
“Dasar, tukang ngupil!” ucap Jessica ketus, kepada Jayadi. Saat Jayadi mengganggunya dengan cara menatap tajam wajah Jessica sambil mengkembang kempiskan hidungnya (sesuatu yang juga Jessica anggap sangat mengganggu). Sepertinya Jessica masih teringat—dan dendam—dengan adegan ngupil Jayadi saat di bioskop. Yah ... sebenarnya menurutku juga, Jayadi berlebihan malam itu. Jujur saja, bagiku itu adalah cara ngupil paling radikal yang pernah di lakukan seorang manusia, dan hanya manusia-manusia tidak tahu malu yang mau melakukan itu. Jayadi adalah salah satunya.
“Hey Jay? Coba satu hari saja kau berhenti mengganggu Jessica,“ tegur Boris.
“Gak bisa Bang!“ jawab jayadi, cepat dan lugas. Tanpa basa-basi.
Kemudian perang saling hina-menghina antara Jayadi dan Jessica pun dimulai.
Seperti inilah suasana di dalam ruangan brifing team tepung kue instan setiap pagi, selalu dihiasi dengan kata-kata saling menghina antara Jayadi dan Jessica (Boris akan ikut serta dalam pertikaian di hari Senin dan Sabtu). Tapi aku berharap kalian tidak menganggap Jayadi sebagai pelaku bullying, karena yang dilakukan Jayadi kepada Jessica itu, hanya untuk canda gurau semata dan sebenaranya kalau dinilai dari segi kata-kata, ucapan yang dilontarkan Jessica saat bercanda dengan Jayadi, cenderung lebih kasar daripadanya, sedangkan Jayadi hanya melakukan apa yang tidak disukai Jessica, seperti mengupil, mengkembang kempiskan hidung, terkadang dia kentut (sesuatu yang juga sangat aku benci), dan kalau semangat "mengganggu Jessica-nya" sedang tinggi, Jayadi tak akan sungkan-sungkan menggosok-gosokkan jari telunjuk tangan kanannya di ketiaknya, lalu memoleskan jari telunjuknya itu ke hidung Jessica. Biasanya kalau sudah seperti itu, Jessica akan teriak-teriak sambil beberapa kali melayangkan pukulan kearah punggung dan lengan Jayadi.
“Bang Boris?” panggil Jayadi, Boris pun langsung menatap kearahnya. “Obat tabib sangat manjur, badan sakit ditutupi selimut. Kusangka teman yang jujur, rupanya musuh dalam selimut.“ Jayadi melempar pantun sindiran kepada Boris yang sejak tadi membela Jessica saat perang hina-menghina dengannya.
“Wah ... Bales Bang!” seru Jessica kepada Boris.
“Nah itu masalahnya Jes, tak bisanya abang ini membuat pantun. Tapi, kalau nyanyi abang baru bisa,“ jawab Boris pada Jessica.
__ADS_1
“Tukang keris makan kuaci, boleh dimakan asin kulitnya. Kalau Bang Boris sudah bernyanyi, perutku sakit mendengarnya.“ Kembali Jayadi menyerang Boris dengan pantunnya.
Kulihat Boris mulai kewalahan meladeni Jayadi.
“Hey, Ben?" panggil Boris. “Boleh kugeser rahang anak ini?“ Boris bertanya padaku dengan nada sedikit mengancam sambil menunjuk ke arah Jayadi. Aku tertawa saja menanggapi Boris.
“Asalamualaikum,“ ucap Erwin sambil berjalan memasuki ruangan brifing, dan kami yang berada di dalam ruangan serentak menjawab, “waalaikumsalam.“ Tak lama setelah Erwin memasuki ruangan, Lela mengikuti dibelakangnya. Mereka berdua habis melakukan rapat dengan Pak Zulkarnain dan bagian keungan perusahaan. Membicarakan masalah faktur tagihan hilang yang jumlahnya (nominal dalam faktur), kalau di total-total bisa mencapai sekitar dua ratus juta Rupiah.
“Wah ... ada apa ini? Kok sepertinya hari ini kalian ceria sekali,” tanya Erwin basa-basi.
