
Malam ini, Jayadi dan Boris bertamu ke rumahku. Seperti biasanya, semua tamuku, selalu aku ajak ke kamarku yang berada dilantai dua. Apalagi ini hari sabtu. Hari dimana lantai satu rumahku, akan menjadi daerah kekuasaan bapakku, dan tidak ada seseorang, kelompok, bahkan Negara manapun! Yang dapat menyangsikan itu. Kenapa? karena di hari ini, tepat pukul setengah delapan malam, sinetron favorit bapakku tayang di salah satu stasiun televisi swasta, "Anak Haram", judul sinetronnya.
Tidak seperti Jayadi. Boris memang hanya sesekali bertamu ke rumahku, dan biasanya, dia datang di sabtu malam atau saat hari-hari libur saja.
“Hah!” tiba-tiba Boris menghela napas. Wajahnya terlihat kesal.
“Kenapa, Ris?" tanyaku, cemas.
“Sial kali nasibku!“ ucapnya. “Sering kali aku berkumpul dengan laki-laki jomblo macam kalian setiap Sabtu malam!“
Mendengar ucapannya, Aku langsung membuang muka. Pura-pura menatap langit malam yang cerah, namun suram dalam pandanganku. ***, kau Ris!
Lalu, aku dengar Jayadi tertawa terbahak-bahak, namun tawanya terdengar palsu di telingaku. Tahu sekali aku, bagaimana bunyi tertawanya yang asli. Kau tidak bisa menyembunyikan perasaan pedih dihatimu dengan tawa palsumu itu Jayadi!
__ADS_1
“Yaelah Bang. Santai aja kali, jodoh di tangan Tuhan,“ kata Jayadi, pura-pura tabah.
“Bah! Macam mamakku saja ucapanmu itu!“ seru Boris, dan suasana semakin mencekam.
“Bang Bento saja, yang udah jomblo dua puluh enam tahun, santai aja,“ kata Jayadi. Lalu dia menatap ke arahku. “Iya kan, Bang Ben?“ tanyanya.
Aku pandang wajah Jayadi, lalu aku anggukkan kepalaku sambil tersenyum sinis ke arahnya. Kemudian kukembalikan lagi pandanganku, menatap langit malam yang tampak semakin ngeri. Tolong, jangan libatkan aku dalam percakapan terkutuk kalian itu!
“Jayadi. Jangan kau samakan aku, dengan Bento. Bento itu memiliki perinsip dalam hidupnya. Mungkin saja, dia punya alasan kenapa dia tetap sendiri,“ balas Boris pada Jayadi.
“Emang gitu, Bang?“ tanya Jayadi, polos.
“Yah, cinta itu seperti hidup. Penuh dengan misteri. Segala sesuatunya adalah kehendak dari sang kuasa,“ jawabku, dengan setiap kata yang terucap penuh keyakinan. Tatapanku tetap memandang langit malam.
__ADS_1
“Wah! Seperti lirik lagu itu Ben. Lirik lagu Iwan Fals, kah?" tanya Boris.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan dari Boris. “Akupun tidak tahu Ris. Kata-kata itu muncul begitu saja dikepalaku,“ jawabku dengan mantab.
“Kau lihat Jay?! Sudah aku bilang tadi. Bento kawanku ini, orang yang berperinsip untuk masalah cinta,“ seru Boris.
Bedebah kalian berdua! Cepat pergi dari kamarku! Aku sudah tidak bisa melanjutkan sandiwara bodoh ini! Ucapku dalam hati.
“Oh ya. Kalian tahu, tukang nasi goreng yang ada di pertigaan jalan Ambon?“ tanyaku. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mana kutahu lah Ben,“ jawab Boris, lugas. Sedangkan Jayadi menganggukkan kepalanya (Jayadi memang pernah beberapa kali aku ajak makan nasi goreng di pertigaan Jalan Ambon yang jaraknya tak jauh dari rumahku). “Mau makan di situ? Aku traktir kalian malam ini,“ kataku.
Tentu saja tawaranku langsung disambut gembira oleh Boris dan Jayadi. Kami bertiga pun bergegas berangkat menuju lokasi penjual nasi goreng yang aku sebutkan tadi. Aku di bonceng Jayadi dengan motor bebeknya, sedangakan Boris mengendarai motornya sendiri. Sehabis makan, perbincangan tentang cinta yang mengenaskan sudah tidak lagi Boris dan Jayadi bahas. Kami lebih banyak bicara tentang sepak bola, dan setelah itu, Boris menceritakan tentang kerinduannya dengan kampung halamannya di Medan sana.
__ADS_1
Cinta adalah hal yang taboo bagi kami bertiga. Karena kami bertiga sama-sama sedang memendam perasaan cinta. Kalian tahu, aku memendam rasa cintaku pada Lela, dan kalian juga tahu, kalau Jayadi memendam perasaan cinta terhadap Fitri. Lalu Boris? Nah, yang ini sebenarnya rahasia. Karena Boris hanya menceritakannya kepadaku, dan dia mengancam akan menumbukku, kalau aku ceritakan ini kepada orang lain. Jadi maaf saja, aku tidak bisa membertahu kalian, kalau Boris sebenarnya memendam perasaan kepada Jessica. Eh!