
Pintu teater satu telah dibuka. Bagi anda yang telah memiliki karcis dipersilakan memasuki ruang teater...
Suara merdu dari Ibu Maria Oentoe sudah menggema di dalam area bioskop. Kami dan para penonton lainnya mulai bergegas menghampiri petugas bioskop yang berdiri di depan pintu masuk teater untuk menyerahkan tiket yang sudah dimiliki.
Sesuai sekenario yang direncanakan Erwin, di dalam teater dia langsung menduduki kursi nomor B11, dan Lela menduduki kursi nomor B10, sedangkan aku memilih duduk di kursi nomor B9. Ya, biarpun ada tangga/jalan yang memisahkan kursi yang aku dan Lela duduki, tapi jika dilihat secara data (nomornya), maka aku dan Lela duduk bersebelahan. Sesuatu yang sedikit menghiburku.
Jessica memilih duduk di sebelahku, kemudian secara terang-terang dia meminta Jayadi untuk duduk di kursi nomor B7 yang berada di sebelahnya. Aku cukup merasa kasihan saat melihat ekspresi wajah Boris, ketika Jessica secara langsung meminta Jayadi untuk duduk di sebelahnya. Boris tersenyum—tersenyum karena malu dengan dirinya sendiri, lalu dia berjalan melewatiku, Jessica, dan Jayadi dengan kepala yang tertunduk menuju kursi B6 yang berada di sebelah Jayadi. Namun, tenang saja! Saat di resto, aku dan Jayadi sudah memprediksi kalau Jessica pasti akan memilih tempat di tengah-tengah aku dan Jayadi, dengan tujuan, agar dirinya tidak duduk bersebelahan dengan Boris. Ya, seperti yang sudah aku beritahu, Jessica akhir-akhir ini sedikit menjaga jarak dengan Boris. Tapi, aku tidak menyangka kalau Jessica memintanya secara terang-terangan, dan jujur saja hal itu membuatku sedikit ragu untuk menjalankan rencana yang sudah kami susun sebelumnya, yang adalah: ketika film sudah dimulai, Jayadi dan Boris pura-pura pergi ke toilet. Lalu ketika mereka kembali ke dalam teater, mereka berdua bertukar tempat duduk. Tapi kalau sudah begini, bisa saja jika nanti rencana ini tetap di jalankan, dan ketika Boris dan Jayadi bertukar tempat duduk, adalah hal yang sangat mungki, jika Jessica meminta bertukar tempat duduk denganku secara terang-terangan (lagi), dan itu akan semakin mempermalukan Boris.
Aku sempat melirik kearah Jayadi, tapi kulihat, dia sedang cekikikan menonton cuplikan film yang sedang di putar di layar bioskop—sebuah cuplikan film komedi yang akan tayang di minggu depan. Lalu, kusempatkan melirik ke arah Lela, kulihat dia sedang ngobrol dengan Erwin sambil tertawa-tawa kecil. Ah ... sudahlah, pikirku, masih ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan sekarang. Kemudian aku melirik lagi ke arah Jayadi, aku ingin memberinya sebuah kode untuk membatalkan rencana yang sudah kami susun. Tapi, ternyata ketika aku pandang dia, dia juga sedang memandangku sambil tersenyum licik. Tentu saja, aku tidak tahu apa maksud senyumannya itu.
Aku terus memandang Jayadi, dan dia juga menatapku dengan sorotan mata yang semakin tajam, seperti serigala. Aku sempat terkejut ketika tiba-tiba dia mengangkat tangan kanannya setinggi bibir, dengan jari telunjuk yang dia acungkan ke atas, kemudian secara cepat dan begitu ahli, Jayadi memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang hidung bagian kanannya, lalu jari telunjuknya itu menari meliyuk-liyuk begitu erotis di dalam lubang hidungnya. Jayadi mengupil!
Ada satu hal yang aku belum sempat beritahu kepada kalian tentang Jessica. Jessica itu sangat benci dengan orang yang jorok. Dan menurut pandangannya, mengupil di depan umum adalah sebuah kejorokkan total.
Jayadi terus menatapku dengan sorotan matanya yang tajam dan bibirnya yang menyeringai, sambil terus meliyuk-liyukkan jari telunjuknya di dalam lubang hidungnya. Jujur saja, sesaat aku sedikit merasa terancam dan ngeri, saat menyaksikan tontonan tidak pantas yang sedang dipertunjukkan oleh Jayadi. Lalu kemudian, aku pun tersadar: Jayadi sedang berimprovisasi. Aku mulai berfikir cepat, aku harus memanfaatkan moment ini secepat mungkin, sebelum hidung Jayadi mengeluarkan darah (karena Jayadi mengorek hidungnya dengan gerakan yang sangat kasar). Lalu kulirik Jessica, kulihat dia sedang sibuk bermain dengan handphone-nya.
__ADS_1
“Jess?” kataku sambil sambil menyikut pelan lengan kirinya. Ketika Jessica menatapku, kutanya dia, “kau bawa tissue?“ Dan dia menganggukkan kepalanya. “Kau berikan kepada Jayadi satu lembar,“ ucapku, sambil kualihkan pandanganku ke arah Jayadi, dan secara sepontan, Jessica melihat ke arah Jayadi.
“Idih!“ ucapnya jijik, dengan raut wajah yang super jijik.
