
Aku terus bersenandung dalam hati, di sepanjang perjalananku menuju toko-toko yang harus aku kunjungi hari ini. Aku memacu sepeda motorku dengan sangat hati-hati, agar Lela yang duduk di belakangku, tetap merasa nyaman dan aman di perjalanan. Ya, tentu saja aku bahagia hari ini, bisa bepergian dengan Lela untuk kedua kali. Akupun sudah tidak terlalu canggung untuk sesekali berbincang dengan Lela di perjalanan. Hasilnya, sekarang aku sudah lebih tahu sedikit tentang hal-hal yang disukai Lela. Sekarang Aku tahu Lela sedang membaca buku yang berjudul, Pet Sematary. Aku pun sudah tahu jika Lela lebih menyukai musik pop Barat, dibanding musik pop asal Asia Timur yang saat ini banyak di gandrungi. Lela juga sempat mengutarakan pendapatnya tentang film-film Marvel Cinematic Universe (ya, Lela adalah penggemar berat film-film Marvel). Menurut Lela, ending film Guardian of Galaxy 2 adalah yang paling sedih. Tentu saja itu sedikit bertentangan denganku, karena menurutku, adegan saat tubuh Spiderman perlahan-lahan menghilang karena jentikan jari Thanos di film Avengers : Infinity War, adalah yang paling sedih. Aku menitiskan air mata, saat menonton adegan itu. Tapi, Aku tidak mau berdebat dengan Lela. Pendapatnya harus Aku menangkan.
Berkendara dengan seseorang yang kita sukai dan berbincang-bincang dengannya di sepanjang perjalanan, membuat jarak tempuh terasa sangat dekat. Itu yang aku rasakan. Tanpa aku sadari, aku sudah sampai di depan toko Berkah.
__ADS_1
Toko Berkah adalah salah satu toko dengan pembelian yang cukup besar untuk produk-produk yang dijual oleh perusahaanku. Jadi, toko ini juga cukup sering aku kunjungi. Pemiliknya adalah Ko Acen. Pria paruh baya keturunan Tionghoa. Orangnya tidak banyak bicara, akupun jarang berbasa-basi dengannya. Aku lebih sering berkomunikasi dengan Istrinya, Cici Melly, untuk menawarkan produk-produk yang kujual.
Kedatanganku dengan Lela ke toko Berkah, cukup membuat Ko Acen dan Ci Melly terkejut. Apalagi ketika kuberitahu mereka, bahwa sekarang Lela adalah salah satu sales kordinator di perusahaanku. Aku lihat wajah Ko Acen sedikit masam. Tentu saja Ko Acen tahu jika Lela adalah anak dari Pak Selamet, kompetitor terbesarnya dalam persaingan dunia bisnis jual beli bahan-bahan pembuat kue. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, tapi kulihat dia sedikit terusik dengan kenyataan itu. Berbeda dengan Ci Melly, yang tetap bisa berbasa-basi dengan Lela dan menyambutnya dengan ramah.
__ADS_1
Order sudah kudapat, Lela sudah kuperkenalkan, sudah cukuplah tugasku di dalam toko Berkah. Sekarang, saatnya aku beranjak ke toko selanjutnya, toko Tuba. Jarak toko Tuba dan toko Berkah tidaklah jauh, hanya lima menit waktu tempuh perjalanan dengan sepeda motor. Nama toko ini sedikit unik, Tuba, yang sebenarnya adalah singkatan dari Tulang Bawang, salah satu daerah di Provinsi Lampung. Pemiliknya bernama Pak Ridwan.
Pak Ridwan itu gemar sekali berbicara politik, dengan siapa saja. Aku sedikit sulit mengimbanginya berbicar, kalau dia sudah membicarakan Politik. Maklum saja, aku memang tidak terlalu memperhatikan geliat dunia poitik di Negara ini. Jadi aku kurang suka jika disuguhkan perbincangan bermuatan politik. Tapi untung lah, hari ini aku membawa Lela. Pak Ridwan adalah sahabat karib Pak Selamet, ayahnya Lela. Akhirnya, Pak Ridwan pun lebih banyak berbicara tentang pekerjaan baru Lela. Akupun mempersilahkan Lela untuk turun tangan menawarkan produk ke Pak Ridwan. Ya, mereka sudah kenal dekat dan Pak Ridwa pun, pasti memaklumi jika Lela masih sedikit kikuk, saat menawarkan produk.
__ADS_1
Sambil memegang sebuah map plastik berwarna hitam, yang di dalamnya terdapat kertas-kertas berisikan list produk-produk yang dijual perusahaan kami. Lela meminta order kepada Pak Ridwan. Sesekali Lela melirik ke arahku yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya sedikit memerah, ya, mungkin dia masih malu-malu. Pak Ridwan pun, sesekali tersenyum geli, setiap Lela salah menyebutkan nama produk, atau harga. Bagiku ini adalah cara terbaik untuk belajar. Marketing itu seperti seni. Ada teori yang menjabarkan tata cara dan trik-trik agar menjadi bisa. Tapi bisa saja tak akan cukup untuk membuat kita menjadi menguasai. Karena dalam dunia marketing, kita juga membutuhkan insting agar menjadi hebat, dan insting hanya bisa kita dapatkan dengan cara praktik langsung di lapangan. Inilah yang sedang aku ajarkan ke Lela, insting. Ya, harapanku satu atau dua bulan kedepan orang-orang tidak lagi memandang Lela sebagai orang yang beruntung karena dia anak dari Pak Selamet. Aku ingin nanti, semua orang memandangnya dengan perasaan hormat, karena dia adalah pemimpin team sales tepung kue instan, di PT. Sumber Intisari Indonesia.