KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 32


__ADS_3

Hari ini Jayadi sudah datang ke rumahku pagi-pagi sekali. Sepertinya dia sudah bisa menerima kenyataan, kalau sekarang dirinya adalah seorang pengangguran. Bagaimana tidak? Dari tadi dia terus mengoceh tentang ide-ide bisnis kelas menengah kepadaku. Katanya, "kita, sebagai anak muda bangsa ini, harusnya kreatif dan idealis, Bang. Jangan terlalu bergantung kepada kapitalis! Apa kata orang-orang di Amerika sana, kalau melihat kita yang muda-muda ini terlalu mudah disilaukan matanya dengan cahaya kapitalisme yang semu?!" Lalu, dengan semangat membara dia bangkit dari duduknya, dan berkata, "persetan dengan citra! Persetan dengan jabatan! Persetan dengan kasta!"


"Memang rencanamu apa, Jay?" tanyaku padanya.


"Nah, itu dia, Bang. Menurut Bang Bento kita ini harus gimana?" jawabnya, lalu kembali duduk.

__ADS_1


"Kau yang persetan Jayadi!" balasku, kesal.


Apa-apaan orang ini?! Dari tadi dia terus mengoceh tentang antikapitalisme dan idealisme. Tapi dia sendiri tidak tahu mau melakukan apa dengan hidupnya. "Terus apa maksudmu dari tadi mengoceh panjang lebar tentang ide-ide bisnis kelas menengah? Dan ocehanmu tetang antikapitalisme itu, maksudnya apa? Aku pikir diam-diam kau ini punya hasrat seperti Tan Malaka. Sialan!"


"Kan tadi niatnya mau memotivasi Bang Bento," balasnya, serampangan. Lalu dia mengambil cangkir di hadapannya, kemudian langsung menyeruput kopi panas yang ada di dalamnya, "duh, panas," katanya, sambil mengusap-ngusap bibirnya. Lucu sekali aku melihatnya.

__ADS_1


Aku pikir, ada bagusnya juga jika aku memulai bisnis, mumpung aku masih muda. Yah, siapa tahu ini memang jalanku untuk menjadi sukses, dan kebetulannya, Jayadi yang mengajakku untuk berbisnis. Ya, seperti yang kalian tahu, Jayadi adalah orang yang paling tepat untuk aku jadikan partner bisnis. Karena dia memang sangat dekat denganku, dan kami saling percaya satu sama lain.


Jayadi sempat melontarkan beberapa ide bisnis kelas menengah kepadaku. Mulai dari bisnis kuliner yang sedang nge-hits di kalangan anak-anak muda, jualan pakaian, dan mengembangkan bisnis kue kering ibuku. Aku tertarik dengan tiga idenya itu. Karena yang lainnya seperti, menjadi makelar tanah, rentenir, kredit barang pecah belah, dan jualan obat koreng di pasar, itu kurang menarik minatku.


Terlepas dari obrolan kami tentang rencana untuk memulai bisnis. Ada satu moment yang membuat aku terkejut, sekaligus bangga dengan Jayadi hari ini. Ketika waktu sudah menunjukkan sekitar jam tiga sore, saat aku dan dirinya masih asik-asiknya membicarakan rencana-rencana kami kedepannya. Tiba-tiba dia pamit kepadaku, katanya ingin menjemput Fitri pulang sekolah, dan setelahnya mau menemani Fitri nonton pertandingan basket antar pelajar.

__ADS_1


Yang membuat aku bertanya-tanya (sekaligus senang). Sejak kapan Jayadi jadi begitu dekat dengan Fitri? Sampai-sampai dia diminta Fitri untuk menjemputnya pulang sekolah? Lalu, nonton pertandingan basket? berdua? Ayolah Jayadi! Ajari aku cara memulainya. Agar aku bisa praktikan itu, di kisah cintaku yang—kau tahu—semakin rumit.


__ADS_2