KETIKA GUS JATUH CINTA

KETIKA GUS JATUH CINTA
Nilai


__ADS_3

"Kapan nduk?" Mbah Kina mendudukan dirinya disamping Nilna cucunya


"Hari ini mbah..." menoleh ke arah mbah Kina


Mbah Kina mengusap lembut kepala Nilna


"Yaudah, mbah bantu beres-beres ya" Mbah Kina ikut mengambil beberapa pakaian yang di lemari


Dari depan Nonik sudah berteriak, memanggil Nilna


"Mbak Nilnaa.... ini lho di cari mas Danang!" Berteriak dengan keras agar terdengar sampai kamar Nilna, karena Nonik sedikit mager (males gerak) ke kamar Nilna


"Mbakkkk... ditunggu di depan lhoo !" kembali berteriak


"Apa'an itu si mbah, Nonik berisik!" menutup telinga, dengan cepat Nilna memasukkan barang barang ke dalam koper. Ia bergegas ke kamar mandi...


"Kamu mandi dulu ya! biar mbah samperin Nonik" melihat Nilna hendak masuk kamar mandi. Langsung keluar menghampiri Nonik


Nilna hanya menjawab dengan anggukan kepala


"Eee... ada nak Danang, koq ndak di suruh masuk Nik?" menatap Danang kemudian menatap Nonik


"Udah tak suruh masuk mbah, lagian di dalem sama di sini kan sama saja"


Tap


Tap

__ADS_1


Mendekati Danang


Disatu sisi Danang mencium tangan mbah Kina, sebagai tanda hormatnya


"Jadwal kamu hari ini apa nak Danang?" Tanya mbah Kina


"Tidak ada kegiatan mbah, Saya hanya ingin bertemu Nilna"


"Oh begitu, kebetulan Nilna lagi mandi. Mbah boleh minta tolong sama kamu nak?"


"Tentu boleh mbah, dengan senang hati" Jawab Danang begitu senang karena ia berpikir bisa mengambil hati mbah Kina


"Tunggu sebentar!"


berdiri


ke belakang


Mbah Kina mengambil beberapa bibit cabai yang berada di keranjang di gantung diatas pot bunga, kemudian mengambil pupuk


"Tolong bantu menanam ini yaa !" memberikan bibit bibit itu pada Danang


Udah dandan cakep gini masak di suruh berkebun, nanti ya bisa mandi lagi gue (batin Danang)


Dengan terpaksa Danang menerima bibit itu, kemudian mengikuti arah langkah mbah Kina. Menuju lahan kosong yang hendak di tanami.


"Kita sudah sampai !" mbah Kina berhenti

__ADS_1


"Kamu cangkul dulu tanahnya!"


"Cangkulnya ada disana!" Mbah Kina menunjuk sebuah gubuk dekat kebun itu


"Baiklah mbah, saya ambil dulu" Danang sedikit berlari mengambil cangkul yang dimaksud mbah Kina


Akan ku nilai seberapa tulusnya dirimu pada cucuku nak Danang (ucap mbah Kina dalam hati)


"Ini di cangkul semua ya, sebelum dicangkul pupuknya di sebar dulu biar merata"


"Iya mbah, saya akan menyebar pupuknya dulu" tersenyum seraya berjalan mengambil pupuk


Karung pupuk terbuka...


Pupuk apa ini? kenapa bau sekali (batin Danang)


Dengan sangat terpaksa ia membopong karung pupuk tersebut, dan sedikit menahan napas


" Emang sedikit bau nak Danang, karena terbuat dari kotoran kambing. Tapi ini sangat bagus sekali untuk tanaman. Kualitas pupuk kandang dari kotoran kambing mampu meningkatkan unsur hara jika dicampur sebelum memulai proses fermentasi. Kandungan unsur N, K dan Ca juga tinggi. Pupuk jenis ini cocok digunakan untuk merangsang tumbuhnya buah dan bunga" mbah Kina menjelaskan fungsi pupuk itu


Mbah Kina embuka karung yang mulanya tertutup, mulai mengambil satu genggam pupuk dengan tangan. Mengajarkan Danang bagaimana cara memberi pupuk yang baik, dan pas sesuai dengan takaran.


Sementara Danang?


Iya, ia hanya menganga memikirkan bagaimana cara agar ia bisa memegang pupuk tersebut tanpa merasa jijik sedikitpun.


Sedikit demi sedikit ia mulai mengikuti gerakan mbah Kina...

__ADS_1


Sampai pada genggaman ke lima?


__ADS_2