KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 42


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, sejak serangan Erwin di rumahku. Kami pun perlahan-lahan sudah tidak membicarakan kasus itu lagi.


Aku menolak tawaran Pak Zul, yang ingin mengangkatku menjadi suprevisor menggantikan Erwin. Ya, aku pikir, akan lebih baik jika aku fokus mengembangkan bisnis kue kering bersama Jayadi dan Lela. Tapi, seperti biasa, aku tidak menolak tawaran itu begitu saja. Ada nama yang aku rekomendasikan ke Pak Zul, yang menurutku cukup kompeten untuk menduduki posisi supervisor, yaitu, Boris. Boris memang kurang menonjol di perusahaan. Mungkin, karena dia sales yang mengurus penjualan toko-toko di luar kota, yang penjualannya lebih kecil di bandingkan sales-sales yang mengurus penjualan toko-toko di dalam kota Bandar Lampung. Tapi, aku mengenal Boris dengan sangat baik. Dia pekerja keras dan fokus. Lebih baik dari Erwin? Ya. Walaupun dia tidak lebih karismatik. Tapi, apalah gunanya karisma, jika ujung-ujungnya korupsi?


Ngomong-gomong soal bisnis kue kering. Aku cukup puas dengan hasil yang kami peroleh. Semuanya berjalan sangat lancar. Aku pun mulai merencanakan untuk menjual produk-produk kami ke minimarket di kota Bandar Lampung. Ya, walaupun masih perlu persiapan dan rencana yang lebih matang, tapi aku, Jayadi, dan Lela sudah menjadikan itu sebagai target yang harus kami tembus.


Maka hari ini, aku mulai mengunjungi salah satu minimarket yang menurutku cukup potensial untuk menjajakan produk kami, nama minimarket-nya, Fitrina. Kebetulan, Lela juga ingin meminta order di minimarket Fitrina. Jadi, aku dan Lela sepakat untuk pergi bersama.


Di hadapan Pak Ade (pemilik minimarket Fitrina), aku dan Lela sempat beradu argumen dengannya. Pak Ade berpendapat, bisnis kue kering itu hanya laku di musim-musim tertentu, contohnya: saat Idul Fitri dan Natal. Jadi, dia sedikit kurang tertarik terhadap tawaranku dan Lela. Tapi, kami tetap merayunya, dan akhirnya dia sedikit membuka hati, dengan memintaku untuk membawakan contoh kue kering, agar dia bisa mencicipinya terlebih dahulu. Ya, tentu saja akan aku turuti, dan aku berharap dia mau bekerjasama dengan kami setelah mencoba lezatnya kue kering buatan ibuku.


Setelah aku selesai bernegosiasi dengan Pak Ade, giliran Lela meminta pesanan ke Pak Ade. Aku lihat, Lela sudah jauh berkembang daripada sebelumnya. Caranya berkomunikasi dan menawarkan produk, jauh lebih matang dari terakhir kali aku melihatnya. Ya, manusia itu emang harusnya seperti itu, berkembang menjadi lebih baik.


Lela sudah mendapatkan pesanannya, dan aku pun sudah tahu apa yang harus aku lakukan kalau ingin memasarkan kue kering di minimaret Fitrina. Dan, karena kebetulan waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah satu siang, aku mengajak Lela untuk makan siang. Tawaran yang di sambut Lela dengan ucapan, “kebetulan aku juga sudah lapar.” Maka pergilah kami berdua ke salah satu rumah makan yang memiliki menu andalan ayam bakar (menu yang kami pesan).


❤❤❤


Aku duduk di kursi kayu rumah makan Pak Subur. Perutku terasa begitu penuh setelah menghabiskan satu porsi ayam bakar, dua piring nasi putih, dan ada juga sayur asamnya. Sambil menghabiskan es jeruk yang aku pesan (Lela memesan jus alpukat), aku memeriksa pesan masuk di handphone-ku.


“Bang Ben?” panggil Lela.


Aku mengarahkan pandanganku ke arahnya.


“Menurut Bang Ben, kalau pagi itu—saat Erwin ingin menikam Pak Zul dan Bang Ben—aku juga berada di dalam rumah Bang Ben. Kira-kira, Erwin juga akan menyerangku tidak?” tanya Lela.


Aku tersenyum setelah mendengar pertanyaan Lela, lalu berkata, “jika ada satu orang di Bumi ini yang tidak akan disakiti oleh Erwin. Itu kamu, Lela.”


“Karena Erwin suka padaku?”


“Kau tahu?” tanyaku, heran.


“Semua orang yang ada di sekitar kami juga tahu, Bang. Erwin terlalu agresif, jadi tanpa dia harus mengatakannya ... aku tahu,” kata Lela. “Tapi, bagaimana jika saat itu dia juga ingin membunuhku? Untuk menyingkirkan saksi, mungkin?”


“Ya, benar juga. Untuk menyingkirkan saksi,” jawabku. “Tapi aku akan melindungimu, Lela. Tidak akan aku biarkan dia menyentuhmu, jika itu terjadi.”


