
“Jes, biasanya Mas Erwin kalo mimpin brifing ngomongin apa saja?" tanya Lela sedikit berbisik kepada Jessica yang sedang berdiri di depan mejanya. Lela memimpin brifing pagi hari ini, karena Erwin harus menghadiri rapat dengan bagian keuangan perusahaan. Yah ..., karena dia masih baru, jadi Lela terlihat masih sedikit canggung dan bingung ketika harus berbicara kepada kami sebagai seorang pemimpin.
“Ini hari apa?" tanya Jessica, sambil menyusun daftar harga baru produk-produk tepung kue instan di atas meja.
“Ini hari Selasa," jawab Lela.
“Kalau hari Selasa, biasanya Mas Erwin main game di komputer," balas Jessica, polos, di sambut tawa Jayadi. Akupun ingin tertawa terbahak-bahak karena mendengar jawaban Jessica, tapi tak enak aku, jadi kutahan semampuku.
__ADS_1
Lela tersenyum geli mendengar jawaban Jessica. “Trus kalian gimana?“ tanyanya kembali.
“Yah ... gak gimana-gimana Mba Lela. Kami duduk-duduk, ngobrol, terus nanti jam sembilan berangkat ke lapangan."
“Mba Lela?“ panggil Jayadi. “Sudah, santai saja. Kami ini salesman sakti yang tak pernah tak masuk target. Mba Lela apalin saja produk-produk yang kita jual, gak usah mikirin kami," lanjutnya. Benar memang ucapan Jayadi. Kami ini sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, seperti anak ayam yang dikepar saja oleh si Erwin, untuk mencari makan sendiri.
Walaupun sempat tersenyum karena ucapan Jayadi, tapi kulihat wajah Lela masih tampak bingung dengan apa yang harus dia kerjakan. “Lela, benar kata Jayadi. Kau hapalkan saja produk-produk yang team kita jual, beserta harganya. Masalah dilapangan, kami semua sudah berpengalaman. Jadi tak perlu Kau cemas," ucapku.
__ADS_1
“Lela?" Dia menatapku. "Mas Erwin memintaku untuk mengajakmu pergi kelapangan," kataku, sambil menunjukan layar handphone ke arahnya. Lela menatap layar handphone-ku, lalu tak lama kemudian mata indahnya melirik ke arahku, dan berkata, “Siap Bang Ben!“ sambil mengangkat hormat dengan tangan kanannya. Aduh ... aduh, Lela! Jangan manis-manis kau itu ketika berbicara kepadaku. Itu bisa membuat gula darahku naik.
“Jadi, nanti kita ke toko mana saja, Bang?" tanya Lela.
“Tidak banyak jadwal kunjunganku hari ini. Hanya tiga toko. Tapi, semuanya toko dengan pembelian yang besar," jawabku. “Pertama, nanti kita kunjungi toko Berkah di jalan Pemuda. Lalu yang kedua, toko Tuba, di Bambu Kuning. Lalu satu lagi yang paling besar dan lokasinya masih di pasar Bambu Kuning. Namanya toko Sumber Kue. Nama pemiliknya, Pak Selamet. Nanti aku kenalkan kepadamu." Jessica dan Jayadi tertawa mendengar candaanku tentang toko Sumber Kue, begitu juga Lela.
“Bang Ben? Pak Selamet yang kata Abang pemilik toko Sumber Kue itu, bapakku!" balas Lela, disusul gelak tawa kami, yang berada di dalam ruangan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Lela mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel hitam miliknya. Raut wajah bingung yang sebelumnya dia tunjukkan, sudah hilang, berganti wajah bahagia penuh semangat.
Perintah Erwin kali ini adalah yang paling aku favoritkan, sepanjang masa kepemimpinannya sebagai supervisor. Sebab, karena perintahnya, aku bisa berpergian dengan Lela untuk kedua kalinya. Senang rasanya.