
Bergabungnya Lela di dalam bisnis yang aku dan Jayadi sedang rintis, tentu saja membawa angin segar untuk diriku sendiri. Ya, selain Lela memiliki ide-ide yang cermerlang, moment ini juga bisa aku anggap sebagai kesempatan kedua dalam usahaku untuk memilikinya. Memilikinya? Ya, kita pakai kata itu sekarang. Karena saat aku keluar dari perusahaan, dan mengetahui kalau Lela sedang bersama orang yang juga mencintainya di dalam kantor, itu membuat aku merasakan: jarakku dan dirinya menjadi begitu jauh. Oleh sebab itu, memilikinya adalah cara terbaik agar aku tidak merasakan kehampaan seperti itu lagi.
Untuk mewujudkan keinginanku tersebut. Tentu saja aku juga harus memiiki penghasilan yang konsisten, agar bisa mengimbangi Lela yang berpenghasilan konsisten. Apa kata tetanggaku si Ibu Astuti yang menjabat sebagai Komando Pasukan Elit Gerombolan Ibu-ibu Yang Suka Bergosip Di Warung Pak Rojali? Hah! Bisa habis aku nanti digosipinya kalau dia tahu, pria tidak berpenghasilan sepertiku mengincar wanita berpenghasilan dengan jabatan tinggi di kantornya, seperti Lela. Oleh sebab itu, untuk memuluskan rencana itu, pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk menjemput Jayadi.
Pagi ini rencananya kami akan mengunjungi toko Sumber Kue. Karena menurut informasi yang diberitahukan Lela tadi malam, bahwa Pak Selamet mimiliki stock mentega berlebih di gudangnya dan ingin dijual kepada siapapun dengan harga modal. Tentu saja aku dan Jayadi sangat tertarik untuk membelinya, dan harapan kami, Pak Selamet mau memberikan keringanan, dengan memberikan kredit pembayaran selama dua bulan
Setelah menjemput Jayadi, aku langsung mengendari motorku menuju toko Sumber Kue. Aku yakin, bahwa aku dan Jayadi dapat melakukan transaksi bisnis dengan Pak Selamet sesuai rencana kami. Lalu setelah sampai, dengan suasana hati yang cukup baik, aku berjalan bersama Jayadi memasuki Toko Sumber Kue. Sampai saat sebelum aku dan Jayadi memasuki toko, aku merasa bahwa aku berada di tempat yang tepat dan ingin melakukan transaksi bisnis dengan orang yang tepat. Sampai akhirnya ketika aku sudah berada di dalam toko, aku dikejutkan dengan keberadaan Erwin di sana. Ini sangat menarik, sekaligus canggung bagiku. Karena terakhir kali aku bertemu dengannya, kami hampir saja baku hantam.
Aku melirik ke arah Jayadi, aku ingin tahu bagaimana reaksinya ketika melihat Erwin. Tapi, kulihat dia berjalan dengan santai, seperti tidak ada apapun di hadapannya. Sepintas, aku melihatnya seperti lelaki sejati, yang halus, terdidik, dan bukan pendendam. Hal itu berlanjut sampai kami berdiri di depan etalase toko Sumber Kue—Erwin berada satu jajar dengan kami, kira-kira jaraknya berdiri sekitar tiga meter dariku. Aura keteganganan justru aku tangkap dari wajah Pak Selamet.
__ADS_1
“Wah, sepertinya bisnismu sukses. Baru saja kemarin kau datang untuk belanja, hari ini kau sudah kembali lagi,” kata Pak Selamet membuka pembicaraan. “Apa yang kau butuhkan, Ben?”
“Aku dengar info dari Lela. Katanya Pak Selamet mau menjual kelebihan stock mentega dengan harga modal?”
Pak Selamet yang tampak sudah lebih nyaman; mendengarkanku dengan tenang, menatapku dengan penuh perhatian, dan kemudian berkata, “Ya, aku memang memiliki kelebihan stock mentega dan ingin mejualnya dengan harga modal. Kebetulan uangnya ingin aku pakai untuk membeli terigu. Karena, akhir-akhir ini permintaan terigu jauh lebih banyak dari mentega.”
“Wah ... kebetulan sekali. Kami tertarik untuk membelinya, Pak?”
“Tapi kalau boleh. Bisa tidak Pak? Kalau pembayarannya kami bayar dua kali, dalam dua bulan?” kata Jayadi.
__ADS_1
Lalu kejadian setelahnya terdengar cukup menjengkelkan. Setelah Jayadi mengucapkan keinginan kami, kudengar Erwin tertawa kecil, sedikit merendahkan. Sesuatu yang sontak membuat Jayadi langsung menatap kearahnya, dengan wajah yang marah. Jelas saja, itu membuatnya tersinggung. Jangankan Jayadi, akupun merasa sedikit direndahkan dengan tawa Erwin.
“Tentu saja kalian boleh membayarnya dua kali. Kebetulan Lela juga kan bergabung di dalam bisnis kalian,” kata Pak Selamet, dan aku merasakan kalau Pak Selamet sedang membela aku dan Jayadi. Lalu ketika kulirik wajah Erwin, dia tampak sangat tidak nyaman (muntahkan saja jika kau muak!). Dan sejujurnya, aku harus mengumpulkan semua kendali diri untuk menyembunyikan kegembiraanku.
Ucapan Pak Selamet telah membuat Erwin menjadi cukup gelisah. Kupikir, dia memasukkan seluruh ucapan itu ke dalam hatinya. Dia mulai meraih tas kerjanya yang berada di atas etalase toko, berjalan ke arah luar toko tanpa sepatah katapun, lalu mengayunkan tinju ke arah dinding luar toko. Sesuatu yang membuat mata Pak Selamet melotot ke arahnya, dengan bibir yang tampak bergetar. Marah.
“Sialan anak itu!” seru Pak Selamet, dan aku yakin Erwin mendengar ucapan itu, tapi dia tidak berbalik ke dalam toko. “Sebentar lagi, Erwin itu akan terkena masalah,”
Ucapan terakhir yang dikatakan Pak Selamet, terdengar sangat menarik bagiku. “Maksud Pak Selamet, apa?” aku bertanya.
__ADS_1
“Nanti, kalian akan dengar sendiri. Aku yakin Lela akan bercerita dengan kalian berdua.”
Sesuatu yang membuatku menjadi penasaran.