KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 9


__ADS_3

Sesuai janjiku pada Lela. Sehabis Maghrib, aku langsung berangkat menuju rumah Lela yang terletak di salah satu komplek perumahan elit di kotaku, untuk menjemputnya. Tidak jauh, jarak antara rumahku dan rumahnya. Ya ... paling-paling hanya sepuluh menit waktu tempuh perjalanan dengan sepeda motorku.


Aku menghentikan sepeda motorku di depan rumah yang pagarnya di cat warna hitam. Rumah berlantai dua bergaya mediterania itu, di cat dengan warna-warna hangat seperti warna terakota, orange, kuning dan krem. Saat mataku mengintip di sela-sela pagar rumah itu, aku melihat Pak Selamet sedang duduk di bangku kayu jati yang berada di atas teras rumah sambil membaca majalah memancing (ya, memancing adalah hobby Pak Selamet).


“Assalamualaikum,“ sapaku dari depan pagar rumah Lela.


Pak Selamet langsung menatap ke arahku, “Waalaikumsalam,“ balasnya. Lalu dia berdiri dari singgasananya, dan berjalan ke arah pintu pagar.


“Ben, masuklah dulu,“ ajaknya, sambil membuka pagar.


Tentu saja saat itu aku dalam kondisi  terserah, apapun aku mau. Mau mampir dulu ayo, mau langsung berangkat pun let’s go. Tapi, belum juga aku turun dari atas sepeda motorku, kulihat Lela sudah keluar dari dalam rumah. Lela mengenakan t-shirt berwarna hitam bergambar Iron Man yang sedang melawan musuhnya. T-shirt itu dia padukan dengan celana jeans hitam dan sepatu Converse yang juga berwarna hitam. Lalu, sebuah tas selempang berwarna hitam berada di pundak kirinya, dan tangan kanannya membawa helm berwarna merah.


“Bang Ben mau mampir dulu?“ tanya Lela, sambil berjalan ke arah pagar.


“Ya ... terserah kau saja, Lela,“ jawabku.


Setelah mendengar jawabanku, sejenak Lela menatap ke arah jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kananya. “Langsung aja yuk? aku takut nanti kemalaman,“ ucapnya kemudian.


“Baiklah,“ jawabku singkat.

__ADS_1


Setelah kami berpamitan dengan Pak Selamet, dan tak lupa aku menitip salam untuk Ibu Wati yang saat itu sedang tidak ada di rumah. Aku bersama Lela langsung berangkat menuju salah satu Mall di kota Bandar Lampung.


🕐🕑🕒


Tiga tahun aku mengenal Lela, satu tahun yang lalu aku mulai tertarik kepadanya, dan malam ini, adalah untuk pertama kalinya aku pergi berdua dengannya. Seperti yang kalian tahu, segala sesuatu yang pertama kali itu, akan terasa mendebarkan. Perasaan itulah, yang menghantuiku malam ini.


Sebenarnya, saat di perjalanan, banyak yang ingin aku tanyakan atau bicarakan kepada Lela. Ya ... hal-hal umum seperti: dimana tempat makan favoritnya? Musik apa yang dia suka? Buku apa yang sedang dia baca? Atau, aku juga ingin menanyakan kabar perpustakaan gratisnya. Tapi, seperti ada sesuatu yang mengunci lidahku, sehingga tidak ada satupun pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari mulutku. Lela pun diam saja saat di perjalanan. Kulihat dari pantulan bayangan kaca jendela mobil saat motorku berhenti di lampu merah, dia sedang sibuk menggerakkan jarinya di layar handphone. Aku tidak tahu dia sedang apa? Mungkin Lela sedang mencari refrensi busana kerja di Google? Atau bisa juga dia sedang berbalas pesan dengan seseorang? Aku tidak tahu dan aku rasa, akupun tak pantas bertanya, karena tugasku malam ini hanya untuk mengantarkannya membeli pakaian.


Komplek perumahan tempat Lela tinggal berada tak jauh dari pusat kota. Jadi, tidak perlu waktu lama di perjalanan untuk menuju Mall tujuan kami. Sesampainya di Mall dan setelah memarkirkan kendaraanku, aku dan Lela langsung memasuki gedung utama Mall. Lela sempat bertanya kepadaku, ingin makan atau belanja dahulu? Karena saat itu aku tidak terlalu lapar, jadi aku jawab lebih baik belanja dulu, dan Lela pun setuju.


Aku bersama Lela menelusuri toko-toko baju yang terdapat di dalam Mall. Menurutku, Lela memiliki selera busana yang bagus, kerena setiap baju yang dia pilih dan tanyakan kepadaku, semuanya terlihat pantas dia kenakan. Beberapa kali Lela juga memasuki dressing room untuk mencoba pakaian yang sudah dia pilih, dan beberapa kali juga dia mengajukan pertanyaan yang sulit kepadaku, seperti: "bagus yang mana? Baju ini lebih cocok sama celana yang ini, atau yang ini?" atau "Aku kelihatan gemuk tidak, kalau pakai baju ini?" Itu semua pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh laki-laki sepertiku. Bayangkan saja, untuk bertanya musik favoritnya saja aku sungkan, bagaimana aku bisa memberi pendapat tentang pakaian yang ingin dia kenakan? Yah, tapi aku mencoba memberi jawaban yang terbaik, untuk Lela.


