
Dua bulan telah berlalu sejak Lela bekerja di perusahaan yang sama denganku. Lela mengalami kemajuan yang pesat, sebagai sales kordinator team tepung kue instan. Dia sudah bisa memimpin brifing dengan baik (bahkan menurut Jayadi, Lela lebih baik dari Erwin), Lela juga sudah menguasai produk-produk yang kami jual, dan kehadirannya juga sangat membantu, dalam peningkatan omset, di toko Sumber Kue. Walupun tidak semuanya berjalan lancar untuk Lela. Harus dimaklumi, karena Lela belum memiliki pengalaman apapun, dalam dunia marketing. Kesalahan seperti, lupa mencantumkan diskon saat memberikan form order ke bagaian cetak faktur, atau tidak teliti saat membantu menagih, sehingga uang yang harus dia storkan ke bagian keuangan kantorku kurang dan dia harus menggantinya dengan uang pribadi. Ya, kesalahan-kesalahan seperti itu. Tapi tenang saja, Erwin selalu membantu Lela dalam menyelesaikan masalahnya. Kemampuan Erwin dalam berbicara, mampu meyakinkan orang-orang di kantor, bahwa kesalahan yang dilakukan Lela adalah wajar, karena Lela masih baru. Sebenarnya itu adalah tindakan heroik yang memang seharusnya dilakukan Erwin sebagai pimpinan tertinggi team marketing di perusahaan kami. Melindungi, mengayomi dan menjaga tingkat kepercayaan divisi lain terhadap kami. Itulah yang kami harapkan kepada Erwin. Sesuatu yang tidak pernah Erwin lakukan untuk kami (aku, Jayadi, dan Jessica).
Perlakuan Erwin terhadap Lela membuat aku bersyukur, karena Erwin bisa menutupi kesalahan Lela dengan trik-trik cerdasnya, namun juga sekaligus membuatku jijik, karena melihat tingkah Erwin yang mendadak menjadi super baik ketika di hadapan Lela. Aku jadi teringat dengan pertanyaan Jayadi yang sempat dia lontarkan kepadaku, saat kami sedang ngobrol di dalam kamarku, "mungkin gak sih Bang, Erwin itu suka sama Lela?" Pertanyaan yang meluncur seperti bom atom dari mulut Jayadi, yang mendarat lalu meledak di dalam pikiranku, menyisakan radioaktif berupa kecemasan dan semua yang bisa membuatku tidak nyaman. Aku sering berfikir, bagaimana jika benar Erwin menyukai Lela? Dan, bagaimana jika Lela juga menyukai Erwin? Tentu saja itu akan membuat aku terluka. Setelah itu, akan muncul pertanyaan lain, yaitu: siapa yang bertanggung jawab atas luka yang aku terima? Jawaban paling logis dari pertanyaan itu adalah, diriku sendiri. Aku yang salah karena aku terlalu takut untuk mengucapkan "Aku Cinta Kamu," kepada Lela. Aku tidak sehebat lelaki di lagu milik Iwan Fals, yang berjudul, "Yang Tersendiri"; Dan kuakui tanpa kemunafikan ku cinta Kau. Bahwasanya keakuanku bersumpah ku cinta Kau. Lirik yang rumit bagi lelaki pengecut seperti aku. Tapi sudahlah! Aku saja belum yakin jika Erwin memang suka kepada Lela. Toh, belum ada bukti-bukti yang cukup kuat untuk meyakinkanku atas hal mengerikan itu.