“Kenapa? Apa karena aku perempuan?”

__ADS_1


Aku diam sejenak. Bingung harus menjawab apa. Tentu saja bukan karena dia perempuan, tapi karena aku mencintainya. “Ya, mungkin. Tapi, ketika seseorang bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi orang lain, tentu saja butuh alasan yang lebih kuat dari sekedar jenis kelamin.”


“Maksudnya?” tanya Lela penasaran.


“Ya, sudahlah. Pokoknya, aku akan melindungimu kalau itu terjadi,” jawabku, dan jujur aku mulai merasa canggung dengan pembahasan kami.


Beberapa saat, Lela menatap wajahku. Tampak sekali kekecewaan di wajahnya, setelah dia tidak mendapatkan jawabanku atas pertanyaannya. Dan aku semakin merasa canggung.


“Lagi pula ... faktanya kan, kau tidak ada di situ, Lela. Untuk apa kita mengkhayal sesuatu yang mengerikan?”


“Aku hanya ingin tahu saja,” jawab Lela, ketus.


Oh, Tuhan. Bagaimana ini? Kenapa Lela tampak marah kepadaku? Dan sekarang, apa yang harus aku katakan kepadanya?


“Bang?” panggil Lela. “Kenapa Bang Ben membantuku mendapatkan pekerjaan?”


Tentu saja aku bingung, kenapa tiba-tiba Lela menanyakan hal itu kepadaku. “Ya, karena ayahmu yang memintanya, dan kebetulan ada jabatan kosong di kantorku saat itu.” Kali ini aku menjawab pertanyaannya dengan baik.


“Kenapa Bang Ben mau mengajariku menguasai pekerjaanku?” Pertanyaan kedua dari Lela.


“Kalau Erwin tidak meminta Bang Ben mengajariku, apakah Bang Ben tetap mengajariku?”


“Tentu saja, iya.”


“Kenapa?” tanyanya cepat.


“Agar kau bisa mengusai pekerjaanmu.”


“Kenapa Bang Ben menginginkan aku untuk bisa menguasai pekerjaanku?” tanyanya lagi, semakin cepat.


“Agar orang-orang di kantor berhenti menilaimu sebagai orang yang beruntung, yang mendapatkan pekerjaan dengan posisi tinggi karena kau anak pemilik toko Sumber Kue.”


“Kenapa Bang Ben ingin merubah pandangan orang-orang terhadapku?”


“Karena aku perduli, dengan kau.”

__ADS_1


“Kenapa Bang Ben perduli dengan aku?”


“Karena aku mencintaimu.”


Dan, Lela tersenyum setelah mendengar jawaban terakhirku. Jawaban yang keluar begitu saja dari mulutku, karena aku terintimidasi dengan rentetan pertanyaan yang di ajukan Lela.


“Maksudku ...”


“Kenapa Bang Ben tidak pernah mengungkapkannya?” tanya Lela. Dia memotong pembicaraanku, dan bertanya hal sesensitif itu. Jujur, untuk sesaat aku ingin menghilang dari muka bumi. Aku bingung mau menjawab apa.


“Bang?” Lela mendasakku.


“Karena aku takut kau tidak menyukainya.”


“Bagaimana kalau tenyata aku menyukainya?”


Aku semakin gugup.


“Bagaiman kalau ternyata,aku  menantikan hal itu? Dan, bagaimana jika aku ... “


“Aku mencintaimu, Lela. Kau mau, menjadi kekasihku?” Akhirnya kata-kata itu terucap mulus dari bibirku. Dan, saat ini, aku akan menerima apapun jawaban dari Lela.


Lela tersenyum setelah aku mengungkapkan perasaanku lalu memintanya untuk menjadi kekasihku. Kemudian dia berkata, ”Iya, aku mau.”


❤❤❤


Dua tahun sudah berlalu semenjak aku menyatakan perasaanku terhadap Lela. Selama dua tahu ini, semuanya berjalan begitu baik, seolah-olah keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Bisnis kue kering kami berkembang pesat. Bahkan kami sudah bisa memperkerjakan tiga orang karyawan untuk membantu ibuku saat memproduksi kue kering.


Lalu, bagaimana kabar teman-temanku? Mereka baik-baik saja dan semakin sukses. Boris menjabat sebagai supervisor, Jessica sekarang sedang sekolah sastra di Korea Selatan, dan Jayadi? Jayadi adalah pemimpin bagian penjualan dalam bisnis kue kering yang kami jalani. Namun sayang, kisah cintanya dengan Fitri berakhir tidak seperti yang dia harapkan. Fitri belum mau memiliki hubungan spesial dengan seseorang. Karena Fitri sedang fokus mengejar mimpinya; menjadi seorang novelis. Alhasil, Jayadi menjomblo sampai saat ini, karena belum bisa move on dari Fitri.


Bagaimana denganku?


Saat ini aku sedang menantikan kelahiran anak pertama dari pernikahanku dengan Lela.


~The End~

__ADS_1


__ADS_2