KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 8


__ADS_3

Tadi pagi aku mendengar desas-desus di kantor kalau bakal ada kariawan baru yang akan menduduki posisi sales kordinator team-ku. Besar harapanku, kalau orang itu adalah Lela. Toh, satu-satunya orang yang di-interview oleh Erwin untuk posisi itu, adalah Lela. Tapi walaupun seperti itu, tetap saja aku masih penasaran, siapa tahu saja ada orang lain yang di-interview untuk posisi itu selain Lela.


Sayangnya hari ini Erwin tidak masuk kerja, karena sakit perut katanya. Yah, mungkin karena dia kebanyakan makan ceker mercon kesukaannya. Jadi, aku tidak bisa bertanya langsung padanya. Agen rahasiaku di kantor si Jayadi juga tidak tahu tentang siapa yang akan menduduki posisi sales kordinator yang akan mulai bekerja di awal bulan depan tersebut. Tapi kebetulan, hari ini adalah hari kunjunganku ke toko Sumber Kue, aku akan langsung tanyakan saja kepada si Lela.


Priiiiiiiittttt !!!  suara priwitan si Abdul, tukang parkir depan toko Sumber Kue yang selalu tampil dengan rambut belah tengah ala Alam Mbah Dukun menyambut kedatanganku di depan toko Sumber Kue. Waktu baru pertama kali bertemu si Abdul, aku sempat beranggapan kalau Abdul adalah tukang parkir bergaya cassual. Karena rambutnya selalu rapih dan terlihat basah. Tapi setelah aku tanyakan langsung padanya, ternyata rahasia kenapa rambutnya selalu terlihat basah itu, bukan karena penggunaan minyak rambut. Tapi karena Abdul adalah penderita hiperhidrosis, dimana dirinya mengeluarkan keringat lebih banyak daripada manusia pada umumnya, terutama jika Abdul sedang berada di bawah terik matahari. Keringat berlebih itulah yang membuat rambutnya menjadi selalu basah.


"Bang Ben?" sapanya sambil berjalan ke arahku.


"Dul! Buset, nambah ganteng saja kau," balasku.


"Ah, bisa aja Bang Ben," jawabnya sambil menggaruk-garuk rambut basahnya. "Tumben pagian Bang?" tanyanya.


"Iya, kebetulan supervisor-ku sakit. Jadi kami para salesman keluar kantor lebih pagi," jawabku. Lalu kupandang bekas keringat sudah mengotak di bagian ketiak kaus berwarna merah yang dia kenakan. "Dul, sudah kau beli deodoran yang aku sarankan waktu itu?" tanyaku.


"Udah, tapi gak mempan Bang," jawabnya.


"Kalau gitu, besok kau beli bedak bayi."


"Buset Bang! Memangnya bau badan saya mirip bangke banget ya, Bang?" tanyanya dengan wajah polos.


"Bukannya gitu Dul. Kan, kau kemarin curhat, katanya mau nyari cewek," balasku. Sedikit berhati-hati aku berkata-kata, karena aku takut Abdul tersinggung.

__ADS_1


"Wah, iya juga ya Bang."


"Nah, harus wangi dong. Percuma kau sudah kerja banting tulang, punya uang kau. Tapi tubuhmu baunya kurang enak, kan?"


"Iya juga ya Bang. Tapi Bang..." Abdul menghentikan ucapannya.


"Tapi napa Dul?" tanyaku padanya, sedikit penasaran.


"Emang ada Bang, cewek yang mau sama tukang parkir?" tanyanya.


"Aduh Dul, ku beri tahu kau. Di luar sana banyak orang sekolah tinggi-tinggi tapi nganggur. Gak ada duitnya mereka. Kau kan lebih hebat, sekolah gak tinggi, tapi penghasilan kau punya," balasku, kucoba menghiburnya.


"Ih, Bang Ben bisa aja," ucapnya, sambil cengar-cengir. "Tapi, perempuan sekarang katanya suka sama laki-laki pinter Bang. Lah, saya kan loading-nya agak lama," lanjutnya.


"Hehehe, iya Bang. Yasudahlah Bang, nanti kita sambung lagi ya obrolannya, ini parkiran lagi rame," ucapnya. Lalu bergegas dia pergi sambil meniup-niup peluit seperti wasit pertandingan sepak bola.


Aku banyak mengenal orang seperti Abdul. Orang-orang yang merasa dirinya di bawah rata-rata. Bagiku hidup itu tentang sadar diri, bukan merendahkan diri. Selama kita sadar siapa kita, aku yakin kita tetap bisa melangkah dengan rasa percaya diri tanpa ada perasaan-perasaan terhina. Karena pada hakekatnya, semua manusia itu sama-sama berharga.


"Bento!" panggil seseorang dari arah belakangku. Aku putar tubuhku, lalu aku lihat Pak Selamet sedang berdiri di depan tokonya sambil tersenyum lebar menampakkan giginya ke arahku. Ku senyumi dia, lalu kuhampiri. Jika melihat raut wajah bahagia Pak Selamet, sepertinya benar Lela yang diterima menjadi sales kordinator team-ku.


"Wah, tak salah aku memintamu membantu Lela," ucapnya.

__ADS_1


"Sepertinya ada kabar baik ini?" balasku.


"Iya dong. Ayo masuk, kita ngobrol di dalam," ajaknya.


Kemudian aku dan Pak Selamet bersama berjalan memasuki toko. Di dalam toko kulihat Lela sedang berdiri di belakang etalase sambil tersenyum ke arahku. Oh Tuhan, perasaan bahagia macam apa ini?


"Setengah jam lalu Lela mendapat telepon dari kantormu. Katanya, nanti di awal bulan, Lela sudah mulai bekerja di perusahaanmu," ucap Pak Selamet, menggebu-gebu.


Langsung aku tatap wajah Lela, "Benar begitu?" tanyaku padanya.


"Iya Bang," jawabnya dengan wajah yang tampak riang gembira.


"Syukurlah kalo begitu, akupun ikut senang," balasku.


"Bang Ben, tapi aku masih bingung dengan pakaian yang nanti harus aku kenakan ketika sudah masuk kerja," ucap Lela.


Haduh, Lela-lela. Ngapain kau bingung-bingung. Pakai apapun, kau itu akan terlihat pantas.


"Ben, kau antar lah, Lela belanja pakaian nanti malam. Kau kan yang tau, pakaian apa saja yang boleh dikenakan di perusahaanmu," ucap Pak Selamet.


Dug dug ... Dug dug ... Ucapan Pak Selamet membuat detak jantungku berdebar-debar.

__ADS_1


"Boleh ya, Bang? Nanti aku teraktir makan malam deh," sambung Lela.


Apa-apaan ini ya, Tuhan? Lalu sekonyong-konyong adrenalinku meningkat, jantungku berdetak kencang. Aku harus bisa menahan diri agar tidak melompat-lompat kegirangan. Lalu kutarik nafasku dan aku keluarkan secara perlahan-lahan. Kemudian aku letakkan siku tangan kiriku di atas etalase, dan kupandang wajah Lela. " Baiklah, kebetulan nanti malam Abang gak ada urusan. Sehabis Maghrib, nanti Lela Abang jemput ya?" ucapku.


__ADS_2