KETIKA GUS JATUH CINTA

KETIKA GUS JATUH CINTA
Keputusan


__ADS_3

Harapan yang tersemogakan, tamu datang silih berganti. Senja pergi tanpa tapi, dan selalu datang tanpa permisi. Untuk jiwa-jiwa yang sepi, hati yang kian selalu dihantui oleh rasa bimbang. Pasrahkan semua pada-Nya, yakinlah semua akan baik-baik saja. Jalani apa yang sudah digariskan waktu pada takdir yang telah Allah beri.


Ini sudah hari ketiga, apakah Nilna sudah menghafalnya? apa mungkin dia akan berubah pikiran? Biarlah waktu yang memberi jawaban atas doa-doa yang kupanjatkan. Akhir-akhir ini dia selalu muncul dalam mimpiku, bayangannya selalu menari-nari dipikiranku. Astaghfirullah (Ucap Zaki dalam hati)


Zaki duduk dikursi depan pesantren utama, sambil menikmati secangkir kopi hitam manis didepannya. desiran angin mengingatkannya tentang suatu hal


FLASHBACK


"Zaki, kamu habis dari mana? koq pakai mobil segala" Tanya umi


"Ini mi, tadi ada santri yang kabur dari pesantren. Eh, dianya malah malah pingsan"


"Sekarang dia dimana?" Umi mencarinya didalam mobil Zaki


"Dia sudah sadar mi, terus Zaki ajak ke butik. Bayangin aja mi, dia keluar dari pesantren tidak memakai jilbab?"


Seketika umi langsung kaget mendengar cerita Zaki


"Astaghfirullah, bagaimana bisa? sepertinya keamanan dipesantren harus diperketat lagi. Lalu kamu tahu siapa namanya?"

__ADS_1


"Na... Na.. siapa gitu mi, Zaki lupa" Zaki mengingat-ingat nama santri itu


"Nilna?" Umi langsung menebak nama yang disebutkan Zaki


"Iya mi"


Tiba-tiba terdengar suara telephone, umi mengangkat telephone itu. Tanpa sengaja umi menekan tombol speaker...


"Assalamuailaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh"


"Waalaikumsalam, ibu nyai. Ini saya, mamahnya Nilna mau menanyakan suatu hal"


"Tadi saya melihat Nilna di mall, dia pingsan terus digendong laki-laki. Saya khawatir sama Nilna, apa bener Nilna tidak ada di pesantren? saya takutnya malah dia diculik bu. Saya ikutin mobilnya malah berhenti dibutik, kemudian kepesantren. Anak saya ditinggalin disana. Saya mohon penjelasannya dan pertanggung jawabannya, karena saya sudah percayakan putri saya di pesantren ibu"


Zaki menyela pembicaraan,


"Sebentar mi, biar Zaki yang menjelaskan" menghadap ke arah uminya, dan mengambil alih telephone


"Mohon maaf bu, ini saya Zaki putranya umi. Sebenarnya tadi putri ibu, menyelinap keluar dari pesantren. Dan tidak menutup auratnya, pas saya pergoki dia malah pingsan. Niat saya mau membawa dia kerumah sakit, pas di perjalanan malah tersadar. Jadi, saya ajak dia ke butik untuk membeli pakaian yang sewajarnya di pesantren. Dan juga saya akan bertanggung jawab atas hal ini, saya akan menikahi putri ibu"

__ADS_1


Mata umi berkaca-kaca mendengar perkataan Zaki


"Baiklah kalo begitu, saya rasa kamu anak yang baik. Kamu pasti bisa membimbing anak saya dengan baik. Tolong kasihkan telephone-nya sama ibu nyai"


"Saya juga mohon maaf mah, kurang menjaga putri mamah dengan baik. Besok akan saya perketat lagi keamanan di pesantren, khususnya pesantren putri" Ucap umi dengan tegas


"Saya yang harusnya minta maaf bu, saya akan segera ke pesantren untuk membicarakan tentang pernikahan Nilna lebih lanjut bu"


"Baik mah, nanti telephone saja kalo mau ke pesantren"


"Iya bu, Wassalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Panggilan pun berakhir dengan ucapan salam, dan umi termenung melihat Zaki


"Umi bangga sama keputusan kamu Zak? tapi apa kamu yakin?" Tanya umi


"In syaa Allah Zaki yakin mi"

__ADS_1


"Yaudah, kalo gitu biar nanti umi bicara sama Nilna" umi langsung keluar dari pesantren utama menuju pesantren putri.


__ADS_2