KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 16


__ADS_3

Perut sudah terisi, Lela pun tampak semakin percaya diri setelah mendapatkan orderan pertamanya dari toko Tuba. Sekarang tibalah saatnya aku membawa Lela ke toko Sumber Kue, toko kue milik orang tuanya.


Jujur saja, aku selalu menantikan hari ini. Hari dimana Lela harus meminta order kepada bapaknya sendiri, Pak Selamet. Dimataku, Pak Selamet itu pebisnis ulung. Dia adalah seseorang yang punya perhitungan yang sangat matang dalam mengambil keputusan, yang berkaitan dengan bisnisnya. Orangnya memang santai, suka bercanda dengan siapapun. Tapi, ketika kau sudah berbicara tentang bisnis, Pak Selamet adalah serigala. Aku ingin tahu, apakah Pak Selamet tetap seperti serigala, atau malah jadi anjing kampung, jika dihadapkan dengan anak satu-satunya, Lela.


"Bang Bento!?" Abdul manyapaku dari kejauhan ketika melihatku memarkirkan motor di depan toko Sumber Kue. Aku lambaikan tangan kananku untuk membalas sapanya. Lalu dia berlari-lari kecil menghampiriku dan Lela, peluit merahnya tetap dia himpit dengan kedua bibirnya, tampak seperti wasit pertandingan sepak bola.


"Mba Lela sudah masuk kerja?" tanya Abdul, kepada Lela. Napasnya terengah-engah.


"Iya, Mas Abdul. Ini hari pertama aku kerja," jawab Lela, sambil melepaskan helm dari kepalanya.


"Wah ... enak dong, kalau sudah kerja," ucap Abdul, lalu dia menatap ke arahku. "Bang, saya sudah beli bedak bayi," ucapnya.

__ADS_1


"Nah, terus. Ampuh gak?"


"Lumayan Bang. Keserep bedak, keringatnya," jawabnya. Aku mengerutkan dahi dan berfikir, seperti apa bentuk bedak sehabis menyerap keringat Abdul jika dilihat dari mikroskop? "Tapi gitu Bang. Harus banyakan saya makenya, biar maksimal hasilnya," tambahnya.


"Dul, jangan banyak-banyak," saranku.


"Napa Bang?" tanyanya, dengan wajah yang sangat penasaran.


"Nanti dirimu terlihat seperti mochi." Lela dan Abdul tergelak ketika mendengar jawabanku, aku juga sama. Sambil tertawa, aku sempatkan melirik ke dalam toko. Kulihat Pak Selamet tersenyum melihat ke arah kami dari balik etalase. Aku yakin dia seperti itu bukan karena mendengar perbincangan kami. Tapi karena dia bahagia, melihat Lela sedang berdiri di luar toko dengan kemeja merah marun dan celana dasar hitamnya. Ya, anak satu-satunya yang sudah dia besarkan dengan penuh kasih sayang itu, sudah bisa mencari nafkah sendiri.


"Dul, kami masuk dulu, ya?" pamitku pada Abdul.

__ADS_1


"Siap, Bang Ben!" balasnya. "Mba Lela, semangat," ucapnya kemudian, sambil mengangkat tangan kanannya sedada dengan jari-jari yang dia kepal.


"Ya!" balas Lela semangat.


Kemudian aku dan Lela melangkahkan kaki memasuki toko Sumber Kue. "Assalamualaikum," sapaku pada Pak Selamet. Tak lama setelahku, Lela juga mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam," balas Pak Selamet.


"Pak Selamet. Kenalkan sales kordinator baru kami," ucapku, sambil menunjuk Lela dangan ibu jariku.


Pak Selamet dan Lela tertawa karena ucapanku. "Ben, tak perlu kau perkenalkan aku dengan dia," balas Pak Selamet sambil menunjuk ke arah Lela. "Karena aku yang memberi dia nama," lanjutnya, disambar tawaku.

__ADS_1


Setelah itu seperti biasa, aku memberi beberapa lembar nota tagihan kepada Pak Selamet. Pak Selamet segera memeriksa nota-nota yang aku berikan kepadanya, dan berjalan menuju meja kasir untuk mengambil sejumlah uang sesuai tagihan yang tertera di atas nota. Sedangkan Lela, dengan mudahnya berjalan memasuki area dalam etalase. Tempat dimana hanya pemilik toko yang boleh memasukinya. Pak Selamet sempat melontarkan candaan kepada Lela, "Hey, anak baru! Kau tidak boleh memasuki area ini!" ucapnya. Tentu saja Lela tergelak mendengar ucapan Bapaknya, akupun begitu.


Di awal bulan, biasanya toko-toko besar seperti toko Sumber Kue, jarang memberikan order. Karena prioritas mereka adalah membayar tagihan pesanan bulan lalu. Itu sangat normal di dalam dunia marketing, karena toko-toko dengan pengambilan besar, biasanya di berikan diskon-diskon ekstra di akhir bulan, oleh para suplayer untuk mendorong toko-toko tersebut ,mengorder lebih banyak daripada biasanya. Tujuannya satu, agar bisa mencapai target penjualan. Toko Sumber Kue adalah salah satu toko yang selalu diberikan diskon ekstra, oleh perusahaanku di akhir bulan. Hasilnya, Pak Selamet biasanya menolak memberi order di minggu pertama dan kedua di setiap bulan, karena beliau ingin menghabiskan stock barang berebih, yang di akhir bulan sebelumnya dia pesan. Tapi tidak hari ini! Lela dengan rayuan mautnya, berhasil membuat Pak Selamet terlihat seperti serigala tua, di depanku. Bagaimana tidak? Sejumlah pesanan berhasil Lela raih (walaupun dia sempat adu argumen dengan Pak Selamet), bahkan barang-barang yang tidak laku juga berhasil dia order. Tentu saja ini adalah ambisi Lela, karena pulang dari toko Sumber Kue—toko milik keluarganya sendiri—dengan tangan kosong, itu hanya akan mempermalukan Lela di depan Erwin. Aku maklum, sangat maklum.


__ADS_2