KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 22


__ADS_3

Pagi ini, aku sudah bisa mengendalikan ketidakdewasaanku dalam menerima kenyataan bahwa, Erwin juga mencintai Lela. Terima kasih kepada Jayadi yang sudah menemaniku semalam suntuk. Yah, walaupun dia belum tahu tentang perasaanku yang sebenarnya kepada Lela. Tapi memang Jayadi itu tipikal orang yang menyenangkan. Jadi, tanpa dia sadari, dirinya sudah menghiburku dengan celetukan-celetukannya.


Aku juga sudah bernegosiasi dengan ego dalam diriku semalam, dan membuat keputusan: biarkan Erwin melakukan sesukanya, jatuh cinta sesukanya, aku sudah tidak perduli lagi, karena orang lain (dirinya), sama pentingnya dengan diriku.


Dan, hari ini, di halaman parkir kantorku, sebelum semua salesman memasuki ruangan brifing, Jessica menghampiriku dengan wajah panik. Aku pikir seseorang sudah melecehkannya, ternyata tidak. Jessica menghampiriku untuk menunjukkan pesan WhatsApp dari Boris, yang isinya: Jes, mau gak nanti malam kau nonton sama Abang?


Luar biasa adalah kata yang pantas aku sebutkan untuk Boris. Bagaimana tidak? Sehari-harinya dia tidak pernah menunjukkan rasa perhatian atau mengucapkan kata-kata yang manis, kepada Jessica. Tapi dia berani-beraninya ngajak Jessica nonton? Jika kita berlogika; seandainya Boris ingin nonton film di bioskop, dan menginginkan seseorang menemaninya. Deharusnya dia mengajak aku atau Jayadi, bukan Jessica. Karena, aku dan Jayadi lebih dekat dengannya. Logika itu menuntun kecurigaan Jessica kepada Boris. Tentu saja!


Boris sudah memberitahuku jika dia menyukai Jessica, tapi menurutku, ini terlalu cepat. Kecepatan Boris, membuat Jessica bingung. Jessica meminta saran kepadaku, dia harus menerima, atau menolak ajakan Boris? Tentu, sebagai seorang teman, aku menyarankan Jessica untuk menerimanya, dan aku juga berusaha meyakinkan Jessica, bahwa Boris mengajaknya nonton, hanya untuk ditemani dan pergi sebagai kawan, tanpa ada maksud apapun. Aku berbohong (Tuhan maafkan aku), tapi ini harus aku lakukan, agar kedepannya—jika Jessica menolak ajakan Boris—hubungan mereka akan baik-baik saja.


Di ruangan brifing, Jessica lebih diam dari biasanya. Reaksinya menunjukkan kalau dia ingin menolak tawaran Boris. Sedangkan Lela, dia sedang rapat dengan para elite marketing, di ruangan Pak Zulkarnain, dan tentu saja Erwin juga menghadiri rapat itu, karena dia adalah pimpinan tertinggi divisi marketing di perusahaanku.


“Jes, awas kesambet,“ ucap Jayadi. Tentu saja Jayadi yang tidak tahu apa-apa, bingung, dengan tingkah Jessica yang lebih diam dari biasanya.


“Apaan sih, Bang?!“ balas Jessica, ketus.

__ADS_1


“Kok ngelamun? Nanti kesambet hantu penunggu ruang brifing, loh!“ tambah Jayadi (Di kantorku memang ada rumor tentang hantu yang gentayangan di area ruangan brifing. Katanya, tanah tempat kantorku berdiri ini, dulunya banyak di tumbuhi pohon kapuk. Jadi, suatu ketika, ada seorang wanita yang sedang patah hati, lalu gantung diri di salah satu pohon kapuk yang tumbuh di tempat yang sekarang menjadi kantorku ini. Dan konon katanya, arwah wanita itu menghantui area ruangan brifing).


“Idih! Hari gini masih percaya tahayul!“ kata Jessica, sambil membuang muka.


“Hey Jay. Kau itu sukanya mengganggu Jessica saja,“ ucapku, sedikit tegas kepada Jayadi.


“Lagian, kenapa sih Jes, ngelamun?“ tanya Jayadi.


“Is ... mau tahu saja!“ balas Jessica.


“Jay, coba kau hibur Jessica dengan pantunmu,“ saranku. Yah, mudah-mudahan ini bisa membuat percakapan mereka pagi ini menjadi penuh kasih dan damai.


Jayadi mengiakan saranku. Sejenak dia berfikir, mencoba mengingat-ingat pantun yang cocok untuk dilontarkan kepada Jessica. Jessica pun sepertinya tertarik dengan pantun yang sedang dipikirkan Jayadi, dia menatap wajah Jayadi penasaran.


“Ehem!“ Jayadi bersiap melontarkan pantunnya. Aku dan Jessica menatap wajahnya. “Kue matang tolong angkatkan, jangan dilepas dari loyang. Badan kurus kurang makan, ditiup angin goyang-goyang.“ Setelah selesai mengucapkan pantunnya, Jayadi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


***! Batinkun. Bukannya pantun yang menghibur, malah Jayadi melontarkan pantun yang menghina tubuh Jessica yang kurus.


Kupandang Jessica, kulihat dia menatap wajah Jayadi dengan muka datar. Lalu kupandang ke arah meja tempat tangan kanan Jessica berada. Kulihat sebuah pensil yang ujungnya runcing sudah dia genggam erat-erat.


Mati kau, Jay!


Tawa Jayadi sudah reda, lalu dia melirik wajah Jessica yang terus menatapnya, datar. “ Bikin atap dari lontar. Matamu menatap, hatiku bergetar.“ Jayadi kembali melontarkan pantun, kali ini dia menggombali Jessica. Jessica membuang wajahnya, menatap atap. Sok cuek, tapi senyum merekah tampak di bibirnya.


“Haus minum, badan segar. Kamu senyum, hatiku bergetar,“ timpah Jayadi lagi, membabi buta. Jessica membuang wajahnya kearahku. Senyumnya semakin merekah sampai memperlihatkan giginya yang putih.


“Badan gerah, kurang segar. Bibir merekah, bagaikan mawar,“ ucap Jayadi lagi. Jayadi terus melontarkan pantun secara non stop untuk Jessica. Mungkin sekitar dua puluh pantun dia lontarkan tanpa celah, tidak memberikan Jessica kesempatan untuk membalas.


Hebat kau, Jay !


   

__ADS_1


 


__ADS_2