KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 20


__ADS_3

Sehabis brifing pagi. Entah ada angin apa Erwin ingin ikut denganku mengunjungi setiap toko yang harus aku datangi. Sebenarnya hal seperti ini wajar dan sering terjadi di perusahaan lain. Supervisor ikut dengan salesman mengunjungi toko, sebuah kegiatan yang kami sebut, join visit. Namun, di perusahaan tempat aku bekerja, join visit adalah kejadian yang langka. Erwin jarang sekali mau pergi join visit dengan salesman, entah alasannya apa. Hal itu membuatku, Jayadi, dan Jessica yang sudah mengenal Erwin cukup lama, sedikit terkejut dengan keinginannya. Tapi, tentu saja, aku langsung menuruti keinginan Erwin, karena itu memang bagian dari pekerjaannya. Yah, mungkin Erwin memang sudah berubah menjadi seorang pemimpin yang lebih baik, dan sikapnya terhadap Lela yang super baik itu, adalah salah satu bagian dari perbaikan dirinya.


Aku meninggalkan kantor sekitar jam sembilan lewat tiga puluh menit, karena Erwin harus berbicara di depan team snack terlebih dahulu. Katanya, dia harus menjelaskan soal produk baru yang akan dijual oleh team snack. Jayadi dan Jessica sudah lebih dulu pergi, dan Boris? Dia tidak datang ke kantor karena langsung pergi dari rumahnya menuju daerah Kalianda, Lampung Selatan, untuk mengunjungi toko-toko kue yang berada di tempat yang harus dia tempuh selama sekitar satu setengah, hingga dua jam, dari kota Bandar Lampung.


Setelah Erwin sudah siap. Kami pergi dengan sepeda motorku—yang aku kendarai.


“Ben, kita ke Mall Kedaton dulu,“ perintah Erwin tiba-tiba, setelah baru saja motorku melewati gerbang kantor.


Aku mengiakan keinginannya. Pikirku, mungkin Erwin ada urusan di tempat itu. Urusan pekerjaan yang berhubungan dengan produk snack baru yang ingin perusahaan kami jual. Aku langsung memacu sepeda motorku menuju Mall Kedaton. Tak lama waktu tempuh perjalanan kami, hanya sekitar lima belas menit, kami sudah sampai di tempat tujuan kami.


“Kita ngopi dulu Ben,“ ajak Erwin, ketika baru saja standar samping sepeda motorku aku turunkan.


Sekali lagi, aku mengiakan keinginannya. Dari tempat parkir, aku dan Erwin langsung berjalan menuju sebuah resto yang berada di lantai dua Mall tersebut. Ewrin memilih tempat duduk di area luar agar kami bisa merokok. Pilihan yang cocok denganku. Kemudian seorang pramusaji datang menghampiri meja kami, lalu memberikan masing-masing kepada kami sebuah buku menu. Setelah melihat-lihat menu yang tertera di buku, aku putuskan untuk memesan secangkir black coffee. Sedangkan Erwin memesan minuman dengan nama terpanjang dan terumit yang tercantum di dalam buku menu: Double Shots Iced Shaken Espresso. Dan aku membayangkan jika Jayadi membacanya, "doble sut ised saken espreso," pasti akan berbunyi seperti itu, hahaha. Setelah mencatat pesanan kami, sang pramusaji segera meninggalkan meja untuk memberikan pesanan kepada seorang barista yang sejak tadi berdiri di balik bar (resto ini, tipikal resto yang menggunakan pramuniaga untuk meminta pesanan ke para tamu).


Aku dan Erwin duduk berseberangan. Sebuah meja kotak berbahan kayu yang juga berwarna kayu, berada di tengah-tengah kami. Aku merasakan suasana sangat canggung dan sangat tidak nyaman. Maklum saja, aku memang jarang sekali pergi berdua dengan Erwin. Terakhir kali aku pergi berdua dengannya, kalau tidak salah sekitar lima bulan yang lalu. Itupun hanya untuk mengantarkannya mengirim parcel berisi alat-alat mandi bayi, ke salah satu pelanggan kami yang istrinya baru saja melahirkan.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar lima belas menit, sampai minuman yang kami pesan terhidang di hadapan kami. Lima belas menit yang kami gunakan untuk menatap layar smarthphone kami masing-masing dan tidak ada perbincangan sedikitpun. Secangkir black coffee yang berada di hadapanku dan Double Shots Iced Shaken Espresso yang di pesan Erwin adalah pemisah kami dengan smarthphone. Serentak kami langsung menikmati minuman kami masing-masing, dan bagiku, suasana masih terasa canggung.


“Jadi, bagaiman kabar kakakmu, Ben? Siapa namanya?“ tanya Erwin tiba-tiba. Pertanyaan yang jelas sekali basa-basi karena aku tidak memiliki kakak. Tapi wajar, karena tidak semua orang di muka bumi ini tahu silsilah keluargaku, termasuk Erwin.


“Saya anak tertua, Mas,“ jawabku sambil tersenyum.


“Oh, lupa saya,“ balas Erwin, dengan gerak tubuh dan ucapan yang halus sekali. Orang lain pasti akan tertipu dan menganggap Erwin benar-benar lupa. Tapi maaf, tidak denganku. “Kamu punya adik, kan?“ dia bertanya lagi denganku.


