
Hari ini, suasana ruangan brifing team tepung kue instan sedikit berbeda dari hari biasanya, karena Jessica berhasil merubah tampilan ruangan brifing team kami, menjadi lebih meriah dengan keahliannya mendekorasi. Beraneka macam jenis balon, lalu ada juga kain tile, dan kertas crepe yang berwarna-warni, dia pakai untuk menghias dinding dan meja ruangan brifing team tepung kue instan. Jessica memang jago dalam urusan mendekorasi. Tersedia juga bermacam-macam jajanan pasar dan minuman dalam kemasan di atas meja bundar, tempat para salesman biasanya menulis laporan.
Hari ini adalah hari yang spesial untuk team tepung kue instan. Karena kami akan kedatangan sales kordinator baru, pengganti Pak Salman.
Membuat sebuah pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan kariawan baru, adalah sebuah tradisi yang sudah ada di perusahanku sejak lama. Tujuannya adalah, agar kariawan baru tersebut merasa diterima oleh orang-orang yang sudah lebih dulu bekerja di perusahaan.
"Akhirnya ada juga yang akan memimpin team kita ini," kata Boris (hari ini kebetulan adalah hari Senin, jadi Boris datang brifing pagi ke kantor).
"Ya, sudah lama rasanya sejak sepeninggalan Pak Salman," balasku.
"Iya. Sudah muak juga aku dengan si Erwin itu. Bisanya merintah-merintah saja. Tapi ketika kita ada kendala di lapangan, dia langsung lepas tangan," keluh Boris. Erwin memang seperti itu. Dia seperti tidak mau tahu ketika salah satu di antara kami mendapatkan kendala di lapangan.
"Bang Ben. Sudah bagus belum, dekorasinya?" tanya Jessica.
"Keren," jawabku sambil mengangkat kedua jempolku. "Sudah tak perlu kau tambah apa-apa lagi."
"Benar. Sudah mantap kalilah ini Jes," sambung Boris, sambil menatap seisi ruangan brifing.
"Bang? kita harus beli kue ulang tahun gak?" canda Jayadi.
Aku tertawa saja menanggapi Jayadi. Dia memang senang sekali mengganggu Jessica.
__ADS_1
"Memangnya, dekorasinya seperti mau ada pesta ulang tahun?!" tanya Jessica kepada Jayadi, ketus.
"Hey, Jayadi! Jangan macam-macam kau dengan Jessica, nanti kutumbuk kau!" ucap Boris. "Sini Jes, biar abang peluk," kata Boris, sambil membentangkan kedua tanganya.
"Dih, najis!" balas Jessica sambil membuang muka.
"Ben, najis katanya. Memangnya rupa aku ini seperti babi?" tanya Boris padaku.
Aku tertawa saja menanggapi candaan mereka. Ya, seperti ini lah, team tepung kue instan, selalu bercanda jika sudah berkumpul.
Lalu ....
"Assalamualaikum. Selamat pagi semua," sapa Erwin, sambil berjalan memasuki ruangan brifing. Aku dan ketiga rekanku serentak membalas salam dari Erwin. Kemudian tak lama setelah Erwin memasuki ruangan, menyusul Lela memasuki ruangan. Tentu saja kehadiran Lela di dalam ruangan langsung menyita perhatianku dan ketiga rekanku.
"Teman-teman," ucap Erwin. "Perkenalkan anggota baru team tepung kue instan, namanya Nurlela. Nurlela akan menjabat sebagai sales kordinator team tepung kue instan, menggantikan Al-Marhum Pak Salman," lanjut Erwin.
Aku dan ketiga temanku bertepuk tangan usai Erwin memperkenalkan Lela. Kulihat wajah Lela sedkit memerah, yah, mungkin dia sedikit malu.
"Halo teman-teman," sapa Lela, ramah, dan Kami langsung membalasnya.
" Hey Lela, gimana kabar Bapakmu?" taya Boris tiba-tiba.
__ADS_1
"Oh, baik Bang," jawab Lela.
"Sampaikan salamku ya? Rindu kali aku dengan Bapakmu. Dulu waktu toko Sumber Kue masih aku yang pegang. Kalau aku ketokomu, pasti bapakmu itu langsung mengeluarkan majalah pancingnya,"sebut Boris. Boris adalah salesman yang sebelumnya bertugas melayani toko Sumber Kue sebelum diriku, dan kebetulannya, dia memiliki hobi yang sama dengan Pak Selamet, yaitu memancing.
"Iya, Bang," balas Lela kepada Boris.
"Sepertinya, kamu sudah mengenal mereka semua," ucap Erwin, pada Lela.
"Belum semuanya sih Pak. Saya baru pernah bertemu dengan sebagian," balas Lela.
Mendengar ucapan Lela, Erwin langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Lela. " Jangan panggil Pak dong. Panggil, Mas saja," ucapnya kemudian.
"Oh, iya Mas Erwin," balas Lela. Aku dan Jayadi langsung saling memandang ketika melihat tingkah Erwin yang tiba-tiba menjadi super ramah kepada Lela. Baru tahu kami, kalau Erwin bisa seramah itu dengan orang yang jabatannya lebih rendah daripada dia.
"Lalu, yang mana yang belum kamu kenal?" tanya Erwin.
Setelah mendengar pertanyaan dari Erwin, kulihat Lela langsung manatap wajah Jayadi. "Aku sudah kenal Bang Ben, Bang Boris, sama Jessica. Tapi ada satu yang aku belum tau namanya. Mas yang pake kemeja biru," ucap Lela sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Jayadi, yang saat itu mengenakan kemeja berwarna biru.
"Oh iya, wajar. Saya kan, baru dua kali ke toko Sumber Kue, itupun cuma untuk nganterin Mas Erwin," sahut Jayadi. Kemudian dia melangkah mendekati Lela, "Baterai Alkaline di atas kendi. Makan siang sayurnya basi. Kenalin nih gue Jayadi. Mantan jawara asal Bekasi," ucap Jayadi menyampaikan pantun sambil mengulurkan tangan kanannya yang langsung di sambut oleh Lela. Kami seisi ruangan tersenyum mendengar pantun yang diutarakan oleh Jayadi. Wajarlah, Jayadi itu kan anak Betawi asli, jadi memang jago dia membuat pantun.
"Bah! Hebat kali kawan aku ini," puji Boris sambil menunjuk ke arah Jayadi.
__ADS_1
"Biasa aja Bang, gak usah histeris," balas Jayadi, dan kami yang berada dong dalam ruangan tergelak mendengarnya.
Setelah itu kami menyantap makanan yang sudah di persiapkan sebelumnya sambil berbincang-bincang. Sesekali Lela bertanya kepada kami tentang hal-hal mendasar yang berkaitan dengan pekerjaan kami. Aku lihat juga Lela cukup cepat beradaptasi dengan kami, raut wajahnya pun nampak bahagia. Tentu saja melihat hal itu, aku turut berbahagia.