“A~ah,“ Jayadi mendesah, sambil terus mengorek-ngorek lubang hidungnya. Sumpah Demi Tuhan aku ingin sekali tertawa sekeras-kerasnya karena melihat kekonyolan Jayadi. Tapi aku harus menahannya karena itu bisa mengganggu orang lain di dalam teater.
Jessica menghadapkan tubuhnya kearahku dan mencengkram lengan kananku. “Bang Ben? Tukeran tempat duduk yuk?“ ucapnya memelas. Wajahnya panik.
“Jes. Aku ini kalau nonton bioskop punya kebiasaan sering bolak-bailk ke toilet. Jadi, daripada aku mengganggu penonton lain di belakang ketika berdiri, akan lebih baik kalau aku duduk di kursi paling ujung di dekat jalan, seperti tempat dudukku sekarang ini,“ jawabku, membuat alasan. Tentu saja aku tidak akan menyerahkan kursiku kepada Jessica, agar rencanaku dan Jayadi berjalan lancar.
Jessica kembali menatap kearahku, “Bang?“ ucapnya semakin memelas, dan aku langsung menggelengkan kepalaku. Setelah itu Jessica memajukan tubuhnya, dan menatap ke arah Boris yang terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tentu saja, karena dia tidak tahu rencana sudah berubah. “Bang Boris, pindah sini dong? Tukeran tempat duduk sama Bang Jay,“ pinta Jessica kepada Boris, dan sekaligus sebagai pananda kemenangan diriku dan Jayadi.
Jayadi langsung bangkit dari tempat duduknya, “ayo Bang, tukeran!“ ucapnya pada Boris. “Emang reseh si cewek Korea!“ lanjutnya, ketus, dan Boris pun langsung mengiakan permintaan Jessica dan Jayadi.
Seperti inilah ikatan pertemanan yang semestinya, saling mendukung, saling mengerti, dan saling tolong menolong. Aku dan Jayadi tidak bertanya apapun kepada Boris, saat kami mengetahui keinginannya untuk bisa duduk bersebelahan dengan Jessica di dalam teater, dan sedikitpun kami tidak mengeluarkan argumen yang dapat membuat Boris malu akan keinginannya. Aku dan Jayadi hanya perlu mengetahui keinginannya, mengerti perasaannya, dan kemudian menolongnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, lampu di dalam teater mulai dimatikan, pertanda film akan segera dimulai. Aku mulai fokus menatap layar lebar di hadapanku. Ketika film sudah di mulai, semua orang yang duduk di bangku teater mulai terbius dengan alur cerita yang menghibur dari film yang kami sedang tonton, dan ketika kusempatkan sedikit melirik ke arah Lela, dia juga tampak fokus menatap layar lebar bersama Erwin di sebelahnya. Ketika ada adegan lucu di film itu, tentu saja aku tertawa sambil menghadapkan wajah ke arah Lela dan berharap dia melakukan hal yang sama, tapi ternyata tidak, Lela tertawa bersama dengan Erwin, saling berhadapan muka. Lalu aku sempat melirik saat Lela terlihat sedang menjelaskan sesuatu kepada Erwin, tapi aku tidak bisa mendengar apa yang Lela bicarakan kepada Erwin, karena dia berucap sambil berbisik-bisik. Aku ulangi, berbisik-bisik. Seperti yang kita tahu, ketika seseorang sedang berbisik kepada orang disebelahnya, normalnya orang itu harus mendekatkan mulutnya ke telinga orang yang sedang dia bisiki, dan seperti itulah posisi Lela dan Erwin saat aku melihatnya, dan kalian tahu? Jika Erwin menaikkan sedikit posisi kepalanya, lalu memajukan pipinya ke arah Lela, maka secara kasat mata Lela akan terlihat sedang mencium pipi Erwin, dan pikiran itu benar-benar menggangguku, bahkan (sialnya) sampai film yang kami tonton selesai.
🕐🕑🕒
Ketika film telah selesai, kami segera meinggalkan teater, pergi menuju lift, dan turun ke basement Mall Kedaton. Sepanjang perjalan menuju lift dan saat di dalam lift, Jessica terus mencaci-maki Jayadi karena aksi frontalnya saat ngupil di depan wajah Jessica, dan Boris pun mendukung Jessica, bahkan dia juga ikut-ikutan mencaci-maki Jayadi. Tapi tentu saja, caci-maki yang kumaksud disini adalah candaan seperti biasa yang kami lakukan di kantor. Ya, kulihat Boris dan Jesica sudah kembali akrab, walaupun masih ada sedikit kecanggungan di antara mereka, itu hanya sedikit sekali. Sedangkan Lela dan Erwin, mereka terus berbincang seru tentang film yang baru kami tonton Mereka berbincang seakan-akan kami ini tidak ada dan merasa Dunia hanya milik mereka berdua. Jujur di dalam hatiku, aku merasa menyesal ikut dalam acara nonton bareng ini. Memang ada hal positif di balik semua ini, aku dan Jayadi berhasil mewujudkan keinginan Boris. Tapi melihat keakraba (bahkan mungkin sudah layak di sebut kecocokan) antara Erwin dan Lela, itu benar-benar menyakiti hatiku, dan hatiku menjadi semakin sakit ketika kami sampai di basement, lalu Erwin berpamitan kepada kami untuk pergi makan malam bersama Lela. Berdua saja.
Ketika malam tiba
Kurela Kau berada
Dengan siapa Kau melewatinya
Aku tak bisa memahami ( Iwan Fals – Bukan Pilihan, 2003 )
__ADS_1