi, aku dan Lela sepakat untuk santap siang terlebih dahulu.


Bakso adalah menu yang aku dan Lela pilih sebagai menu santap siang kami. Tak lupa, aku juga memesan es jeruk peras, sebagai minumannya—Lela memilih jus alpukat. Warung bakso tempat kami santap siang hari ini adalah warung bakso paling legendaris di kotaku. Bakso Sondy, namanya. Berdiri sejak 1984 dan kami sedang berada di toko pertamanya. Bakso Sondy memiliki lima belas cabang yang tersebar di seluruh kota Bandar Lampung. Toko pertamanya ini sempit dan panas. Hanya bangunan tua dua lantai seluas 6x4 meter, dimana di dalamnya berjejal etalase kayu berwarna hijau dan empat buah meja beserta kursi plastik berjumlah empat buah di setiap mejanya. Tapi biarpun paling sempit di antara semua cabang Bakso Sondy, tempat pertamanya ini selalu dipadati pecinta bakso di kotaku (mungkin karena nilai sejarahnya). Seperti siang ini, warung ini dipadati pengunjung, baik pengunjung yang ingin makan di tempat, atau take away.

__ADS_1


Aku dan Lela duduk di kursi paling pojok, dan harus sabar menunggu pesanan kami datang. Selagi menunggu pesanan datang, kulihat Lela terus tersenyum sambil menatap kertas berisi pesanan dari toko Tuba yang dia tulis sendiri. Aku pun tanpa sadar ikut tersenyum melihatnya seperti itu. Lalu, tiba-tiba Lela manatap kearahku sambil mengangkat kertas yang sejak tadi dia pandangi dengan tangan kanannya. Jelas sekali aku bisa melihat tulisan yang tertera di atas kertas itu, dan jelas sekali kulihat juga raut super bahagia dari wajah Lela.


"Kau mendapatkan orderan lebih banyak dari yang biasa aku dapatkan," ucapku padanya. Lela semakin sumringah sehabis mendengar ucapanku.


"Hmmm ... bohong kan?" balas Lela, sambil memasukkan kembali kertas ke dalam tas.

__ADS_1


Lela tidak membalas ucapanku. Dia hanya memandangku sambil terus menyunggingkan kedua sudut bibirnya.


"Nanti, di toko Sumber Kue. Kau lagi yang minta orderan ya?" ucapku, sambil terkekeh.


Lela tertawa ketika mendengar ucapanku. "Siap, itu bisa di atur," balasnya.

__ADS_1


Setelah itu, datang seorang pelayan sambil membawa dua mangkok bakso yang dia letakkan di atas nampan plastik berwarna hijau. Lalu, belum juga mangkuk bakso itu aku sentuh, menyusul seorang pelayan lagi mengantarkan dua gelas minuman yang sudah kami pesan.


Lengkap sudah menu makan siang aku dan Lela di atas meja. Sudah saatnya makanan ini meluncur ke dalam perut kami.


__ADS_2