KETIKA AKU JATUH CINTA

KETIKA AKU JATUH CINTA
Bab 7


__ADS_3

Sudah banyak yang aku ceritakan tentang kehidupanku. Aku sudah menceritakan pekerjaanku, nama perusahaan tempat aku bekerja, rekan-rekan kerjaku, serta atasanku. Aku juga sudah memberi tahu siapa kedua orang tuaku dan juga adikku. Yah, seperti itulah hidupku, biasa-biasa saja. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang sore, dan akan seperti itu lagi esok harinya. Di hari minggu atau hari libur lainnya, biasanya aku habiskan di rumah saja menonton tv, bermain game, atau membantu ibuku membuat kue kering. Ya, mungkin sesekali aku pergi keluar; ke pantai bersama teman, atau sekedar ngobrol-ngobrol di cafe-cafe sekitaran kota.


Dan sekarang aku ingin menceritakan kenapa aku mencintai Lela. Lela adalah wanita berumur dua puluh dua tahun yang baru saja meraih gelar pendidikan Sarjana Sastra Inggris. Secara fisik, Lela itu cantik. Lela memiliki mata besar dengan bola mata kecoklatan. Hidungnya mancung dan berbibir busur dengan bentuk yang menyerupai simbol hati. Rambutnya lurus, hitam panjang sepunggung. Semua itu disempurnakan dengan tubuh langsing, dan tinggi badan 164cm. Cantik bukan?


Tapi seperti yang aku bicarakan di awal cerita. Bukan cantiknya yang membuat aku jatuh cinta padanya. Jika bicara cantik, kalau aku pergi ke Mall, aku juga bisa bertemu wanita cantik. Embak-embak yang jaga pintu masuk bioskop juga cantik. Kasir mini market, pelayan pom bensin, pelayan restoran makanan cepat saji, SPG, mahasiswi, dan banyak sekali tempat dimana aku bisa menemukan wanita cantik, atau mungkin saja kamu yang sedang membaca ceritaku ini?


Jadi, cantik saja tidak akan bisa membuatku tergila-gila kepada seorang wanita. Aku ini pria biasa saja, pekerjaan biasa saja, tidak terlalu pintar, tidak juga spesial. Tapi bukan berarti karena aku biasa-biasa saja, aku jadi terima sembarang wanita untuk menjadi pasanganku. Bahwasanya, aku ini laki-laki yang tidak mudah jatuh hatinya.


Aku sebenarnya sudah mengenal Lela cukup lama, mungkin sudah sejak tiga tahun yang lalu. Ya, kalian sudah ku ceritakan, jika bapaknya Lela itu pemilik toko bahan-bahan kue terbesar di kotaku, yang sering aku kunjungi. Tapi kehadirannya baru benar-benar berarti bagiku, sejak satu tahun yang lalu. Saat Fitri memintaku mengantarkannya ke sebuah daerah di pinggiran kota Bandar Lampung, untuk menyumbangkan buku-buku bekasnya ke sebuah perpustakaan gratis.


💘💘💘


Aku memacu sepeda motorku selama tiga puluh menit dari rumahku, untuk mencapai lokasi perpustakaan gratis, tempat Fitri ingin menyumbangkan buku-bukunya. Perpustakaan gratis itu berdiri di lahan milik warga seluas 300m persegi, yang di pinggir-pinggirnya terdapat beberapa pohon pisang, sebuah pohon jambu biji, dan satu pohon mangga. Di tengah-tengah lahan tersebut, di bangun sebuah bangunan berdinding kayu, bercat putih. Sesudah memarkirkan sepeda motorku di halaman perpustakaan yang lantainya ditutupi dengan paving block tersebut—sambil membawa dua buah kantung plastik berwarna putih yang berisi penuh dengan buku-buku yang ingin di sumbangkan Fitri, aku berjalan masuk ke dalam bangunan perpustakaan.


