KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 36


__ADS_3

Semua bahan-bahan yang dibutuhkan ibuku untuk membuat kue sudah kubeli. Sekarang aku tinggal menunggu Jayadi yang sedang membeli buah nanas, untuk isian kue nastar. Tadinya aku dan Jayadi ingin pergi bersama-sama ke toko buah yang letaknya tidak jauh dari toko Sumber Kue. Mungkin hanya sekitar dua kilometer. Tapi untuk mempersingkat waktu, Jayadi memutuskan untuk berangkat sendiri ke toko buah, sedangkan aku menunggu Pak Selamet mempersiapkan barang-barang yang aku beli di toko Sumber Kue.


Sambil menunggu Jayadi, aku dan Pak Selamet banyak berbincang-bincang soal dunia bisnis. Ya, Pak Selamet adalah orang yang paling tepat untuk diajak bicara soal bisnis, karena kematangannya di dunia bisnis sudah tidak perlu diragukan lagi. Lihat saja toko Sumber Kue, toko yang dia rintis sejak usianya masih muda; saat umurnya masih dua puluh empat tahun, katanya. Menurut kisahnya, bisnisnya sempat anjlok, bahkan hampir bangkrut saat terjadinya krisis moneter tahun 1998. “Jadi saat itu. Sampai-sampai ada barang yang aku jual tidak mengambil untung Ben. Jual rugi! Kalau kata orang-orang pasar,” ucapnya.


Pak Selamet harus bertahan selama hampir dua tahun memperjuangkan tokonya agar tidak bangkrut akibat krisis moneter tahun 1998. Keuletan, kematangannya dalam menyusun strategi, dan kesabarannya, itulah hal-hal yang membuat toko Sumber Kue bisa bertahan dan sukses seperti sekarang.


Sesuatu mengagetkan aku, saat aku sedang asik-asiknya berbincang-bincang dengan Pak Selamet. Saat Lela mengucapkan salam, lalu berjalan memasuki toko.

__ADS_1


Untuk beberapa saat aku diam mematung saat mengetahui kehadirannya. Aku menatapnya bingung dan canggung. Ada penolakan yang sangat kuat dari dalam diriku untuk bertemu dengannya saat ini. Adegan dirinya menangis sambil menatapku, ketika aku mencekik leher Erwin saat kekisruhan di hari terakhirku bekerja sebagai salesman di PT. Sumber Intisari Indonesia, masih begitu membekas di kepalaku. Hal yang membuatku malu untuk bertemu dengannya. Lela sudah melihat sisi terliar dari dalam diriku, dan aku meragukan kalau dia masih menganggapku seperti Bento yang dulu.


Tapi apa yang aku takutkan tentang penilaiannya kepadaku sejak pertikaian di kantor, terbantahkan. Karena hal pertama yang Lela lakukan ketika dirinya sudah berada di dalam toko Sumber Kue adalah, tersenyum kearahku, lalu dia berkata, “Bang Ben?” Lela menyapaku, menyebut namaku, dan menghampiriku. Seperti biasanya.


Aku menyapanya kembali, lalu bertanya kepadanya tentang keadaan kantor sejak sepeninggalanku dan Jayadi. Katanya, “jadi lebih sepi, Bang.” Percis seperti yang Boris katakan.


Lalu Lela menyampaikan sebuah kabar yang sangat mengejutkanku. Katanya, “Jessica mengajukan surat pengunduran diri Bang. Dia akan bekerja sampai akhir bulan ini saja.”

__ADS_1


“Alasannya apa?” tanyaku padanya. Tentu saja aku sangat penasaran dengan apa yang membuat Jessica memutuskan untuk mengundurkan diri, tak lama setelah aku dan Jayadi melakukannya. Karena yang aku tahu, Jessica itu tidak pernah mengeluh tentang pekerjaannya. Selama ini dia terlihat senang-senang saja, bahkan sangat menikmati profesinya, dan dia tidak pernah bercerita tentang rencana mengundurkan diri, baik itu kepadaku atau teman-teman yang lainnya.


“Jessica sih ngomongnya, mau ngebantu usaha orang tuanya Bang,” jawab Lela. “Tapi menurut aku sih, itu karena dia sedikit keberatan dengan peraturan-peraturan baru yang diterapkan Mas Erwin.” Aku hanya mengangguk menanggapi jawaban Lela, karena sedikit banyaknya, aku mengerti dengan apa yang dia maksud.


Jadi, saat Boris datang kerumahku. Boris bercerita tentang banyaknya peraturan baru yang diterapkan Erwin sehari setelah keributan yang terjadi. Sebenarnya, dari apa yang diceritakan Boris kepadaku, peraturan-peraturan baru yang diberikan Erwin kepada para salesman itu normal-normal saja. Namun, ada satu hal yang dia minta untuk dikerjakan para salesman setiap harinya, yang menurutku sedikit berlebihan; dia meminta para salesman membuat banyak sekali laporan; laporan penjualan, laporan tagihan, laporan tentang transaksi per-outlet, dan laporan efektivitas kunjungan. Dan kalian tahu siapa yang akan memeriksa laporan-laporan itu? Lela.


Tentu saja tugas-tugas tambahan itu semakin memberatkan pekerjaan para salesman. Bagiku Erwin seperti sedang merantai dan mencambuki bawahannya agar kehormatannya yang ternodai pasca terjadinya keributan denganku dan Jayadi, bisa dia dapatkan kembali. Dia terlihat sangat berusaha untuk mendapatkan kembali kehormatannya itu dengan cara menanamkan rasa takut (peraturan), dan juga memberi tugas sebanyak-banyaknya. Ada satu kesalahan yang dilakukan Erwin dengan menerapkan konsep ini, menurutku. Erwin lupa dengan nasihat: semua orang yang kau cambuk, cepat atau lambat pasti akan meninggalkan dirimu. Jessica yang pertama, mungkin Boris akan menyusul sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2