
Waktu menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit saat aku, Boris, dan Jayadi, mulai memasuki area bioskop. Suasana di dalam area bioskop cukup ramai, maklum saja, film-film garapan Marvel Cinematic Universe memang sangat diminati olah banyak kalangan dari berbagai macam umur, di kota Bandar Lampung. Apalagi, kali ini giliran film Spiderman, karakter superhero paling popular milik Marvel.
Sesuai informasi yang diberitahukan Jessica lewat pesan WhatsApp kepadaku. Bahwa, film yang akan kami tonton akan ditayangkan di teater satu, maka kami bertiga langsung berjalan menuju lorong tempat pintu teater satu berada. Suasana di lorong bioskop, cukup ramai, orang-orang duduk di atas lantai yang dilapisi karpet yang warnanya didominasi warna merah, dan ada juga yang duduk berjejal di kursi tunggu yang berada di hadapan pintu teater. Mereka menunggu dengan sabar, menantikan suara merdu penanda pintu teater sudah di buka—yang kurang lebih bunyinya : pintu teater satu telah dibuka. Bagi Anda yang telah memiliki karcis, dipersilakan memasuki ruangan teater... Ah, sangat familiar sekali di kepalaku suara merdu dari Ibu Maria Oentoe, yang konon katanya, suara yang biasa kita dengar menggema di dalam area bioskop itu, sudah direkam sejak tahun 1986.
Ketika langkah kami sudah semakin dekat dengan pintu teater, aku melihat Jessica sedang berdiri tepat di samping pintu teater yang masih tertutup, dengan punggung yang dia senderkan ke tembok, dan—seperti biasanya—dia tampak fokus sedang menatap layar handphone yang berada di tangan kanannya. Nonton drama Korea Selatan? Mungkin. Baca info tentang dunia entertainment di Korea Selatan? Bisa jadi! Atau, sedang sibuk perang statmen di grup chat WhatsApp fans BTS? Sangat mungkin. Tadinya, aku ingin kejutkan dia, tapi ternyat dia keburu sadar kedatangan kami, haha ....
Tapi ada satu hal yang janggal setelah itu. Aku tidak menemukan keberadaan Lela dan Erwin di dekat Jessica. Hal ini benar-benar membuat perasaanku tidak nyaman. Aku menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang, aku tidak bisa menemukan keberadaan mereka!
“Lela sama Erwin, dimana Jes?” tanya Jayadi, dan aku bersyukur dia bertanya.
“Oh, Mas Erwin lagi nganterin Mba Lela ke toilet,“ jawab Jessica, cuek.
Apaa! Erwin sedang nganterin Lela ke toilet? Pikirku, dan aku sungguh tidak menyukai fakta itu.
__ADS_1
Jayadi menatap ke arahku sambil tersenyum sinis. Mungkin sambil menatapku, Jayadi membatin: bisa-bisanya si Erwin cari-cari kesempatan, ya, ucapan-ucapan semacam itu, dan tidak mungkin dia membatin: katanya enak menjadi bujangan, kemana-mana tak ada yang larang. Tidak, tidak mungkin Jayadi membatin seperti itu! Karena itu adalah lirik lagu Bujangan, ciptaan Hj. Roma Irama.
“Terus, tiketnya sudah dapat, Jes?” tanya Boris, dengan nada bicara yang terdengar canggung. Menurutku, itu adalah usaha terbaik dari Boris untuk mengembalikan keakrabannya dengan Jessica yang akhir-akhir ini sedikit renggang; bertanya dan berbasa-basi.
“Dapet kok Bang,“ jawab Jessica, yang juga terdengar canggung kepada Boris—bahkan dia tidak menatap wajah Boris saat menjawab pertanyaannya.