Sesampainya di dalam perpustakaan, aku mendapati sebuah ruangan seluas 5x6 meter yang lantainya di lapisi karpet plastik bermotif kotak-kotak berwarna hitam dan putih seperti papan catur. Terdapat rak-rak buku dari kayu yang berjejer menutupi dinding bagian kanan dan kiri ruangan tersebut. Aku sempat melihat-lihat, kira-kira buku apa saja yang terdapat di perpustakaan gratis ini. Aku lihat ada buku pengembangan diri, novel-novel remaja, kumpulan cerpen, dan ada juga buku-buku yang berisi tentang cerita rakyat. Semuanya normal, tapi tunggu saja sampai buku-buku yang akan disumbangkan oleh Fitri menghiasi rak-rak buku ini. Aura kelam akan menyelimuti perpustakaan ini. Bagaimana aku tidak berfikir seperti itu? Dua buah kantung plastik yang berada di genggaman kedua tanganku ini, berisi buku-buku yang berjudul: Cara Berkomunikasi Dengan Jin, Cara Meramal Dengan Kartu Tarot, Hipnotis, Kerajaan Iblis, Cara Berkomunikasi Dengan Arwah Orang Yang Sudah Meninggal, dan juga ada beberapa novel-novel bergenre horor. Semua itu adalah buku yang ingin Fitri sumbangkan ke perpustakaan gratis ini.

__ADS_1


Sebenaranya aku sempat ingin melarang Fitri menyumbangkan buku-buku dari nerakanya itu. Tapi ... tidak mau aku, bagaimana ya? Masa sih aku tega, mencegah adikku menyumbangkan bukunya, disaat jiwa keperdulian sosialnya sedang on fire? Jadi pikirku, biarlah nanti juga para pengurus perpustakaan itu yang akan mempertimbangkan nasib buku-buku si Fitri.


Saat itu, mungkin hanya sekitar satu sampai dua menit dari saat aku dan Fitri memasuki perpustakaan, keluar seseorang dari ruangan yang berada di belakang ruangan utama perpustakaan (ruangan perpustakaan dan ruangan itu, disekat dengan dinding dari bahan kayu, lalu pintunya hanya ditutupi selembar gorden berwarna hijau yang memiliki motif bunga-bunga) .


"Bang Ben?" kata orang itu.


Tentu saja aku langsung mengarahkan wajahku kearahnya. Aku sempat terkejut ketika melihat seorang wanita yang saat itu mengenakan t-shirt berwarna putih bergambar Kurt Cobain yang dia padukan dengan celana denim berwarna biru pudar sebagai bawahannya. Tentu saja aku mengenal wanita ini. Dia anak Pak Selamet, pemilik toko bahan-bahan kue terbesar di kotaku, Nurlela, atau aku memanggilnya Lela.


"Eh ... Lela," sahutku padanya.


Lalu Lela melangkah menghapiriku, "Ada perlu apa Mas?" tanyanya ketika sudah berada di hadapanku.


Tentu saja Lela menyambut niat baik Fitri dengan sangat antusias. Aku segera menyerahkan kantung plastik berisi buku yang sejak tadi berada di tanganku kepada Fitri. Lalu setelah sempat berbasa-basi dengan si Lela, Fitri segera membuka kantung plastik dan mengeluarkan buku-buku (dari nerakanya) di atas meja kayu yang terdapat di pojok ruangan. Fitri dan Lela kemudian duduk saling berhadapan di bangku plastik berwarna merah, sambil mengeluarkan buku-buku dari kantung plastik. Di luar bayanganku, Lela terlihat tetap antusias menerima buku-buku yang di berikan Fitri. Setelah selesai mengeluarkan buku dari dalam kantung plastik, Lela mengambil sebuah buku tulis dari laci meja, lalu memegangnya dengan tangan kirinya, tangan kanannya kulihat memegang sebuah pena. Di atas lembar buku yang di pegang Lela, dia mencatat judul-judul buku yang disumbangkan Fitri dengan pena birunya.


"Jadi Kamu kerja di sini, Lela?" tanyaku pada Lela.