“Iya Mas. Fitri namanya. Perempuan. Dia masih SMA,“ jawabku, jelas dan rinci. Apa Kau juga ingin tahu tanggal lahirnya Erwin? Pikirku.


“Oh, ya ... ya,“ jawabnya sambil tersenyum, dengan mata yang menatap tajam ke arahku. Jujur saja, Aku sedikit terintimidasi dengan sosok Erwin. Entah kenapa, aku merasa tatapan dan ucapannya menyerap habis energiku. “Lalu, bagaimana pekerjaanmu? Ada masalah tidak, di lapangan?“ tanyanya lagi.


“Bagus lah, kalau begitu,“ balas Erwin. Kemudian dia diam sejenak. “Ben,“ ucapnya kemudian, teputus. Aku diam sambil menatapnya, menunggu apa yang ingin dia ucapkan. “Apa pendapatmu tentang Lela?“ lanjutnya. Pertanyaan yang sedikit membuatku kaget. Untuk apa Erwin meminta pendapatku tentang Lela? Dan, pendapat soal apa?


“Menurutku, Lela bagus kok mas. Pelan-pelan Lela mulai menguasai pekerjaannya,“ jawabku. Dari sekian banyak pilihan, aku memilih mengutarakan pendapatku tentang kinerja Lela sebagai kordinator sales. Menurutku, itu jawaban yang paling pas dengan moment ini. Erwin adalah atasanku, dan saat ini, kami berada dalam jam kerja.

__ADS_1


“Bukan itu maksudku,“ ucap Erwin. Lalu diaa mengambil sebatang rokok mild dari dalam kotaknya,  menghimpit rokok itu di sudut kiri bibirnya, kemudian dia membakar ujungnya dengan korek api. Erwin terlihat seperti seorang raja judi yang ada di dalam film-film mandarin. “Maksudku. Apa pendapatmu tentang Lela, sebagai seorang perempuan? Apakah dia baik? Atau ... yah, kamu kan yang paling mengenal Lela diantara kami. Aku ingin mengetahui pendapatmu,“ ucap Erwin.


Seketika tenggorokanku terasa kering, dan jantungku berdegub kencang ketika baru saja mendengar pertanyaan Erwin, ketika dia ucapkan lebih rinci. Aku merasa tersinggung dengan pertanyaan itu. Tersinggung? Ya, aku merasa tersinggung. Aku tidak tahu lagi kosa kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan dan kecurigaanku. Tapi, aku harus tetap terlihat tenang dan waras, seperti Bento yang dia tahu.


“Bagiku, Lela baik kok, Mas. Cantik? Ya. Pekerja Keras? Ya. Dan, sebagai wanita, dia sangat mandiri dan bertanggung jawab,“ balasku, jujur. Sebenarnya balasanku itu belum selesai. Ada satu kalimat lagi yang ingin aku ucapkan kepada Erwin, yaitu: "memangnya kenapa, Mas?" Pertanyaan simpel yang harus aku diskualifikasi, karena aku terlalu takut, untuk mendengar jawabannya.


Erwin tersenyum senang ketika baru saja mendengar jawabanku, lalu dia menghisap rokoknya, dan menghembuskan asapnya ke udara. “Aku senang mendengar jawabanmu,“ balas Erwin, mencurigakan. Aku tahu dia menginginkan aku untuk bertanya, memangnya kenapa, mas? Tapi, melihat gelagatnya, terus terang aku tidak mau tahu alasan dia menanyakan pendapatku tentang Lela.


Erwin menunggu balasanku sambil menatapku. Aku tahu yang dia harapkan, dan aku tidak ingin memberikannya. Aku diam saja, sambil menatapnya dengan ramah, seperti Bento yang dia tahu. Seandainya dia ingin mengutarakan alasannya. Lebih baik katakan saja langsung, tanpa harus menunggu aku bertanya.


“Ben,“ ucapnya. Jantungku berdenyut lebih kencang saat dia memanggilku. “Sepertinya, aku tertarik dengan Lela,“ lanjutnya.


“Tertarik?” tanyaku.


“Ya, tertarik. Aku jatuh cinta sama Lela,“ ucapnya lagi. Kali ini lebih tegas.

__ADS_1


Aku diam. Lebih diam dari biasanya. Tidak ada kata-kata yang terlintas di benakku sama sekali. Erwin baru saja memberikan jawaban atas pertanyaan Jayadi, "mungkin gak sih Bang, Erwin itu suka sama Lela?" Yah, Jayadi sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dan tiba-tiba, aku teringat dengan ucapanku tadi malam di depan Jayadi dan Boris: “Cinta itu seperti hidup. Penuh dengan misteri. Segala sesuatunya adalah kehendak dari sang kuasa.”


Kehendak dari sang kuasa? Tuhan, apa kehendakmu atas cinta Erwin pada Lela? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepalaku begitu saja. Seperti lelaki cengeng yang mengadu soal cinta kepada Tuhan. Cinta yang aku sendiri belum pernah sampaikan kepada Lela.


__ADS_2