
Lelaki kecil, usia belasan
Rokok di tangan, depan kedai tuak
Di sela, gurau tiga temannya
Di atas koran, asik main domino
Di lokalisasi, pinggiran kota
Yang nama dosa, mungkin tak bicara
__ADS_1
Neraka, poster indah kamar remang
Engkau lahir, lelaki kecil malang
🌹🌹🌹
Sebuah lagu dari musisi idolaku, Iwan Fals, yang berjudul "Gali Gongli", kuputar di cd player yang berada di dalam kamarku, malam ini. Lagu ini berkisah tentang anak seorang pelacur, bernama sama dengan judul lagunya. Ya, memang sedikit kurang nyambung dengan moment- moment bahagia yang aku jalani hari ini bersama Lela.
Bahagia adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatiku malam ini. Aku ini memang seorang pecinta yang sederhana. Melihat Lela mengangkat kertas orderan layaknya mengangkat sebuah tropi kemenangan dari turnamen bulu tangkis, itu membuat aku bahagia dan terpuaskan. Hari ini, aku juga berhasil mengetahui kegemaran Lela. Lela suka musik pop barat, penggemar film-film Marvel Cinematic Universe, dan dia sedang membaca novel berjudul, Pet Sematary. Aku harus mencari dan mengetahui semuanya. Data-data ini penting bagi seorang lelaki yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Kenapa? Karena ketika seorang lelaki sedang dalam posisi berdua saja dengan wanita yang dia cintai, dan lelaki itu bingung harus membicarakan apa, para lelaki bisa membahas hal-hal yang di sukai sang wanita. Itu cara yang ampuh, untuk membuat si wanita terhanyut dalam topik pembicaraan, dan ketika itu sudah terjadi, seorang lelaki harus bisa berpura-pura tertarik dengan topik yang sedang dibicarakan. Itu penelitianku!
Saat aku sedang asik berselancar di dunia maya mencari informasi tentang lagu-lagu barat terpopuler, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku. Bau parfum aroma bunga melati menyebar di dalam kamar, bau yang mengusik indra penciumanku. Perlahan-lahan pintu itu terbuka (menimbulkan suara mendecit), dan kemudian sebuah kepala wanita berambut panjang menjulur masuk ke dalam kamarku dari sela-sela pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Pet Sematary?" ucap wanita itu.
Sesaat, aku memang merasa ngeri. Tapi ketika aku tahu wanita itu adalah Fitri, moment itu menjadi biasa saja! Karena aku sudah terbiasa dengan tingkah aneh si Fitri. "Ya, Pet Sematary. Kau tahu buku itu, Fit?" tanyaku kepadanya.
"Stephen King, 1983," balas Fitri.
Wah ... kalau Fitri bisa tahu nama penulis dan tahun terbitnya novel itu. Sudah bisa dipastikan, novel itu bergenre horor. "Kau punya bukunya, Fit?" tanyaku padanya.
Fitri tidak menjawab pertanyaanku. Namun, tangan kanannya yang kuku-kukunya dia cat warna hitam, menjulur masuk ke kamarku sambil menyodorkan sebuah buku. Aku berdiri, lalu berjalan menghampiri Fitri, dan kuambil buku yang dia sodorkan kepadaku. Kulihat sampul depan buku yang bergambar kucing kampung berwarna hitam itu tertulis, Pet Sematary. Baiklah, ini dia bukunya, pikirku. "Baiklah, abang pinjam dulu ya Fit?" ucapku. Dengan wajah yang datar, Fitri menganggukkan kepalanya untuk menjawab permintaanku, lalu dia menutup pintu. Adikku itu, lama-lama tingkahnya semakin mengerikan. Ah, tapi sudahlah, Aku tidak perlu lagi membahas Fitri!
Aku berjalan menghampiri ranjangku, setelah sebelumnya aku mematikan cd player yang sejak tadi memutar lagu-lagu milik Iwan Fals. Aku berbaring di atas ranjang empukku, lalu kubuka novel yang baru saja Fitri pinjamkan kepadaku. Yeah! Aku membaca novel yang sama dengan yang sedang Lela baca. Lalu, aku mulai membaca lembar pertama novel itu. Di halaman sembilan, terdapat sebuah kata-kata pengantar dari sang penulis, Stephen King. Aku pikir ada baiknya aku juga membacanya, agar pengetahuanku tentang Pet Sematary semakin bagus. Di bagian pengantar, sang penulis menceritakan kalau kisah dalam novel ini terinspirasi dari kehidupan pribadinya. Sang penulis menuliskan sebuah nama tempat, nama anaknya, nama kucing, hingga di bagian akhir pengantar buku itu tertulis :
__ADS_1
Saya terutama resah dengan kalimat terpenting dalam buku ini, yang diucapkan tetangga tua Louis Creed, Jud. "Kadang-kadang, Louis," kata Jud. "kematian lebih baik."
Langsung kututup novel itu! Lalu secara perlahan kuletakkan di atas meja kamarku, dan aku jatuhkan tubuhku di atas ranjang sambil memeluk guling. Sialan! Buku apa itu?! Siapa yang mau membaca buku yang sudah sangat mengerikan, bahkan sejak bagian pengantar! Bagaimana bisa Lela dan Fitri bertahan membaca buku itu?! Aku tidak sanggup membaca Pet Sematary.