
Setelah keributan di ruang brifing, caci maki dari Pak Zulkarnain, mendapat SP3, pengunduran diri, dan perpisahan dengan rekan-rekan kerja, sekarang saatnya aku pulang, dan memberi tahu kepada keluargaku, kalau sekarang aku adalah seorang pengangguran. Ini adalah bagian paling rumit dari semua akibat yang disebabkan pengunduran diri mendadak.
Sepanjang perjalan dari kantor menuju rumah, pikiranku tak henti-henti merangakai kata-kata terbaik, yang nantinya akan aku sampaikan kepada ibuku, satu-satunya orang yang ada di rumah, di jam segini.
"Bu, aku baru saja mengundurkan diri dari perusahaan. Ya ... biasalah, ada ketidakcocokan antara diriku dengan atasanku, dan ketidakcocokan itu hampir memicu kami saling baku hantam pagi ini." Tidak enak! Aku terdengar seperti anak laki-laki dari keluarga kaya raya, yang bekerja hanya untuk mencari pengalaman. Karena dimasa depan, bapakku sudah mempersiapkan sebuah perusahaan untukku, jadi Aku bisa mencari masalah dengan siapa saja, dan mengundurkan diri kapan saja.
__ADS_1
Bagaimana kalau, "aku dan Jayadi hampir mengeroyok supervisor kami karena prilakunya yang kurang menyenangkan?" Ah, itu juga kurang enak didengar, karena ibuku bisa saja berfkir, kalau aku dan Jayadi tipikal pria kekanak-kanakan, yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
Atau, bagaimana jika aku menceritakan kejadian yang sebenaranya? Tapi itu akan menimbulkan banyak pertanyaan kenapa dari Ibuku nantinya. Kenapa Jayadi tidak menyukai Erwin? Karena Erwin tukang pukul istri, dan Jayadi benci itu. Kenapa kau tidak menyukai Erwin? Karena aku menyukai Lela, dan Erwin juga begitu. Kenapa kau tidak menyatakan cintamu kepada Lela? Karena aku terlalu takut untuk menyatakannya. Kenapa anakku begitu pengecut dalam hal percintaan? Karena anakmu ini ... pecundang, Bu.
Dan dengan demikian aku putuskan untuk tidak usah merangkai kata-kata, karena itu membuatku pusing sendiri. Aku pulang saja, dan akan aku hadapi pertanyaan-pertanyaan dari ibuku dengan jawaban spontan, seperti gitaris blues nomor wahid ketika sedang bermain di atas panggung, yang sering memainkan nada sesuka hatinya, namun tetap mengena di hati pendengarnya.
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster warna merah bermotiv bunga-bunga, keluar dari dalam rumah ketika aku baru saja memarkirkan sepeda motorku di atas teras. Wanita ini adalah orang yang selalu memaafkan semua kesalahanku, bahkan sebelum aku dilahirkan di Dunia. Dia juga yang selalu mendoakan aku sebelum waktu tidurnya, dan orang pertama di Dunia yang akan menangis, jika sesuatu yang buruk terjadi kepadaku. Dia bisa merasakan marah, dan senangku. Merasakan letih, dan patah hatiku. Tersinggung, ketika aku dihina, dan bahagia, ketika aku di puja. Wanita itu adalah Ibuku.
Senyum hangatnya menyambutku ketika baru saja aku membuka helm, lalu menatap wajahnya. Tidak ada kecurigaan sama sekali yang tampak di raut wajah cantiknya, kenapa aku pulang pagi sekali.
Lalu ketika Aku berkata, “Tadi ada masalah di kantor.“
__ADS_1
“Ibu sudah tahu. Jayadi tadi nelpon Fitri menceritakan semuanya, dan Fitri menyampaikannya ke Ibu,“ balasnya, tenang, dan menangkan aku.
Dan sekali lagi aku diselamatkan oleh Jayadi. Aku jadi tidak perlu repot-repot menjelaskan keributan yang terjadi di kantor kepada Ibuku.