KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 30


__ADS_3

Di bawah pohon beringin yang berada di halaman parkir kantorku, disitulah tempat aku dan Jayadi berada setelah keributan yang terjadi di ruangan brifing. Tempat kami menenangkan diri.


Jayadi diam saja, sejak kami sampai disini, dia hanya menghisap rokoknya—mungkin sudah sekitar tujuh, atau delapan batang rokok yang dia hisap tanpa henti. Aku melihat dirinya seperi seorang lelaki usia paruh baya yang baru saja kalah judi, kusut, semeraut.


Lalu sesuatu yang begitu memuakkan terjadi. Di mulai saat Boris menghampiri kami, lalu berkata bahwa Pak Zulkarnain meminta kami untuk menghadap keruangannya. Tentu saja firasatku langsung tidak enak ketika mendengarnya.

__ADS_1


Di dalam kantor Pak Zulkarnain, aku dan Jayadi dicaci maki oleh beliau. Pak Zul marah besar. Katanya kami sudah melakukan tindak kekerasan kepada atasan. Tentu saja aku dan Jayadi membela diri dengan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sepertinya Pak Zul tidak perduli dengan apa yang kami katakan. Ya, kalau sudah begini, jangankan aku dan Jayadi. Nenek-nenek lagi kemping juga bisa menebak, kalau Erwin sudah lebih dulu datang menemui Pak Zulkarnain, mengadu tentang keributan yang terjadi di ruangan brifing, lalu berbicara seolah-olah dirinya adalah korban. Hal yang tidak perlu diragukan lagi.


Setelah puas mencaci maki aku dan Jayadi, sekonyong-konyong Pak Zul memberikan surat kepada kami berdua, yang isinya adalah Surat Peringatan 3 ( SP3 ). Ini adalah teguran level tinggi yang diberikan kepada kariawan; sebuah peringatan terakhir sebelum pemecatan. Aku ingat betul ucapan Pak Zul ketika memberikan surat itu kepada kami, “Aku masih mempertimbangkan untuk mempertahankan kalian berdua, karena jasa kalian di perusahaan ini yang begitu besar,“ ucapnya, dengan volume suara yang keras sekali, dan aku yakin kalau sekretarisnya yang bernama Tince—yang meja kerjanya berada tepat di depan ruangannya, bisa mendengar dengan jelas apa yang beliau katakan di dalam ruangan kepada kami.


Kemudian, setelah caci maki yang kami terima, lalu tak lupa dengan SP3-nya, ada satu lagi yang Pak Zul katakan kepada kami. Sesuatu yang sebelumnya aku sebut memuakkan. “Sekarang, kalian berdua cepat meminta maaf kepada Erwin,“ ucapnya tegas, memerintah. Perintah yang terdengar menjijikan. Dan disaat itulah, aku dan Jayadi mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.

__ADS_1


Jujur saja, setelah keluar dari kantor Pak Zulkarnain, ada perasaan yang sangat lega di dalam hatiku, dan tidak ada perasaan menyesal sama sekali. Aku sudah tidak perlu lagi menjadi bawahan orang seperti Erwin, dan sepintas, fakta itu terasa seperti sebuah kemewahan.


Sebenarnya Pak Zul sempat meminta aku dan Jayadi untuk mempertimbangkan lagi keputusan kami, tapi dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun, secara serempak aku dan Jayadi berkata, “tidak perlu Pak, kami sudah yakin.“ Pak Zul wajahnya langsung pucat setelah dia mendengar pernyataan kami. Ya, itu resiko beliau yang sejak awal tidak bersifat netral dalam menengahi masalah ini, dan kehilangan dua orang kariawan berprestasi seperti aku dan Jayadi di saat yang bersamaan, hal itu pasti akan memperlambat laju roda perusahaan nantinya. Aku yakin Pak Zul sadar akan itu.


Kejadian selanjutnya adalah sesuatu yang begitu mengharukan. Ketika aku dan Jayadi menghampiri satu persatu divisi, dan menyalami orang-orang di dalamnya untuk berpamitan. Jujur saja, air mataku berkali-kali ingin jatuh membasahi pipi, tapi dengan cepat aku langsung mengusapnya. Menyedihkan? Ya, semua perpisahaan pasti akan terasa menyedihkan. Itulah yang aku rasakan. Apalagi ketika harus berpamitan dengan Jessica, Boris, dan Lela, itu rasanya seperti seolah-olah kami tidak akan bertemu lagi, sedih sekali rasanya. Padahal, bisa saja nanti malam Boris datang kerumahku, atau Jessica menelponku, atau aku pergi berbelanja di toko Sumber Kue, dan bisa bertemu dengan Lela.

__ADS_1


Satu orang yang aku cari keberadaannya tetapi tidak bisa kutemukan ketika berpamitan adalah, Erwin. Entah kenapa manusia laknat satu itu tidak ada dimanapun seperti hilang di telan Bumi? Padahal aku ingin berpamitan dengannya. Ya ... biarpun ini semua gara-gara dia, tapi aku ini orang yang tahu tata krama. Erwin tetaplah atasanku, dan setidaknya, biarlah aku menjabat tangannya untuk yang terakhir kali, sebelum kakiku melangkah keluar dari perusahaan ini.


__ADS_2