
"Oh, iya Mas. Soalnya memang kalau ada sesuatu yang berhubugan dengan pekerjaan. Aku selalu ngobrolnya dengan Bang Bento. Bukannya Mas Erwin sendiri yang dulu nyuruh begitu?" jawab Lela pada Erwin.
"Iya sih. Tapi dulu dan sekarang kan beda, Lela. Kalau dulu kamu kan akrabnya cuma sama Bento, karena itu, aku suruh kamu kalau ada apa-apa bicarakan kepada Bento. Nah, kalau sekarang kan, kamu sudah akrab dengan semuanya." Erwin mencoba berkelit.
"Yasudah sih Mas, senyamannya Mba Lela aja dia maunya sama yang mana," ucap Jayadi sekonyong-konyong.
"Jayadi! Kamu itu cuma sales, jadi pendapatmu tidak diperlukan dalam urusan ini!" seru Erwin, kesal.
Seketika Jayadi langsung bangkit dari tempat duduknya setelah mendengar perkataan Erwin. Lalu dia berdiri tegap menatap tajam ke arah Erwin.
__ADS_1
Reaksi Jayadi atas perkataan Erwin tentu saja membuat aku dan Boris siaga, berjaga-jaga kemungkinan terburuk yang akan terjadi; perkalahian, atau aku lebih suka menyebutnya baku hantam.
"Hey Jay! Apa maksud reaksimu itu?!" tanya Erwin, nada bicaranya meninggi, dan sekarang aku yakin semua orang yang sedang berada diluar ruangan brifing team tepung kue instan, mendengar kegaduhan yang terjadi. Jayadi tidak menjawab pertanyaan Erwin, dia hanya terus menatap tajam kearah Erwin.
"Jayadi?" aku memanggilnya. Ketika dia menatapku, kulihat wajahnya memerah, kemarahannya sudah memuncak. Sejenak aku berfikir, ini sudah terlambat untuk dihentikan, amarah Jayadi kepada Erwin yang selalu merendahkan bawahannya, tidak perduli dengan bawahannya, melempar semua kesalahan kepada bawahannya, tukang pukul istri, dan sekarang ditambah penolakan Jayadi atas kedekataan Erwin dan Lela (sesuatu yang harusnya aku lakukan), meluap. Aku pernah berselisih paham dengan Jayadi, beberapa kali, dan hanya perdebatan yang berujung kepada keputusan saling mendiamkan yang biasanya terjadi. Yang saat ini aku lihat adalah, sesuatu yang belum pernah aku lihat dari diri Jayadi. "Kembali kekursimu, ini bukan sesuatu yang harus diributkan. Lela kan cuma mau bertanya tentang pekerjaannya kepadaku, jadi ...,"
Teriakan Erwin kepadaku semakin memacu kemarahan Jayadi ke level yang lebih tinggi, dan mamacunya untuk berlari menuju Erwin dengan segala kemuakannya. Untung saja dengan sigap Boris mampu menahan tubuh Jayadi dengan cara memeluknya. Melihat Jayadi tertahan dipelukan tubuh gempal Boris, seperti pendekar pengecut yang ingin mencuri kesempatan, Erwin berdiri dari kursi meja kerjanya, menghampiri Jayadi, dan langsung mengarahkan kepalan tinjunya ke arah wajah Jayadi. Namun, entah karena keberuntungan apa? Jessica yang berada paling dekat dengan mereka bertiga berhasil mendorong tubuh Erwin hingga dia goyah, hampir terjatuh. Sekejap Erwin sempat menatap wajah Jessica dengan amarah yang sama dengan amarahnya kepada Jayadi. Mungkin satu-satunya alasan yang membuat dia tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada Jessica adalah, kesadaran kalau Jessica mendorong tubuhnya karena ingin melerai perkelahian.
Melihat sesuatu yang buruk masih akan terjadi, aku dengan cepat berjalan menghampiri kegaduhan. Melewati Lela yang berdiri terdiam memandang orang-orang barbar yang ingin saling hantam dengan wajahnya yang takut.
__ADS_1
Erwin menatap waspada kearahku yang sedang berjalan kearahnya, "mau apa kau, Ben?!" tanyanya, keras, namun bergetar. Aku tidak menanggapinya, aku hanya berjalan melewatinya, menghampiri Jayadi dan merangkul sahabatku itu erat dan membawanya keluar dari ruangan brifing. Namun ketika aku baru saja sampai di depan pintu ruangan, langkah kaki cepat terdengar dari arah belakangku, dan seperti dugaanku, ketika aku menghadap ke arah belakang, Erwin sedang berlari menghampiri kami seperti binatang. Kali ini aku tidak tahu siapa yang dia incar, aku atau Jayadi? Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan, mencekiknya.
Jari-jari tangan kananku mencekik leher Erwin, sedangkan tinju tangan kiriku, aku kepal kuat-kuat bersiap untuk sku hadiahkan kepadanya. Kalian pasti pernah merasakan ketika emosi berada di level yang sudah tidak bisa kita kendalikan, maka akan ada sekelibat cahaya putih melesat didalam pikiran kita, dan biasanya di saat itulah, pikiran kita tidak mampu lagi mengendalikan tubuh. Sesuatu yang sering diakui para pelaku tindak kekerasan sebagai, kilav. Dan kilav akan terjadi, pasti akan terjadi kalau saja bukan karena ...,
"Bang Ben!" seru Lela, khawatir, disusul isak tangisnya. Aku menatapnya, merasakan takut dan cemasnya. Perasaan yang membuat kesadaranku kembali, dan tubuhku gemetar setelahnya. Kemudian aku tatap wajah Erwin, wajahnya yang memerah karena amarah berganti dengan wajah pucat, dan tatapan matanya terlihat takut. Aku melepas jari-jariku dari lehernya—sebenarnya ada seribu caci maki di dalam pikiranku yang ingin sekali aku muntahkan untuknya, tapi ini bukan saat yang tepat, aku menyadarinya.
"Ayo Bang?" ajak Jayadi sambil menarik lengan kiriku, mengajakku pergi dari ruangan brifing, meninggalkan Erwin yang takut, Lela yang menangis, Jessica yang berdiri di depan meja sales dengan wajah pucat, dan Boris yang tampak bingung.
Ketika kami keluar dari ruangan brifing, sekumpulan orang-orang yang ingin tahu apa yang sedang terjadi diruangan brifing team tepung kue instan menyambut kami dengan tatapan menuding, seolah-olah kami berdua adalah biang keladi dari keributan yang terjadi. Aku dan Jayadi melewati mereka semua, berjalan meninggalkan semuanya.
__ADS_1