KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 35


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak kesepakatan bisnis antara aku, ibuku, dan Jayadi. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena banyak yang sudah memesan kue kering yang kami dagangkan. Semua itu karena hasil kerja keras aku dan Jayadi yang tak kenal lelah mencoba menawarkan produk kami kepada orang-orang yang kami kenal, dan tentu saja ini semua atas izin Tuhan.


Ibuku mulai menyusun daftar bahan-bahan untuk membuat kue di atas secarik kertas. Ya, maklum saja, ini kan bisnis baru, jadi kami belum berani memiliki stock bahan-bahan kue. Maka jadilah, kami baru membeli bahan ketika ada yang memesannya.


Ketika ibuku sudah selesai menulis daftar bahan-bahan yang diperlukan, sekarang giliran aku dan Jayadi yang harus membelinya di toko-toko kue yang kami tahu memberikan harga murah. Dan, dari semua toko-toko yang ada di kota Bandar Lampung, salah satu toko yang memberikan harga murah, barang yang dijual juga cukup komplit, dan pemiliknya kenal dekat dengan kami adalah, toko Sumber Kue.


Tentu saja ada rasa enggan dalam diriku untuk mengunjungi toko Sumber Kue. Pertama, karena ini adalah kali petama aku mengunjungi toko itu setelah aku mengundurkan diri. Dan kedua—alasan sebenarnnya— karena aku tahu, pasti berita pertiakaian antara aku dan Jayadi melawan Erwin, sudah sampai ke telinga Pak Selamet. Belum lagi, apa yang harus aku lakukan? Jika kebetulan Lela sedang ada di toko milik orang tuanya itu? Jujur aku belum siap untuk bertemu dengannya.


Ada satu fakta lagi yang mebuatku semakin enggan ke toko Sumber Kue; Pak Selamet itu sangat menyukai Erwin. Tentu saja, mungkin semua orang tua akan menyukai Erwin. Caranya merangkai kata-kata, pintar berbasa-basi, sering memberi pujian, dan pembawaannya yang tenang, membuat dia gampang disukai. Yang aku takutkan adalah, Pak Selamet membenciku dan Jayadi, karena pertikaian yang terjadi di kantor.


Tapi ini semua hanya masalah waktu. Entah hari ini, besok, atau lusa, aku pasti akan datang ke tempat itu, karena memang toko Sumber Kue adalah salah satu toko penjual bahan-baan kue terbaik di kotaku. Sesuatu yang sangat berhubungan dengan bisnis yang sekarang sedang aku rintis. Jadi, anggap saja ini sebagai ujian pertamaku dalam berbisnis.


🥜🥜🥜

__ADS_1


Aku dan Jayadi tiba di toko Sumber Kue sekitar jam sembilan pagi. Menurut perhitunganku, pada jam segini Lela ada di kantor, sedang brifing dengan team salesman. Jadi, aku sangat yakin tidak akan bertemu dengannya.


Setelah memarkirkan sepeda motorku, seperti biasa ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan, “Bang Bento!” Ya, Abdul meneriaki namaku. Pluit warna merah yang menggantung di lehernya berjuntai-juntai kekiri dan kanan saat dia berlari-lari kecil kearahku. Entah kenapa, aku merasa sudah lama tidak melihat moment ini. Padahal, baru empat hari yang lalu aku bertemu dengannya, saat statusku masih seorang salesman.


“Apa kabar bang?” tanya Abdul, saat dia sudah berdiri di hadapanku, sambi mengusap keringat yang berbulir di keningnya menggunakan sapu tangan warna merah.


“Baik Dul. Wah, rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu? Padahal kan, baru empat hari yang lalu,” balasku.


Abdul tersenyum menanggapiku, lalu dia melirik ke arah Jayadi. “Ini abang yang pernah dateng dengan mas Erwin, kan?” tanya Abdul pada Jayadi.


Kemudian Abdul dan Jayadi berjabat tangan. Ada satu moment yang menurutku lucu sekali setelah Jayadi menjabat tangan Abdul; dia langsung mengelap telapak tangannya ke celana jean yang dia kenakan. Aku tahu alasannya: tangan Abdul pasti terlalu basah untuknya.


