
"Iya gapapa banget ustad" Jawab Zaki sambil cengar-cengir
"Zaki sepertinya sudah tidak sabar haha" sambung ustad Ghufron
Nilna mukanya sudah merah padam, karena menahan malu
"Sudah-sudah jangan godain Nilna seperti itu, masak mau nikah dirumah sakit" umi sekilas menengok Nilna, ia tahu bagaimana perasaan calon mantunya itu
"Nggak papa bu nyai, Nilna pasti mau" mama Nilna sedikit menyenggop lengan anaknya
"Nanti kan resepsinya bisa di atur lagi, sekarang boleh akadnya dulu"
"Kamu siap kan sayang ?" tanya mama Nilna
Seisi ruangan memandang Nilna, ia masih belum menjawab pertanyaan mamanya
"Kalo Nilna nggak mau jangan di paksa, kan bisa dilaksanakan dilain hari" ucap Zaki
"Bu... bukan begitu. Aku hanya malu" jawab Nilna
"Jadi kamu mau?" tatap Zaki
Nilna menganggukan kepala tanda bahwa ia setuju akad nikah dilaksanakan pada hari itu juga.
__ADS_1
"Alhamdulillah" Jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu
Nilna tidak meminta mahar yang terlalu berat pada Zaki, karena tahu kondisi sang suami saat ini.
"Tapi aku ingin berbicara pada ustad Zaki sebentar, ehh berdua, apa boleh? 3 menit saja" menatap mama dan umi
"Tentu saja, kalo begitu kami akan keluar sebentar ya nduk, inget jangan lama-lama. Setelah sah baru boleh lama-lama" goda
Nilna tertunduk malu sambil menyunggingkan giginya
"Gus, eee... iii..." sambil memainkan jarinya
"Apa? kamu belajar huruf vokal? haha" goda Zaki
"Bukan ! masih aja nyebelin ya. Aku mau saat nanti resepsi dibawakan hantaran yang aku inginkan, beserta merk2 ini" Nilna menunjukkan catatannya
"Lalu maharnya ini nanti kamu mau apa?" tanya Zaki
"Terserah kamu aja !" jawab Nilna
"Ehh... enggak, aku mau... mau Al Qur'an Surat Ar Rahman" jawab Nilna
"Kamu serius?" tanya Zaki
__ADS_1
"Iya, udah jangan tanya terus" Nilna lansung keluar meninggalkan Zaki
Akad nikah yang sangat sakral pun digelar di rumah sakit, dengan bermodalkan kesiapan hati dari Nilna dan Zaki.
Zaki melantunkan Surat Ar Rahman dengan sangat merdu, tak kuasa Nilna menahan air matanya. Sekarang ia sudah menjadi istri orang lain.
Selesai Ijab Qobul, Zaki memegang pucuk kepala Nilna seraya membacakan doa, lalu mencium kening dengan sangat lembut.
Lalu Nilna, membalas dengan mencium tangan Zaki yang sekarang sudah menjadi imamnya, menahkodai jalannya kapal ke samudera kehidupan.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri" ucap ustad Ghufron
"Zaki, papa titip Nilna ya, jangan kamu sakiti hati dan jiwanya. Jaga Nilna seperti papa menjaganya, jika dia salah bimbing sampai bisa. Jangan malah disalahkan, papa percaya sama kamu. Tolong ingat amanat papa dengan baik" ucap papa Nilna sambil memegang pundak Zaki
"Iya pa, terima kasih telah mempercayai Zaki, Zaki akan berusaha membuat Nilna bahagia" menleh ke arah Nilna
Sementara Nilna masih menangis haru "Ma...."
"Udah jangan nangis terus, kayak dipaksa nikah aja haha"
mama Nilna menengahi suasana haru itu, dalam lubuk hati yang terdalam sebenarnya mamanya juga sedih. Tapi mamanya lega, ia mendapatkan mantu yang tepat. Yang bisa membimbingnya ke surga-Nya kelak.
"Na, kamu jadi istri yang baik. Kalo mau kemana-mana harus izin suamimu dulu. Sekarang ridho Allah ada pada ridho suamimu bukan mama atau papa lagi ya. Jadi istri yang sholihah, patuhi perintah suamimu selama masih dijalan Allah"
__ADS_1
Nilna langsung memeluk mamanya dengan menangis sesenggukan
"Iya maa hiks hikss"