
Aku adalah orang yang merekomendasikan Lela kepada Erwin, agar Lela bisa menjadi salah satu kandidat kordinator team tepung kue instan di perusahaan tempat aku mencari nafkah. Kemudian, jika mundur lagi sedikit kebelakang, Aku juga yang menyarankan agar Lela melamar pekerjaan di perusahaan tempat aku bekerja. Jadi, sebenarnya, akulah yang mengantarkan Lela ke hadapan Erwin, seperti kurir.
Jadi, apakah itu takdirku?
Menjadi kurir?
Tapi tunggu dulu! Aku juga harus sadar akan kemampuanku sebagai manusia. Kemampuan yang aku miliki sejak aku dilahirkan di dunia ini. Kemampuan yang mengkehendaki aku untuk bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Kemampuan itu ialah, memilih.
Ya, selain memberikan akal dan pikiran, Tuhan juga memberikan manusia kebebasan untuk memilih; ingin menjadi baik atau buruk? Ingin menjadi bijak atau kekanak-kanakan? Ingin menjadi yang diberi atau yang memberi? Dan semua hal-hal yang bisa dipilih oleh manusia.
Dan saat ini, aku ada di antara dua pilihan: ingin menjadi kurir ? Atau berkompetisi dengan Erwin untuk mendapatkan Lela?
Keputusanku adalah: aku akan berkompetisi dengan Erwin untuk mendapatkan Lela.
👁👁👁
Aku pikir setelah apa yang aku rasakan malam ini, akan lebih baik jika aku berkumpul dengan teman-temanku. Ya, setidaknya aku bisa menghindari pikiran-pikiran negatif yang bisa saja muncul kalau aku sendirian. Jadi tadi, di tempat parkir Mall Kedaton. Aku secara khusus meminta Jayadi dan Boris untuk menginap di rumahku, kebetulan juga besok kan hari minggu.
Mendengar tawaranku, tentu saja Jayadi langsung mau, kalau dia sih tidak kupinta juga akan datang sendiri kerumahku. Tapi sayangnya, Boris tidak bisa ikut. Katanya besok pagi-pagi sekali dia harus mengantarakan mamaknya pergi ke tempat pelelangan ikan di daerah Teluk Betung, Bandar Lampung.
🕐🕑🕒
Di dalam kamarku, Jayadi terus mengoceh tentang film yang tadi kami tonton. Menurut pendapat Jayadi, SPIDER-MAN: FAR FROM HOME adalah film Spiderman terbaik yang pernah dibuat. Biasanya aku akan melontarkan pendapatku juga, untuk menanggapi Jayadi. Tapi, karena tadi di dalam teater aku sedikit kurang fokus dengan film yang sedang diputar, jadi untuk sementara ini aku dengarkan saja dulu pendapatnya. Nanti setelah kutonton ulang film itu (besok, sendirian), baru aku akan mengutarakan pendapatku kepada Jayadi.
__ADS_1
“Ya gak, Bang?” tanya Jayadi. Dia baru saja berpendapat kalau akan lebih seru jika karakter Deadpool atau Venom juga masuk di Marvel Cinematic Universe.
“Ya, aku setuju denganmu,“ jawabku.
Setelah mendengar jawabanku, kulihat Jayadi memandang wajahku, raut wajahya mendadak lebih serius dari sebelumnya. “Kayaknya ada yang dipikirin, nih?“ tanyanya padaku.
“Iya nih Jay, aku lagi mikir, kira-kira kapan gaji kita naik?“
“Ahahahahaha ..., bohong!“ balasnya.
Ya, memang tidak mungkin aku bisa membohongin Jayadi. Dia sudah terlalu lama mengenal diriku, tentu saja dia bisa membaca raut wajahku, dan dia tahu sekali, aku bukanlah orang yang suka mengeluh tentang penghasilanku. “Aku ini lagi mikirin masa depan, Jay.“ Sekali lagi kucoba mengalihkan fakta yang sebenarnya.
