
Waktu menunjukkan sekitar pukul tujuh malam lewat lima belas menit, saat aku sampai di Mall Kedaton, tempat yang sudah aku bersama rekan-rekan kerjaku sepakati, untuk di jadikan tempat kami nonton bareng film SPIDER-MAN: FAR FROM HOME. Sesuai dengan hasil musyawarah tadi pagi di kantor, kami memilih untuk membeli tiket di penayangan pukul 20.30, agar kami semua punya waktu senggang yang cukup untuk berbenah, seusai pulang kerja pukul 17.00. Erwin mengajukan diri sebagai orang yang bertugas memesan tiket. Tentu saja, kami menyambutnya dengan senang hati. Tugas pemesan tiket adalah yang paling berat dalam rangka mensukseskan rencana ini. Karena nantinya, dia yang akan bertanggung jawab atas posisi duduk kami di dalam teater. Sebuah tanggung jawab yang besar dan Erwin tiba-tiba mengajukan diri untuk mengambil tugas itu. Maka dengan penuh kesungguhan hati, kami semua mengucapkan: Terima Kasih Pak Supervisor, dan berharap di dalam teater nanti, kami duduk di dalam satu barisan yang sama. Agar kebersamaannya lebih terasa.
Aku datang satu jam lebih awal sebelum film dimulai, karena aku sudah janjian dengan Boris dan Jayadi untuk makan malam terlebih dahulu, sebelum nonton. Kami memilih untuk santap malam di salah satu resto yang menyajikan masakan khas Indonesia, namanya Engkong Entjie. Jayadi dan Boris sudah berada di dalam resto saat aku datang. Mereka memilih tempat duduk di area paling luar resto, yang di atas mejanya sudah terdapat berbagai makanan yang sudah kami pesan. Sebelumnya aku sudah terlebih dahulu menyampaikan kepada Jayadi melalui telepon untuk memesankan makananku sebelum aku datang. Menurutku, itu strategi paling jitu, untuk memangkas waktu menunggu pesanan datang di saat waktuku tidak banyak. Segelas Milk Tea, dan satu porsi roti bakar keju, adalah menu makanan yang aku pesan. Sedangkan Boris, memesan segelas Lemon Tea dan seporsi roti bakar coklat kacang, menu yang sama dengan yang Jayadi pesan.
Malam ini ada yang berbeda dengan penampilan Boris. Boris yang biasanya tampil dengan celana jean dan kaos, malam ini dia terlihat lebih rapih (menurutku). Dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru tua, yang dia padukan dengan celana denim berwarna hitam. Rambutnya pun disisir rapih kesamping, mirip vocalis band ternama yang sering mengucapkan, “kalian luar biasa!” ketika di atas panggung. Entah kenapa, aku langsung berfikir: Boris masih menaruh hati kepada Jessica, makannya malam ini dia datang dengan penampilan terbaiknya.
“Tampan sekali malam ini kau Ris?“ ucapku, basa-basi.
__ADS_1
Boris langsung sumeringah, sehabis mendengar ucapanku. “Ah, bisa saja kawanku ini,“ balasnya, sambil menunjuk ke arahku. Aku tersenyum saja menanggapinya.
“Bang Boris,“ kata Jayadi. “Nanti, pas di dalem bioskop. Usahain duduk di samping Jessica,“ lanjutnya, mengucapkan saran yang aku pun, setuju.
Boris menunjukkan gestur tubuh tidak nyaman sehabis mendengar saran Jayadi. Tentu saja, itu serasa seperti ada seseorang yang mengetahui rencana yang sudah kita susun dan rahasiakan, lalu orang itu mengucapkannya begitu saja di depan kita. Aku melihatnya, jelas sekali. Boris merubah posisi duduknya, mengetuk-ngetukkan kaki di lantai, dan sekali dia mengusap rambutnya ke belakang.
Dengan wajah yang sedikit memerah, Boris berucap, “ya, benar juga. Tidak mungkin aku bisa berbohong kepada kalian berdua,“ ucapnya, sambil tersenyum dan nada yang terdengar malu-malu.
__ADS_1
Aku dan Jayadi langsung bertukar pandang dan serentak menggerakan alis secara bersamaan. “Hey, apa maksud kalian mainin alis?” tanya Boris kepada kami, curiga.
“Sudah, tenang saja Bang. Pokoknya nanti, semua beres,“ balas Jayadi.
“Hey, Ben?“
“Sudah tenang saja Kau Ris. Urusan mengatur tempat duduk sih gampang, bisa kami atur. Kau nurut saja nanti,“ ucapku, memotong apa yang ingin Boris katakan padaku.
__ADS_1
“Ya, baiklah. Aku serahkan kepada kalian,“ balas Boris. Sejenak dia menatapku dan Jayadi secara bergantian, dengan senyum yang mengembang di bibirnya, “Makasih, ya?“ ucapnya kemudian.