
Jayadi kembali ke toko Sumber Kue dengan membawa sebuah kantong plastik bening yang di dalamnya berisikan lima buah nanas. Tentu saja, ketika melihat Jayadi datang, Lela langsung menyapanya dengan ramah dan aku melihat ada sedikit rasa rindu yang tampak di raut wajah Lela. Aku maklum sekali, Jayadi adalah seorang bintang di ruangan brifing. Dialah yang membuat suasana ruangan brifing menjadi ceria setiap paginya dan tidak bisa aku pungkiri, mungkin jika aku menjadi Lela, aku juga akan rindu kapadanya.
"Eh, ada Mba Lela," sapa Jayadi membalas Lela.
"Jadi Mas Jay bisnis bareng Bang Ben, nih?" tanya Lela pada Jayadi. Sebelumnya aku memang sudah memberitahu Lela, kalau aku bekerja sama dengan Jayadi memasarkan kue kering buatan ibuku.
"Iya Mba, daripada ngebegal? Mendingan bisnis kue kering, halal dan insyaallah, berkah," balas Jayadi.
__ADS_1
"Amin, Mas Jay ..." kata Lela, lalu sekonyong-konyong pandangannya dia arahkan kepadaku, "Aku mau dong, diajakin?" katanya. Tentu saja ucapan Lela membuat aku diam mematung untuk beberapa detik, karena aku tidak menyangka dia akan mengungkapkan keinginannya untuk ikut serta dalam kerja sama bisnis kue kering antara aku dan Jayadi.
"Boleh kok, Mba," sambar Jayadi sekonyong-konyong. "Tapi ngobrolnya jangan sekarang. Ini nanas keburu layu diungkep dalam plastik," ucap Jayadi sambil mengangkat plastik setinggi dada, hal yang membuat aku dan Lela tertawa setelah mendengarnya. "Nanti malem saja kita ngobrol-ngobrol di tempat Bang Bento, gimana?"
"Boleh—" sahut Lela.
"Boleh kan nanti malam aku main ke rumah Bang Ben?" tanya Lela kepadaku.
__ADS_1
"Oh ... tentu saja boleh," balasku tanpa pikir panjang, dan setelah aku menjawabnya, aku merasa ada kupu-kupu terbang di sekitarku, aku mencium bau rerumputan basah, aku merasa melayang-layang menuju langit yang biru, dan mataku melihat pelangi melengkung di dalam toko Sumber Kue—tepat di atas kepala Jayadi. Oh ... aku bahagia ... aku bahagia ...
"Oke, aku dateng sekitar jam tujuh atau jam delapan," kata Lela, dan aku langsung menganggukkan kepalaku sebagai pertanda bahwa aku setuju.
Setelah itu, Lela mengabarkan kepada Jayadi tentang pengundurkan diri Jessica dari perusahaan-sesuatu yang sebelumnya sudah dia ceritakan kepadaku. Tentu saja Jayadi terkejut ketika mendengar kabar itu, karena pikirannya sama denganku; Jessica selama ini tidak pernah mengeluh tentang pekerjaan. Obrolan tentang pengunduran diri Jessica dari perusahaan menjadi penutup perjumpaan kami.
🦋🦋🦋
__ADS_1
Di perjalan pulang, kepalaku sibuk memikirkan: kudapan apa yang harus aku sajikan kepada lela nanti malam? Baju apa yang harus aku pakai? Di mana nanti malam aku harus menjamunya? Kamarku? Ruang tamu? Ruang keluarga? Atau di warung milik Ibu Sri? Entahlah. Mungkin aku harus musyawarahkan ini kepada Jayadi. Toh, dia yang memiliki gagasan mengajak Lela ke rumahku, dan ketika aku bertanya kepada Jayadi tentang apa yang dia rencanakan sehingga ida mengajak Lela datang ke rumahku malam ini, jawabanya adalah, "nggak ada Bang. Saya tadi spontan aja, eh ... ternyata Mba Lela-nya mau. Ya, sekarang giliran Bang Ben deh pikirin. Kira-kira mau gimana nanti malam. Kalau saya yang mikir juga Bang, nanti malah saya yang ngedapetin Mba Lela."