
Di hadapanku sudah tersedia piring plastik warna merah yang sudah kuisi dengan martabak isi kacang, coklat, dan keju yang tadi aku beli sehabis Maghrib di dekat rumahku. Lalu di dalam kamar, tamu kehormatanku sudah hadir, Bapak Jayadi. Kami berdua duduk bersila di atas lantai. Jayadi duduk sambil menyenderkan punggungnya di tembok, sedangkan aku, duduk tegap menghadapnya. Dua gelas kopi hitam yang baru saja kuseduh, sudah tersedia di hadapan kami sebagai teman menyantap martabak.
"Jay, gimana hubunganmu dengan Fitri?" tanyaku.
"Yah, gitulah Bang " jawabnya, datar, dan aku tersenyum saja menanggapi Jayadi.
Nasib Jayadi di dalam Dunia percintaan, kurang lebih hampir sama denganku. Hanya saja dia lebih maju satu langkah di depanku. Jayadi itu sudah hampir delapan bulan ini menyukai adikku, Fitri. Semua yang dia rasakan, dia curahkan kepadaku. Ya, mungkin sebenarnya Jayadi mengharapkan bantuanku untuk mendapatkan Fitri, karena aku abangnya Fitri. Tapi, aku bukan tipikal yang seperti itu. Bagiku, cinta itu bukan seperti pekerjaan atau jabatan yang bisa dinepotisme. Cinta itu murni dan tidak bisa dipaksakan.
Tapi aku kagum dengan Jayadi. Setidaknya dia berusaha mendekati Fitri dengan berbagai macam cara yang dia bisa lakukan. Bahkan Jayadi juga mendekati aku, ibuku, dan juga bapakku. Karena fakta itu, aku menyebut Jayadi satu langkah lebih maju di depanku.
"Kenapa kau tidak utarakan saja isi hatimu pada Fitri?" tanyaku lagi.
Jayadi tersenyum ke arahku. " Yaelah Bang, kayak Bang Ben gak tau aja gimana kondisinya," jawabnya. Aku tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalaku. Ya, memang Aku tahu apa yang membuat Jayadi belum mengutarakan cintanya sampai sekarang kepada si Fitri. Masalah Jayadi adalah, karena mereka sudah terlalu dekat. Sampai-sampai sekarang Fitri menganggap Jayadi sudah seperti abang angkatnya. "Ya ... kita kan gak tau Jay? gimana hasilnya," ucapku.
"Pengen sih Bang. Tapi kalau ternyata Fitri gak suka denganku, malah nanti bisa ngebuat hubunganku dengan dia jadi canggung," balas Jayadi. Ya, ketakutan yang sama denganku.
"Bang Ben sendiri, kenapa sampai sekarang betah menjomblo?" tanyanya.
__ADS_1
"Hahaha, Jay ... Jay. Pertanyaanmu itu membuat hatiku menjadi perih," balasku.
"Hahaha, yaelah Bang, seriusan napa jawabnya?"
"Tak tahu lah Jay. Mungkin karena belum ada yang mau denganku."
"Yaelah Bang. Masa iya kagak ada yang demen sama Bang Ben?" balas Jayadi, sambil tersenyum ke arahku. "Jessica gimana Bang?" tanyanya lagi.
Aku tertawa mendengar nama yang disebutkan oleh Jayadi. "Jay, seperti tidak tahu dia saja kau. Jessica dan aku itu, seperti air dan api. Sangat berbeda, tidak mungkin cocok!" Jayadi tergelak mendengar jawabanku. "Iya, ya Bang," katanya, lalu tertawa dia terpingkal-pingkal.
"Hey! Apa yang kau bayangkan?" tanyaku padanya.
Sontak aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Jayadi. Kulihat Jayadi mengambil cangkir kopinya, lalu menyodorkan cangkir itu ke mulutnya dengan mata yang tetap tertuju ke arahku. Ya, Jayadi sedang menanti jawabanku atas pertanyaanya. "Lela?" tanyaku padanya. Jayadi menganggukkan kepalanya. "Kau pikir, aku pantas dengannya?" kutanya balik, dia.
Jayadi menatapku sambil memegang cangkir kopi dengan tangan kanannya. "Ya, pantas-pantas saja lah Bang," jawabnya.
"Tak tahu lah Jay. Mungkin memang akunya saja yang belum ingin memiliki pasangan," balasku padanya. Sebenarnya ingin sekali aku bercerita kepada Jayadi tentang perasaanku pada Lela. Tapi tak mampu aku mengutarakannya. Ya, seperti inilah aku. Pemendam.
__ADS_1
"Bang Ben lihat gak tingkah Erwin tadi pagi?" tanya Jayadi.
" Tingkah yang mana?"
"Tingkahnya sama Lela. Baru tahu aku, kalau orang seperti Erwin bisa bersifat manis gitu dengan orang yang jabatannya lebih rendah darinya," kata Jayadi. Sebenarnya hal ini, yang aku pikirkan sepanjang hari ini.
"Mungkin karena hari ini, hari pertama Lela masuk kerja, Jay. Jadi Erwin berusaha ramah," ucapku. Aku lihat Jayadi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sehabis mendengar jawabanku.
"Memang sebelumnya dia pernah gitu Bang?" tanya Jayadi.
"Memang belum pernah sih, Jay. Biasanya kan, dia cuma memperkenalkan, lalu kembali sibuk dengan game online-nya."
"Nah!" seru Jayadi, sambil mengangkat jari telunjuknya. "Mungkin gak sih Bang, Erwin itu suka sama Lela? "
Boom! Seperti ada bom meledak di dalam kepalaku setelah mendengar pertanyaan Jayadi. Tentu saja pertanyaan itu menimbulkan kecemasan dalam pikiranku. Tapi, di depan Jayadi, aku harus tetap bertingkah setenang mungkin. "Tak tahu lah Jay. Aku ini kan bukan orang yang bisa menebak-nebak isi hati manusia," jawabku padanya.
Jayadi menganggukkan kepalanya. "Ya kita lihat saja nanti Bang. Tapi kalau dugaanku, Erwin tertarik dengan Lela," ucap Jayadi, yakin dan mantap.
__ADS_1
Aku tersenyum saja menanggapi Jayadi. Entah apa yang harus aku lakukan dan pikirkan jika dugaan Jayadi benar?. Mengetahui jika hanya aku yang menyukai Lela saja, itu sudah membuatku gelisah. Bagaimana jika ternyata ada orang lain, yang menyukai Lela? Dan orang itu adalah manusia bermuka dua seperti Erwin?