Tapi Jayadi itu orang yang tau tata kerama. Biarpun terkadang ucapannya kasar, tapi dia mengerti reaksi seperti apa yang harus dia keluarkan dihadapan orang yang tidak terlalu dia kenal. Jayadi membuat gerakan yang sangat halus ketika mengusap tangannya ke bagian samping daerah paha kanannya. Hinga aku sangat yakin, Abdul tidak menyadari itu dan dia juga tidak perlu tersinggung.

__ADS_1


“Bang Ben sudah gak kerja bareng mas Erwin lagi?” tanya Abdul.


Dari pertanyaannya, aku langsung menyadari kalau kabar tentang keributan di kantorku sudah menyebar kemana-mana. “Iya, Dul. Kau tahu darimana?” tanyaku padanya.


“Kemaren kan mba Lela ngebawa sales baru kesini. Ya, memperkenalakan ke Pak Selamet,” jawabnya.


“Lalu kau tahu kenapa aku keluar dari tempat kerjaku?”


Abdul terseyum sambil menggaruk-karuk kepalanya yang basah. Aku melihat keengganan dari wajahnya untuk membicarakan hal ini. Tapi justru itu membuat aku semakin ingin tahu, gosip apa yang beredar di lapangan tentang aku dan Jayadi.


“Kemarin kan, Bang Boris dateng kesini bang, belanja. Nah, saya tahu dari bang Boris. Dia cerita katanya Abang ribut dengan mas Erwin,” jawab Abdul, jawaban yang membuat aku sangat lega, karena ternyata dia mengetahui kabar pertikaian di kantor dari Boris. Boris tidak mungkin berbicara macam-macam tentangku, minimal dia membicarakan kejadian yang sebenarnya.


Lalu, kejadian setelahnya lebih membuat hatiku lega. Ketika Pak Selamet berseru memanggil namaku dari dalam toko. Aku langsung pamit ke Abdul, lalu segera melangkah masuk kedalam toko—Jayadi mengikutiku dari belakang. Pak Selamet berjalan menghampiriku ketika aku baru saja memasuki toko, lalu kemudian dia merangkulku, seperti seorang teman. Kejadian yang membuat aku merinding.

__ADS_1


Di dalam toko, Pak Selamet sempat berkata, “Lela sudah menceritakan kepada saya apa yang terjadi di kantor.” Lalu dia juga mengatakan kalau Boris sempat datang untuk membeli beberapa kilo tepung, dan memperjelas cerita tentang apa yang terjadi di kantor. Dari ekspresi dan ucapan yang dikeluarkan Pak Selamet, aku bisa menebak kalau dirinya menerima informasi yang benar. Tidak ada sedikitpun kata-kata yang dia ucapkan, yang seakan-akan menyalahkan aku dan Jayadi. Bahkan ketika aku bercerita tentang bisnis yang sedang aku rintis bersama Jayadi dan ibuku, Pak Selamet menyambutnya dengan sangat antusias, dan bersedia memberikan harga yang lebih murah dari pada yang biasannya dia jual. Sempat tidak enak hati aku, apalagi ketika dia berucap, “balas budi, Ben. Kamu kan sudah membantu Lela masuk ke perusahaan, dan kamu juga yang mengajarinya hingga Lela sekarang menguasai pekerjaannya.” Sumpah demi Tuhan, aku tidak pernah mengingat itu sebagai kebaikan. Aku melakukan semua itu tulus, tanpa syarat. Jadi aku sedikit tersinggung ketika Pak Selamet menyingungnya. Tapi tentu saja, pandanganku sedikit berbeda dengannya, jadi aku malas berdebat atau membantah ucapannya.


Satu hal yang harus aku tekankan disini. Semua yang sudah aku lakukan untuk Lela, aku melakukannya dengan tulus. Tidak ada sedikit pun terbesit dalam pikiranku untuk mendapatkan balasan. Apapun itu.


__ADS_2