Jessica itu memang orangnya peka. Sebenarnya aku dan Jayadi sudah berusaha semampu kami untuk membohongi (bohong demi kebaikan) Jessica, kalau Boris mengajaknya nonton hanya sekedar untuk minta ditemani. Tapi, kepekaan Jessica yang aku sebutkan tadi, membuat semua bujuk rayu aku dan Jayadi seperti sia-sia. Karena intuisinya sudah membawa dirinya kepada sebuah kebenaran, bahwa Boris menyukai dirinya. Aku bisa merasakannya. Merasakan akhir-akhir ini Jessica sedikit menjaga jarak dengan Boris. Yah, mungkin itu bagian dari pertahanan diri dan kewaspadaannya terhadap kemungkinan paling buruk, kalau-kalau, Boris tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya, dan dia harus menolaknya. Sesuatu yang bisa membuat hubungan mereka menjadi lebih canggung lagi.
“Nih tiketnya, Bang,“ ucap Jessica sambil menyerahkan beberapa lembar tiket bioskop kepadaku.
“Kata Mas Erwin, nanti yang duduk di kursi nomor B10 sama B11, biar Mas Erwin sama Mba Lela aja,“ terang Jessica, kepadaku.
Kalian bisa membayangkan apa yang aku rasakan ketika mendengar penjelasan Jessica? Kalau sulit bagi kalian untuk membayangkannya, akan kujelaskan situasinya: aku berada di dalam bioskop, ingin menonton film yang sudah aku nanti-nantikan selama berbulan-bulan bersama rekan-rekan kerjaku, dan wanita yang aku cintai. Sialnya! Sainganku dalam dunia percintaan juga ikut, dan hebatnya, sainganku itu berhasil merebut semua moment kemenangan. Sekarang sudah bisa kalian bayangkan perasaanku?
__ADS_1
Aku merasa seperti ditelanjangi di depan umum oleh Erwin. Aku merasa malu, merasa marah, dan bingung.
Tapi aku harus tetap terlihat waras didepan semua orang, dan memang aku harus tetap waras. Karena ada seorang sahabat yang harus kumenangkan hatinya malam ini, yaitu Boris.
Aku menunduk, berpura-pura menatap tiket-tiket yang ada di tanganku untuk menutupi raut kekecewaanku. Jessica, Boris, dan Jayadi, mereka tidak boleh tahu yang aku rasakan, ini rahasiaku. Seandainya aku masih memiliki waktu, mungkin tiga puluh menit? Tentu aku akan minta ijin sebentar untuk merokok di luar, menyendiri dan mengumpat. Tapi jam di tanganku sudah menunjukan pukul 20.24. Enam menit lagi, pintu teater akan di buka, aku harus menahan perasaanku.
“Bang?“ ucap Jayadi, sedikit berbisik. Aku langsung menatapnya. Kulihat dia mengangkat telunjuknya dan menurunkannya lagi secara cepat kearah jalan menuju toilet. Tentu saja aku langsung memalingkan wajahku kearah telunjuknya di arahkan, dan aku melihat Erwin dan Lela sedang berjalan berdampingan ke arah kami, menelusuri lorong sambil tertawa-tawa. Sepintas terbesit dikepalaku sebuah kata yang langsung membuat hatiku berasa nilu. Kata itu adalah, serasi. Ya, ku akui, mereka terlihat sangat serasi. Mungkin semua orang yang melihat mereka juga akan berpendapat yang sama denganku.
“Bento?“ sapa Erwin kepadaku, riang. Entah kenapa, dia hanya menyebut namaku? Mungkin, karena dia merasa, aku satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya kepada Lela? Tapi, tetap kubalas sapaannya dengan senyum terbaik yang bisa aku berikan.
“Bang Ben, Bang Boris, Mas jay,“ sapa Lela, kepada kami bertiga.
“Wah, sudah cocok lah kalian ini,“ ucap Boris, kepada Erwin dan Lela.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Boris: Erwin senyum bahagia. Lela tersenyum, tapi dia terlihat sedikit tidak nyaman dengan apa yang baru saja Boris ucapkan. Jessica menatap ke arah Erwin dan Lela, sambil berucap, “ciee ....” Jayadi menatap ke arah Boris sambil mengerutkan dahi. Dan aku ..., hancur.
Tapi wajar saja, Boris tidak tahu perasaanku dan Erwin kepada Lela. Jika Boris tahu yang sebenarnya, tidak mungkin dia berucap seperti itu.