KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 34


__ADS_3

Hari ini, aku dan Jayadi mulai menyusun nama-nama orang yang nantinya akan kami tawari dan rayu, agar mau membeli kue kering buatan ibuku. Nama-nama orang dalam daftar ini adalah, nama-nama yang memang sudah aku dan Jayadi kenal dekat. Lalu, aku dan Jayadi juga sumbangan seorang dua juta rupiah, untuk menambah modal usaha yang sedang kami kembangkan. Kami pikir, cukuplah itu untuk membeli mixer dan oven baru agar ibuku jadi lebih mudah saat membuat kue. Maklum saja, alat-alat pembuat kue yang dimiliki ibuku, rata-rata sudah tua umurnya. Bahkan mixer yang dia punya, sudah bolak-balik dibawa ke tukang service kerena sering berkendala.


Kemudian, karena kami mantan sales bahan kue, jadi kami mengetahui toko penjual bahan kue mana yang memberikan harga paling murah di kota Bandar Lampung. Jadi, kami juga mencari-cari dan mengingat-ingat, toko mana yang memberikan harga paling murah. Ini semua kami lakukan untuk memperkecil modal usaha yang harus dikeluarkan.


Sebuah kebetulan, hari ini Boris datang kerumahku. Katanya dia bolos kerja karena rindu dengan aku dan Jayadi. “Kenapa gak resign juga aja bang?” tanya Jayadi kepada Boris. Pertanyaan yang hanya ditanggapi dengan wajah datar oleh Boris.


Kata Boris, keadaan di kantor sedikit berbeda tanpa kehadiranku dan juga Jayadi, Jadi lebih sepi, dan Erwin menjadi lebih ketat dengan peraturan. Menurutku maklum saja Erwin melakukan itu, karena keributan beberapa hari lalu pasti sedikit menodai wibawanya sebagai seorang atasan. Apalagi ada dua orang salesman baru yang menggantikan posisiku dan Jayadi. Jadi, pastilah dia ingin dua orang salesman baru itu langsung menaruh rasa hormat setinggi-tingginya kepadanya.


Sebenarnya aku juga rindu dengan Boris—padahal baru tiga hari aku tidak bertemu dengannya. Jadi, ketika dia datang, langsung aku ajak dia ke kamarku, tempat paling nyaman bagiku untuk menjamu tamu-tamuku.


Aku sempat menanyakan kabar Jessica kepada Boris, katanya, “kabarnya baik. Hanya saja, sama lah sepertiku, rindu juga dia dengan kalian. Apalagi dengan Jayadi,“ kata Boris sambil menatap kearah Jayadi.


“Lah! Napa si cewek Korea pake kangen sama saya segala?!” balas Jayadi sedikit nyolot. Padahal aku tahu, dia juga sebenarnya rindu perang kata-kata dengan Jessica.

__ADS_1


“Jay? Kau kan dengan Jessica itu selalu bercanda setiap sebelum brifing, dan itu kalian lakukan setiap hari kerja. Kau bayangkan saja, tiba-tiba orang yang sering kau ajak bercanda sudah tidak ada lagi? Pasti kehilangan,” kata Boris. “Memangnya kau tidak rindu perang kata-kata dengan Jessica?”


Aku lihat Jayadi sempat membuang pandangannya ke arah pintu setelah mendengar pertanyaan Boris (Sudah jujur saja kau juga rindu Jay). Lalu, setelah beberapa detik, dia kembali menatap Boris, “ya ... kangen lah, Bang,” jawabnya, malu-malu. “Jangankan sama Jessica. Sama Mba Lela yang jarang berkomunikasi saja, saya juga kangen. Tapi mau gimana lagi? Sudah terjadi. Lagian kalo kita mau ketemu kan, tinggal buat janji saja. Nonton kek? Makan malem bareng kek? Atau rencana apa saja yang bisa buat kita ketemu,“ jawab Jayadi.