“Aiss ... Bang!“ ucapnya, sambil mengibaskan telapak tangan kananya di depan wajahnya. "Gak usah dipikirin, jalanin aja,“ lanjut Jayadi, kemudian dia meraih cangkir berisi teh di hadapannya.
“Menurut Bang Ben, Erwin sama Lela bakal pacaran gak? Ya ... kalo di lihat-lihat sih, hubungan mereka jadi semakin dekat. Apalagi tadi pas di bioskop,“ kata Jayadi, setelah dia menyeruput cangkir berisi teh yang berada di tangan kanannya.
“Ya, bisa saja Jay,“ balasku. Sebenarnya aku tidak ingin membahas ini, tapi disisi lain, aku juga ingin mendengar pendapat Jayadi tentang Erwin dan Lela.
“Coba Bang Ben, ya?“
“Maksudmu?”
“Iya, coba Bang Bento yang ngedeketin Lela, pasti lebih serasi Bang,“ jawab Jayadi.
__ADS_1
Aku sedikit terhibur mendengar pernyataan Jayadi, dan aku semakin ingin tahu apa yang ada dikepalanya. “Tak mungkin aku bisa bersaing dengan Erwin, Jay,“ balasku, berusaha senormal mungkin.
Jayadi tersenyum mendengar ucapanku, lalu dia mengambil sebatang rokok mild miliknya, menghidupkannya dengan korek api, menghisapnya dalam-dalam, lalu membuang asapnya ke arah langit-langit kamarku. “Erwin memang jabatannya lebih tinggi dari Bang Ben, tentu pendapatannnya juga jauh lebih besar. Kalo kemana-mana Erwin naik mobil sedan, Bang Ben cuma naik motor matic. Penampilannya juga lebih rapih, enak di pandang. Ya, kalau di atas kertas, Bang Bento memang kalah telak dari Erwin.“ Sejenak, Jayadi menghentikan ucapannya, dan dia menatap tajam ke arahku. "Tapi kan jangan nilai buku dari sampulnya Bang. Kita harus liat isinya juga,“ lanjut Jayadi.
“Maksudmu?“ tanyaku, penasaran.
“Bang Bento kan lebih baik dari Erwin, “ jawab Jayadi.
“Jay, memang kau tau apa? Kau tidak boleh memutuskan semaunya, kalau aku lebih baik dari Erwin,“ balasku sambil tertawa kecil. Sedikit meremehkan.
“Bang Ben tau gak sih, kalau Erwin itu duda anak dua?“ tanya Jayadi. Pertanyaan yang membuatku sangat terkejut. Tentu saja terkejut. Karena selama ini Erwin selalu mengaku kalau dia masih bujangan.
“Kau tau dari mana?“
“Lah! Saya kan kenal Bang, sama mantan istrinya. Rumahnya kan masih tetanggaan sama Saya. Saya aja selama ini gak bilang-bilang, soalnya gak etis Bang ngomongin aib orang. Kalau sekarang situasinya agak beda, saya kasian sama Lela, jadi terpaksa saya kasih tau Bang Bento,“ balas Jayadi.
Aku sangat percaya kepada Jayadi, dia tidak mungkin bohong padaku, apalagi ini tentang aib seseorang. “Kau tahu, cerainya karena apa?” tanyaku, penasaran.
“Kekerasan dalam rumah tangga! Masa si Erwin mukulin istrinya, cuma gara-gara pas dia pulang kerja, istrinya lagi tidur. Jadi, pas dia ngetok minta bukain pintu, istrinya lama bukainnya. Terus yang lebih parah, anaknya sekarang diterlantarkan Bang. Jangankan di sekolahin, ditengok juga gak pernah, sama Erwin. Kan dari situ aja kita bisa ...,“
“Jay,“ ucapku, memotong pembicaraannya. “Sebenarnya aku jatuh cinta sama Lela,“ dan akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku.
“Sudah tau, Bang,“ jawab Jayadi, enteng.
__ADS_1