Erwin tertawa sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya sehabis mendengar jawaban Jessica. “Oh ... mungkin karena akhir-akhir ini aku merasa lebih bahagia, jadi dimataku semuanya terlihat jadi lebih ceria,“ ucapnya.
“Gak nanya!” ucap Jayadi berbisik, tapi aku jelas sekali mendengarnya. Jika kulihat dari gestur tubuhnya semenjak Erwin memasuki ruangan brifing, tampak sekali kalau Jayadi sangat membenci—sekaligus jijik—kepada Erwin. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia tunjukkan.
“Cieee ... memangnya Mas Erwin lagi bahagia karena apa sih?” tanya Jessica.
__ADS_1
“Ini masih rahasia,“ jawab Erwin, sambil tersenyum. “Lagian kamu itu mau tau ... aja!“ lanjutnya.
Kenapa tadi Kau bilang Kau merasa lebih bahagia sampai-sampai semua yang kau pandang tampak lebih ceria? Jika orang lain tidak boleh tahu alasannya? Dasar tukang pukul istri!
“Bang Ben?“ panggil Lela sambil berjalan kearahku. Lalu kemudian dia berdiri sedikit membungkuk di sebelah kananku sambil meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja. “Menurut Bang Bento, penjualan di minimarket Cahaya, bisa ditingkatkan gak?“ tanyanya kemudian, sambil menunjuk tulisan MM CAHAYA di atas kertas.
“Ya, kalau menurutku ...,”
“Lela?“ potong Erwin. “Kenapa kamu bertanya pada Bento? Kenapa tidak denganku atau Jessica? Minimarket Cahaya kan, bukan outlet pegangan Bento?“ lanjutnya.
OK! Kita stop dulu sampai disini, ada yang belum aku ceritakan kepada kalian.
Beberapa tahun yang lalu, saat Erwin berhasil melengserkan Pak Aris dari jabatannya dengan fitnah-fitnahnya. Sebenarnya Pak Zulkarnain menunjuk diriku untuk menjadi supervisor team marketing menggantinkan Pak Aris. Pertimbangan Pak Zulkarnain saat itu, aku menguasai semua area, pintar bernegosiasi, dan bisa menyelesaikan masalah di lapangan. Semua kemampuan yang aku dapat dari proses yang panjang selama bertahun-tahun menjadi salesman di tiga perusahaan tempat aku pernah bekerja sebelum di PT. Sumber Intisari Indonesia. Tapi waktu itu, karena aku menghormati tiga orang yang menjabat sebagai kordinator sales (salah satunya Erwin yang saat itu menjabat sebagai kordinator team tepung kue instan), maka aku menolak tawaran Pak Zulkarnain, dan merekomendasikan Erwin. Karena dia kodinator sales yang saat itu kinerjanya paling menonjol di perusahaan (saat aku belum tahu, kalau ternyata dia memfitnah Pak Aris), dan aku juga yang merekomendasikan Almarhum Pak Salman (yang saat itu adalah seniorku) untuk menjadi kordinator sales team tepung kue instan, menggantikan Erwin yang akan naik jabatan.
Cerita tentang aku yang menyerahkan jabatan tertinggi divisi marketing ke Erwin itu, sampai saat ini masih terus dibicarakan di kantorku, terutama oleh mereka yang tidak menyukai Erwin. Itulah penyebab kenapa Erwin sentimen kepadaku. Lalu, kenapa Lela bertanya padaku tentang omset outlet yang bukan peganganku? Itu karena semua toko yang menjadi pelanggan di perusahaan tempat aku bekerja sekarang, mengenal diriku, dan masih sering bertanya kabarku kepada salesman-salesman, atau para petinggi perusahaan seperti Lela atau Erwin, ketika mereka berkunjung. Jessica, Boris, dan Jayadi sekalipun, sering berkonsultasi kepadaku saat mereka ada masalah di outlet mereka, dan Lela pun biasa seperti itu, bahkan Pak Zulkarnain sekalipun sering meminta diriku untuk turun tangan membantu menyelesaikan masalah di outlet-outlet yang bukan peganganku. Jadi, ini sesuatu yang normal, dan biasa terjadi. Tapi, kenapa hari ini Erwin menegur Lela hanya karena dia bertanya kepadaku?
__ADS_1