Boris langsung menatapku sambil mengerutkan alisnya setelah mendengar jawaban Jayadi. Tentu saja dia heran. Karena dia jarang, atau mungkin malah belum pernah melihat Jayadi seserius itu dalam menanggapi pembicaraan. Kalau aku sudah tau semua tentang Jayadi. Bagaiman ketika dia tersinggung, bagaiman ketika dia senang, marah, benci dengan orang, pura-pura, dan lainnya. Jadi aku sudah biasa.


“Jika kau rindu? Kenapa kau tidak masuk lagi saja ke perusahaan? Aku yakin Pak Zul dengan senang hati menerima kau kkembali, Jay,” ucap Boris.


“Idih, najis!” balas Jayadi dengan wajahnya yang tampak jijik. “Sudah gak sudi saya jadi bawahan Erwin!”


“Mba Lela sendiri gimana kabarnya Bang?” tanya Jayadi. Pertanyaan yang mewakili diriku, aku tahu, terima kasih.


“Lela sedikit kebingungan ketika tak ada Bento. Yah, kau tahu lah Jay. Lela kan kalau ada apa-apa bertanyanya kepada Bento. Dan kau tahu, Erwin mana perduli dengan masalah anak buahnya, termasuk Lela. Padahal mereka itu kan dekat,” jawab Boris. Jawaban yang sedikit membuat aku khawatir dengan keadaan Lela.

__ADS_1


“Mereka pacaran ya, Bang?” tanya Jayadi lagi. Pertanyaan yang sedikit menyinggungku, namun tetap mewakili diriku, terima kasih lagi Jay.


“Ah! Mana mau Lela sama Erwin!”  balas Boris, tegas. Aku sempat merinding ketika mendengar jawaban Boris. Jujur, aku bahagia mendengarnya, perkataan itu seperti membangunkanku dari mimpi burukku.


“Ah, sok tau bang Boris. Emang Abang tau dari mana, Lela gak mau dengan Erwin?” tanya Jayadi lagi.


“Ya tahu lah Jay. Si Erwin itu sempat mengajaknya nonton film berdua, Lela menolaknya. Dia juga sempat mengajak Lela makan malam berdua, Lela juga menolaknya. Semua itu terjadi di depan mataku sendiri, Jay,” jawab Boris. “Sekarang aku tanya sama kau. Perempuan kalau memang suka dengan laki-laki, pasti mau dong di ajak jalan-jalan? Apalagi kalau di teraktir nonton film dan makan malam. Nah, itu kan Lela menolaknya.”


“Iya juga sih bang,” balas Jayadi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia juga sempat menatapku sambil tersenyum. Seolah-olah hatinya berkata: peperangan belum berakhir, Bang!


Setelahnya, kami lebih banyak berbicara tentang rencana binis kami. Jayadi lebih mendominasi pembicaraan. Dia menjelaskan semua rencana kami, bahkan mimpi-mimpinya yang aneh. Salah satunya yang paling konyol, “nanti kalau bisnis kami ini sukses, saya mau beli apartemen lima buah di kawasan elit Ibu Kota. Mau saya pake untuk ternak unggas,” katanya. Tentu saja ucapan itu membuat aku dan Boris tertawa terpingkal-pingkal.


Boris berada di rumahku hingga malam hari. Ya, sepertinya dia memang sangat rindu dengan kami berdua. Sedikit lucu untukku. Karena sebenarnya, jika dia ingin bertemu aku dan Jayadi, dia tinggal datang ke rumahku saja.

__ADS_1


Tapi ada satu informasi penting yang aku dapat dari Boris; Lela belum pacaran dengan Erwin. Bahkan yang lebih menyenangkan lagi, Lela sepertinya tidak tertarik dengan Erwin. Ini semua seperti sebuah harapan untukku. Aku merasa tiba-tiba ada pelangi melengkung di atas kepalaku, kupu-kupu terbang mengitari tubuhku, dan kicauan burung begitu merdu terdengar di telingaku. Ya, perang belum usai, masih ada harapan untukku.    


__ADS_2