KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 40


__ADS_3

Sesungguhnya, pernyataan Pak Selamet tentang Erwin sangat menggangguku. Aku memang tidak terlalu suka dengan Erwin, tapi aku juga tidak akan tega jika melihatnya—seperti yang dikatakan Pak Selamet—terkena masalah. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada masalah yang berarti antara aku dan dia. Kami hanyalah dua orang laki-laki yang jatuh cinta kepada satu wanita yang sama. Ini semua hanya persaingan, seperti persaingan antara klub-klub sepak bola di Liga Indonesia. Lalu, kenapa aku harus mengharapkan kehancuran Erwin?  


Rasa penasaran ini menuntunku untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kebetulan, malam ini Lela datang ke rumahku, untuk melanjutkan pembicaraan tentang bisnis kue kering bersamaku dan Jayadi, yang semalam terputus akibat hari sudah terlalu malam.


Pembicaraan kami tentang bisnis berlangsung selama kira-kira dua jam, dan malam ini kami bertiga memutuskan, kalau nama merek jual produk-produk yang kami pasarkan adalah, MELIANA, diambil dari nama ibuku—Lela yang menyarankan. Sayangnya, ibuku tidak mau ikut terlibat dalam urusan penjualan, katanya, “itu urusan kalian yang mengerti. Kalau Ibu, mengertinya cuma buat kue saja,” kata ibuku, saat kami ajak dia bergabung dalam pembicaraan. Lalu, ketika pembicaraan kami tentang bisnis sudah selesai, aku memberanikan diri untuk bertanya, “Lela, apa di kantor sedang terjadi suatu masalah yang melibatkan Erwin?”


Sekonyong-konyong raut wajah Lela berubah, dari riang menjadi heran setelah mendengarkan pertanyaanku. Ya, tentu saja dia heran. Karena Lela belum tahu kalau ayahnya sudah memberi petunjuk kepadaku dan Jayadi, tentang sesuatu yang akan menimpa Erwin. Dan dugaanku, sesuatu itu berhubungan dengan pekerjaanya.


“Kok Bang Ben nanya seperti itu?” balas Lela, bingung.

__ADS_1


“Tadi pagi, saat aku dan Jayadi berkunjung ke tokomu. Ayahmu sempat bilang kalau Erwin akan terkena masalah. Tentu saja, aku sebagai orang yang cukup lama mengenalnya, merasa sedikit khawatir tentang dia.”


“Ya, biar bagaimana juga, tetap saja kan? Erwin itu pernah dekat dengan kami?” timpa Jayadi. Ucapan yang tidak aku sangka-sangka akan keluar dari mulutnya.


Lela tidak langsung menjawab pertayaan kami. Secara bergantian dia menatap aku dan Jayadi—yang mungkin menurutnya kami manaruh rasa benci kepada Erwin. Lalu Lela mengambil cangkir di atas meja, menyeruput teh di dalamnya, dan meletakkannya kembali. Ada sesuatu yang sepertinya tidak ingin—atau belum ingin—dia ceritakan kepada kami. Sesuatu tentang rahasia perusahaan? Oh, ya, sudah pasti.


“Tapi aku lebih bersyukur, kalau tidak ada hal buruk yang terjadi di kantor?” kataku. Aku berusaha mempermudah Lela, jika dia belum ingin membicarakannya, dan, ya, harapanku juga seperti itu. Semoga saja, ucapan Pak Selamet hanyalah kata-kata serampangan yang dia ucapkan karena kesal dengan tingkah Erwin saat meninggalkan toko Sumber Kue.


“Oh ... yang jumlah tagihannya sampai dua ratus juta itu, Mba?” tanya Jayadi.

__ADS_1


“Ya, Mas Jay,” jawab Lela. “Nah, ternyata, setelah Bang Boris menyelidiki, menurut pengakuan beberapa toko, tagihan itu sudah ditagih oleh Mas Erwin. Mereka punya bukti pembayarannya dan ditanda tangani Mas Erwin.”


Sontak aku dan Jayadi terkejut setelah mendengar pernyataan Lela. Ini di luar dugaan kami. Tidak ada sedikitpun kami menduga, kalau masalah yang menimpa Erwin adalah korupsi.


“Kan selama ini yang dipercaya Pak Zul untuk menangani kasus faktur hilang sejumlah dua ratus juta itu, Mas Erwin sendiri. Jadi, ya, ternyata Mas Erwin tidak pernah mendatangi toko-toko itu. Semua penjelasan yang dia berikan ke Pak Zul, bohong,” lanjut Lela, dan ini semua menjadi masuk akal.


“Lalu, bagaimana reaksi Pak Zul?” tanyaku.


“Pak Zul masih merahasiakan fakta-fakta ini dari Erwin. Hanya aku dan Bang Boris yang tahu. Pak Zul masih mengumpulkan semua bukti-bukti, agar bisa melaporkan Erwin ke kantor polisi.”

__ADS_1


Mendengar keterangan Lela, sontak membuat aku dan Jayadi saling bertatap muka, heran dan sangat terkejut. Ini masalah besar untuk Erwin, besar sekali, benar kata Pak Selamet. Apalagi ketika mendengar, kalau Pak Zul ingin mempolisikannya.


Tapi, kalau melihat tingkah Erwin tadi pagi, sepertinya dia mencurigai kalau Pak Zul sudah mengetahui tindak korupsinya. Karena, tak biasanya dia tidak bisa mengontrol emosinya. Erwin adalah seorang ahli dalam berpura-pura, seorang pembicara ulung, dan orang yang mampu bereaksi setenang mungkin dalam keadaan apapun. Pasti ada sesuatu yang membuatnya merasa cemas, dan kalau boleh aku tebak, kecemasan itu tentang kecurigaan Erwin, kalau Pak Zul sudah mengetahui tindak korupsinya. Lalu, pertanyaannya, apa yang sekarang sedang dia rencanakan?


__ADS_2