__ADS_1


"Oh, enggak kok Mas. Perpustakaan ini gagasanku, bersama kedua temanku. Jadi kami saling bergantian menjaganya," balasnya, sambil terus menulis di atas buku yang berada di tangan kirinya.


Oh, hebat juga si Lela, pikirku. "Lalu, apakah tempat ini ramai didatangi orang?" tanyaku lagi.


"Yah, cukup ramai. Rata-rata pelajar-pelajar SD, SMP, atau SMA. Orang-orang dari sekitar sini," balas Lela. Kemudian dia menghentikan sejenak kegiatannya, lalu memandang kearahku. "Masyarakat daerah sini lebih banyak yang berprofesi sebagai petani dikebun-kebun buah atau sayur-sayuran milik Pak Rudi, yang kebetulan juga pemilik lahan ini. Masyarakat di sini bukannya miskin, mereka mampu. Setidaknya menyekolahkan dan membeli buku-buku yang diwajibkan sekolah, mereka bisa. Tapi, untuk membeli buku-buku seperti novel atau buku-buku pengembangan diri, yang tentu saja berguna untuk menambah wawasan, para orang tua disini ...." Lela menghentikan kata-katanya sejenak. "Bang Ben tau sendiri deh, berapa harga buku,"ucapnya sambil terseyum padaku.


"Ya, aku mengerti," balasku.


"Yah, disitulah aku dan kedua temanku berinisiatif untuk membangun perpustakaan gratis ini. Kebetulan Pak Rudi, mau meminjamkan lahan miliknya untuk kami jadikan perpustakaan. "


"Oh begitu. Bagaimana kamu bisa menemukan tempat ini?" tanyaku lagi.


"Aku kerja sampingan di sekolah anak-anak berkebutuhan kusus, di daerah sini. Kebetulan istri Pak Rudi adalah kepala sekolah di tempat itu. Jadi, aku sempat bercerita tentang niatku, dan beliau menawarkan lahan ini. Kebetulan di sekitar sini juga ada panti asuhan, jadi ya, menurutku ini adalah tempat yang sangat pas," jawabnya. Kemudian Lela melanjutkan mencatat judul-judul buku yang disumbangkan Fitri untuk perpustakaan tersebut. Karena kulihat dia sedang sibuk mencatat, jadi aku hentikan obrolanku saat itu dengannya.


Hari itu aku tidak langsung jatuh hati padanya, bagiku tidak ada yang seperti itu. Jatuh cinta adalah akhir dari sebuah proses panjang. Dimana pada awalnya kita hanya saling mengenal, lalu mengagumi, hingga pada akhirnya kita mau tanpa ragu untuk melakukan apapun demi memperjuangkan seseorang. Itulah jatuh cinta, setidaknya bagiku, bagi kalian? Terserah ....

__ADS_1


Saat itu aku ada ditahap mengagumi Lela. Bagaimana tidak? Jika Lela mau, dia bisa saja santai-santai menghabiskan masa mudanya, menunggu waktu hingga kedua orang tuanya mewariskan toko kue terbesar di kotaku kepadanya. Tapi dia tidak melakukan itu, dia bekerja paruh waktu sebagai guru di sekolahan anak-anak berkebutuhan khusus. Lalu sempat-sempatnya dia membangun perpustakaan gratis, bersama kedua temannya. Aku tidak melebih-lebihkan Lela. Jujur saja, mungkin banyak manusia yang berfikir untuk melakukan sesuatu yang baik untuk lingkungan sosialnya, akupun seperti itu. Tapi, apakah pada akhirnya kita benar-benar melakukan apa yang kita pikirkan?


Rasa kagumku kepada Lela itu seperti sel dalam tubuh yang mengalami kerusakan gen dan tumbuh menjadi kanker. Sel kanker tersebut tumbuh tak terkendali dalam diriku. Pada stadium 0, kanker ini menciptakan rasa rindu. Lalu pada stadium 1, 2 dan 3, aku merasakan butuh, nafsu, dan ego. Kemudian pada tahap terakhir di mana kanker ini semakin parah, diriku dipenuhi dengan perasaan rela. Rela melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.


__ADS_2