Dua jam sudah, aku menemani Lela berburu pakaian. Tangan kanan dan kiriku sudah penuh dengan tas belanja yang berisi baju dan celana yang Lela beli. Kemudian kami berjalan menuju lantai dua Mall. Di lantai dua Mall itu, terdapat banyak sekali pilihan resto-resto, mulai dari resto yang menyajikan makanan khas Indonesia, Barat, Jepang, dan Korea pun ada. Sebelum kami memasuki salah satu resto, Lela ijin terlebih dahulu untuk pergi ke toilet. Katanya dia ingin merapihkan make up-nya.


Selagi Lela di dalam toilet, aku menunggu di depan toko perhiasan yang jaraknya tak jauh dari toilet. Karena menunggu wanita berhias itu memakan waktu cukup lama, aku sempatkan diriku untuk melihat perhiasan-perhiasan dari jendela kaca depan toko bercat putih tersebut. Aku melihat sebuah cincin, ada juga kalung dan gelang, semuanya berlapis emas, dan indah dipandang mata. Dari semua perhiasan yang kulihat, aku tertarik dengan sebuah gelang dari emas putih berbentuk seperti rantai atau kepang, yang terdapat di etalase toko tersebut. Aku intip harga yang tercantum di label kertas yang di ikat dengan benang berwarna merah di bagain gelang, tiga jutaan. Kupikir, pasti Lela bagus kalau mengenakan gelang itu. Yah, membuatnya terlihat semakin bergaya tentunya. Harganya pun, masih bisa aku jangkau, dan aku jadi  membayangkan, bagaimana jika aku memberi Lela gelang itu? Apakah dia akan senang? Atau justru menolaknya dengan berbagai macam alasan?


🌹🌹🌹


Ketika aku sedang asik-asiknya memandangi perhiasan-perhiasan mentereng yang berada di dalam etalase toko, tiba-tiba...

__ADS_1


"Darrr!"


Lela mengejutkanku dari belakang. Tentu saja aku terkejut, bahkan hampir melompat, dan ketika aku lihat ke arahnya, dia tertawa terbahak-bahak melihatku terkejut.


"Hey, Lela! Kau mau membuatku terkena serangan jantung?" Tanyaku padanya, dan tawanya semakin pecah.


"Lagian, serius amat sih Bang? Memangnya Bang Ben lagi liatin apa?" tanya Lela. Lalu pandangannya di arahkan ke etalase dibalik jendela kaca toko perhiasan. "Cieeee ... Abang lagi nyari hadiah untuk pacarnya, ya?" tanyanya kemudian.


"Ah! Mana ada Abang pacar. Abang iseng saja lihat-lihat. Sambil nungguin kamu," jawabku. Lela hanya tersenyum setelah mendengar jawabanku, dan senyumannya itu, haduh ... Lela, Lela! Kamu itu jangan sering-sering tersenyum kepadaku. Sebab, senyummu itu seperti baking soda, bikin senyumku juga ikut mengembang.


"Yaudah yuk, Bang? Makan," ajak Lela.


🕐🕑🕙


Aku dan Lela berjalan bersama menuju sebuah restoran cepat saji asal Amerika, yang terkenal karena 11 bumbu rahasianya. Setelah sampai, Lela langsung memesan sebuah menu paket berisi: satu ayam goreng, nasi, kentang goreng, dan segelas minuman soda. Menu yang sama, yang juga aku pesan.


Malam ini, sesuai janji Lela tadi pagi, dia yang mentraktirku makan malam. Sebenarnya aku sedikit tidak enak hati, masa wanita yang membayar biaya makan malam? Tapi, aku tidak ingin menyinggung Lela, karena itu adalah niatnya sejak awal. Jadi, yasudahlah, aku terima. Lain kali, jika ada kesempatan kedua, aku yang akan mentraktirnya makan malam.


Pelayan restoran menempatkan pesanan kami di sebuah nampan berwarna coklat. Kemudian aku membawa nampan itu menuju meja yang terletak di samping jendela. Lela yang memilih tempat itu, katanya agar bisa makan sambil menyaksikan pemandangan luar Mall. Ya, aku sih nurut saja, makan duduk bersila di atas lantai pun, aku mau jika itu bersama Lela. Aku duduk berhadapan dengan Lela. Sambil menikmati santap malamku, sesekali aku mencuri-curi pandang, menatap wajahnya. Aku pikir, momen-momen yang terjadi malam ini akan selalu terkenang dalam pikiranku. Mungkin seumur hidupku? Apapun nasib hubunganku dengan Lela nanti di masa depan. Dan malam ini, aku semakin menyadari, bahwa aku semakin terjatuh ke dalam cinta. Pertanyaannya adalah? Sampai kapan perasaan ini tetap menjadi rahasia?

__ADS_1


__ADS_2