KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 41


__ADS_3

Belum juga habis keherananku setelah mendengar kabar tentang tindak korupsi yang dilakukan Erwin. Pagi ini, sesuatu yang mengejutkan dan membuatku heran, kembali mendatangiku. Saat sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di depan rumahku, dan dari pintu penumpang bagian belakang, turun Pak Zulkarnain. Aku yang sedang berada di ruang tamu, langsung keluar rumah dan menyambut Pak Zul, sebelum dia mengucapkan salam. Dan, dengan ramah, aku persilahkan dia untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu rumahku.


Saat aku hendak mengambilkan hidangan, Pak Zulakarnain menghentikanku. Katanya, dia sedang terburu-buru, jadi tidak perlu repot-repot menghidangkan apapun. Maka, aku langsung duduk di sofa yang bersebrangan dengannya-kami dipisahkan oleh sebuah meja.


"Akhir-akhir ini, di kantor sedang ada banyak masalah, Ben," kata Pak Zul, membuka pembicaraan. Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian. "Mungkin, Lela atau Boris sudah bercerita denganmu?"


"Ya. Kata Boris, Jessica mengundurkan diri, ya Pak?" kataku. Aku sengaja tidak membahas kasus korupsi Erwin, karena itu adalah rahasia perusahaan. Akan berbahaya bagi Lela, kalau Pak Zul tahu, Lela menceritakan masalah itu kepadaku dan Jayadi.


"Ya, pengunduran diri Jessica memang menjadi masalah, karena kami harus mencari sales baru dan tentu saja, orang baru perlu beradapatasi dan itu bisa memperlambat laju perusahaan," kata Pak Zul. "Tapi, ada yang lebih parah dari itu, Ben. Kau masih ingat, masalah faktur hilang yang nominalnya sampai dua ratus juta?"


Aku menganggukkan kepala dan sedikit tidak menyangka kalau Pak Zul akan membicarakan masalah ini kepadaku, yang statusnya bukan lagi karyawan perusahaannya.

__ADS_1


"Ternyata, Erwin ada main di situ."


"Maksud Bapak?" tanyaku. Pura-pura bodoh.


"Ya, ternyata yang menggelapkan uang itu, Erwin. Dan, selama ini aku dibohongi olehnya. Dia pura-pura mau mengurus masalah itu, padahal dia sendiri sumber masalahnya!" kata Pak Zul. Nada bicaranya meninggi.


Setelah itu, Pak Zul menceritakan kekecewaannya kepada Erwin. Dia bilang, "padahal Erwin itu sudah aku anggap seperti anak sendiri." Ya, aku paham yag dirasakan oleh Pak Zul. Erwin memang yang paling dia sukai di bandinkan karyawan lain yang bekerja di perusahaannya. Anak emas, kalau kata orang tua jaman dulu. Pasti Pak Zul sangat kecewa ketika anak emasnya mengkhianatinya.


Lalu, ada yang mengejutkanku dari kedatangan Pak Zul pagi ini. Saat dia sudah puas menceritakan rasa kecewanya kepada Erwin, dia berkata, "kau mau Ben, bergabung lagi di perusahaan, untuk menggantikn posisi Erwin?"


Saat memasuki rumah, Jayadi langsung menyadari ada yang tidak beres, dan pandangannya langsung dia tujukan ke arah Erwin. Dan, dengan cepat dia langsung menendang kepala Erwin. Serangan yang membuat Erwin tidak sadarkan diri.

__ADS_1


🔪🔪🔪


Erwin kami larikan ke puskesmas terdekat. Karena akibat serangan pamungkas dari Jayadi, sudah sekitar tiga puluh menit dia tidak sadarakan diri. Tentu saja hal itu membuat kami khawatir. Erwin memang menjengkelkan, tapi sebenci-bencinya kami dengan Erwin, tidak sedikitpun aku dan Jayadi memiliki niat untuk mencederainya, apalagi membunuhnya.


Setelah di berikan perawatan oleh team medis Puskesmas, akhirnya Erwin sadarkan diri. Hal pertama yang aku lihat ketika Erwin sadar adalah, dia tampak panik ketika mendapati kedua lengannya dalam keadaan di borgol.


Ya, saat dia pingsan. Pak Zul dengan cepat menelpon Polisi; melaporkan, kalau telah terjadi upaya pembunuhan oleh tersangka yang sudah kami lumpuhkan.


Lela dan Boris datang ke Puskesmas tak lama setelah Erwin sadar. Mereka mengatakan ke Pak Zul, kalau pagi ini Erwin tidak datang ke kantor untuk brifing. Dan usut punya usut, setelah di tanyakan pihak kepolisian, Erwin mengaku kalau tadi pagi dia mengikuti mobil Pak Zulkarnain, dan amarahnya meledak, saat tahu kalau mobil Pak Zul menuju ke rumahku-orang yang dia anggap sebagai pesaingnya di kantor (setelah di bawa ke kantor polisi, Erwin juga mengaku kalau dia sudah mengetahui, kalau Pak Zul ingin melaporkannya ke Polisi, atas tindak korupsinya. Dan kepanikannya itu menjadi amarah, saat mengetahui kalau Pak Zul datang ke rumahku, lalu dia merebut pisau dapur milik Ibu Tuti-tukang soto samping rumahku-untuk membunuh Pak Zul dan aku).


Aku diminta untuk menjadi saksi atas kasus percobaan pembunuhan, dengan tersangka bernama, Erwin. Sebagai seorang warganegra yang baik (dan sebagai korban), tentu saja aku memenuhi panggilan itu, dan siap kapan saja datang ke kantor Polisi atau Persidangan.

__ADS_1


Upaya pembunuhan yang terjadi, memang mengejutkan semua orang yang mengenal Erwin. Karena, tidak ada yang menyangka kalau Erwin yang dikenal sebagai laki-laki yang berwibawa bisa melakukan hal bodoh seperti itu. Dan, bukan cuma upaya pembunuhan kasus yang menjerat Erwin, karena dia juga dilaporkan atas tindak korupsi yang dia lakukan.


Ya, semua itu adalah beban yang harus Erwin terima karena kesalahannya sendiri.


__ADS_2