KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 6


__ADS_3

Terhempas kuterjaga dari lingkar mimpi, pada titik sepi.


Suaramu terngiang menembus khayalku, yang juga tentangmu.


Dan kuakui tanpa kemunafikan


Kucinta Kau.


Bahwasanya keakuanku bersumpah


Kucinta Kau


Bayangmu menghantui setiap gerakku, dan kemauanku.


Dahagaku akanmu matikan emosi, juga ambisiku.


🎢🎡🎢


Ah ... masih terngiang-ngiang di kepalaku, lagu dari musisi idolaku, Iwan Fals, yang berjudul "Yang Tersendiri", yang tadi pagi aku putar kuat-kuat di dalam kamarku sebelum aku berangkat kerja. Kalau bukan karena teriakan, "berisik woi!" dari tetangga, pasti aku tutup tadi pagi dengan lagu "Angan dan Angin".

__ADS_1


Bicara tentang sosok yang ada di dalam lagu itu. Jika dia seorang pria, pasti dirinya jantan sekali. Bersumpah dan mengakui dengan segala keyakinannya, lalu berkata dia kepada wanita yang dirinya cintai: kucinta kau. Itu adalah hal yang paling menakutkan bagiku. Bukannya aku takut ditolak. Ketakutanku ini berdasarkan dari kisah kawan-kawanku yang pernah menyatakan cintanya. Jadi, ketika mereka mengungkapkan perasaannya kepada wanita yang mereka cintai, lalu wanita itu menolaknya, maka hari itu adalah akhir dari segala hubungan mereka. Aku tidak ingin berakhir seperti itu. Apalagi jika itu terjadi kepadaku dan Lela.


"Bang, gorengan bang?" ucap Jayadi, sambil menyodorkan piring berisi setumpuk gorengan yang bermacam-macam variannya, di hadapanku.


"Wah, boleh. Siapa yang bawa?" tanyaku, sambil mengambil tahu isi, beserta cabe rawitnya.


"Pak Salman," jawab Jayadi.


Eh, bukannya Pak Salman sudah meninggal? "Hei Jay! Kalau bercanda jangan bawa-bawa orang yang sudah meninggal," ucapku pada Jayadi, sedikit keras.


"Yaelah Bang! Bukan Pak Salman yang itu, tapi Pak Salman supir," balasnya.


"Oh, iya juga. Ada lagi yang namanya Salman, ya?," balasku, lalu aku tertawa dan merasa sedikit malu.


Jessica memandang piring yang aku sodorkan kehadapannya dengan wajah yang tampak jijik. "Enggak lah, Bang. Nanti wajahku jerawatan kalau makan gorengan. Gimana kalau Kim Soo Hyun kerumahku? terus liat aku jerawatan?" ucapnya polos, namun menjengkelkan secara bersamaan.


Lalu aku melirik ke arah Jayadi. "Jay, siapa Kim Soo Hyun?" tanyaku padanya sedikit berbisik.


"Penyerang tim nasional Korea Selatan," jawab Jayadi, serampangan.

__ADS_1


"Bukan!" bantah Jessica, sambil memukul meja. "Kim Soo Hyun itu artis terkenal dari Korea!" ucapnya ketus, pada Jayadi.


"Jes, wajarlah kalo Jayadi tidak tahu. Aku saja, tahunya cuma Kim Jong-un," ucapku. Jayadi tertawa geli mendengar ucapanku, sedangkan Jessica cemberut.


"Pagi?" sapa Erwin sambil melangkah memasuki ruangan brifing.


Serentak kami membalasnya dengan ucapan, "pagi ... "


Kulihat Erwin memasuki ruangan brifing sambil menenteng sebuah amplop berwarna coklat. Aku ingat sekali kalau itu adalah lamaran pekerjaan Lela yang aku berikan kepadanya empat hari yang lalu.


"Ben, hari ini Lela akan di interview," kata Erwin kepadaku.


"Wah ... syukurlah kalau begitu Mas, " balasku sok kalem, padahal sebenarnya aku ingin sekali melompat kegirangan.


Erwin berjalan menghampiri meja kerjanya. Kemudian dia meletakkan amplop coklat yang dia bawa di atas meja, dan duduk di kursinya. "Yah, awalnya Pak Zulkarnain ragu dengan kualitasnya, akupun sebenarnya seperti itu. Tapi, kemarin Jayadi bicara kepadaku. Katanya, kalau Lela bekerja di sini, omset kita di toko Sumber Kue bisa naik. Sama seperti yang kau bicarakan padaku sebelumnya. Jadi, aku coba lagi bicara dengan Pak Zulkarnain, dan akhirnya dia setuju untuk memberi kesempatan," jelas Erwin padaku.


Aku menatap ke arah Jayadi sambil tersenyum kepadanya. Berarti tak salah dua hari yang lalu aku ceritakan soal ini kepadanya dikamarku.


"Tapi, seandainya Lela benar-benar diterima kerja di sini. Kalian bantu dia, dengan ilmu yang sudah kalian punya. Akupun bersedia membimbingnya. Sebagai gantinya, Lela harus bertanggung jawab dengan omset kita di toko Sumber Kue," kata Erwin.

__ADS_1


"Siap Mas," ucapku, disusul Jessica dan Jayadi yang juga mengucapkan "Siap ...."


"Yasudah, kalau kalian sudah selesai sarapannya, berangkatlah kelapangan. Jangan kesiangan, nanti omset kalian dipatok ayam," kata Erwin. Sebenarnya tidak lucu, tapi karena Erwin atasan kami, jadi terpaksa kami bertiga harus pura-pura tertawa, hahaha ....


__ADS_2