
Lela tiba di rumahku sekitar pukul tujuh malam (naik ojek online). Sebenarnya aku sempat mengajukan diri untuk menjemputnya, tapi dia menolak tawaranku, katanya takut merepotan. Ya, Lela yang aku tahu memang seperti itu, wanita yang mandiri.
Aku menjamu Lela di ruang tamu rumahku, sesuai saran dari Jayadi. “Mba Lela kan, datang untuk berdiskusi tentang bisnis, Bang? Jadi, biar suasananya lebih formal, lebih enak kita menjamunya di ruang tamu,” kata Jayadi.
Di ruang tamu, aku duduk bersebelahan dengan Lela. Sedangkan Jayadi, duduk di lantai, tepat di depan pintu masuk, "enakan duduk disini. Adem," katanya.
Duduk bersebelahan dengan Lela, membuat dadaku bergemuruh. Perasaan yang sama, saat aku mengantarnya pergi belanja pakaian kerjanya. Situasi ini membuat aku menjadi canggung; canggung membuat aku menjadi lebih diam dari biasanya.
Sejak tadi, mataku pura-pura memperhatikan televisi di ruangan keluarga yang sedang menayangkan fakta-fakta unik di Dunia. Aku menghela napas. Antara ingin meredakan gemuruh di dadaku, sekaligus menghirup aroma parfum Lela. Aromanya harum, entah apa mereknya. Aku meliriknya. Da sedang membalas pesan WhatsApp dari ayahnya. Lalu aku memberanikan diri membuka percakapan.
“Rasanya malam ini tidak akan turun hujan,” ucapku. ***! basa-basi macam apa itu?
__ADS_1
Lela melihatku, tersenyum. Perasaanku lebih tenang.
“Ya. Karena langit malam ini cukup cerah.”
“Oh, pantas saja sejak tadi aku tidak mendengar suara petir,” balasku. Ya ... Tuhan, bicara apa aku ini?!
Lela tertawa setelah mendengar ucapanku. Dia tampak manis sekali.
“Oh ... enggak kok," jawabku, sambil menggelengkan kepala.
“Bang Bento itu mengharapkan malam ini hujan deras. Kalau bisa nggak berhenti sampai besok pagi. Biar Mba Lela gak pulang-pulang,” sambar Jayadi.
__ADS_1
Ucapan Jayadi membuat aku langsung menatapnya, melotot, menyeringai, dan kata laknat sudah sampai di ujung lidahku. Namun Lela malah tertawa geli setelah mendengar ucapan Jayadi. Oh, ya ... tentu saja. Dia pasti menganggap Jayadi sedang bercanda. Seperti yang biasa Jayadi lakukan di ruang brifing.
“Memang bener, Bang?” tanya Lela sambil menatap ke arahku.
Aku tersenyum kepadanya dan aku sangat yakin, wajahku pasti terlihat memerah.
“Lela percaya dengan ucapan Jayadi?” tanyaku, sambil menunjuk Jayadi (dengan jari telunjuk). “Tadi aku basa-basi saja. Ya ... untuk membuka pembicaraan.”
Lela tersenyum kearahku, sedangkan Jayadi sedang berusaha menahan ledakkan tawanya. Puas kau Jay! Puas?!
Setelahnya, kami lebih banyak berbicara mengenai bisnis. Aku dan Jayadi bergantian menjelaskan kepada Lela, tentang bisnis kue kering yang sedang kami rintis. Lela tampak sangat antusias mendengarkan kami berbicara, bahkan sesudah aku dan Jayadi menjelaskan, Lela mengutarakan lagi minatnya untuk bergabung dalam bisnis yang sedang kami rintis. Dia juga mengatakan, bahwa dia akan menanam modal sebesar sepuluh juta rupiah, untuk mengembangkan bisnis. Tentu saja aku dan Jayadi senang mendengarnya. Mendapatkan satu rekan baru dan mau menginfestasikan uangnya sebesar sepuluh juta rupiah, di dalam bisnis yang sedang di rintis. Hal itu semakin membakar semangat aku dan Jayadi.
__ADS_1
Aku menjadi semakin optimis dengan bisnis yang sedang kami geluti. Dengan masuknya Lela, hal-hal seperti mendagangkan produk kami di internet-pun, jadi terpikirkan. Lalu Lela juga memberi masukan tentang menambah item produk yang bisa kami jual, seperti keripik pisang, atau keripik singkong balado. Semua itu bisa ibuku buat, dengan rasa yang mantap. Pemikiran tentang bisnis kue kering yang hanya laku di musim-musim tertentu, adalah alasan kenapa Lela mengutarakan gagasan tersebut. Lalu aku dan Jayadi bisa apa? Itu adalah ide yang cemerlang, tentu kami sangat setuju.